
Pekatnya hitamnya kesengsaraan, kekecewaan yang tiada banding, berlarian entah kemana.
pada saatnya tiba, tiap kuncup bunga masih enggan untuk bermekaran, pada saatnya mewangi, namun layu yang didapat.
terkadang banyak sekali pertanyaan menyelimuti diri.
akan seperti apa jika garis yang sudah di atur Tuhan aku belokkan sedikit sesuka hati?
apakah akan lebih baik?
atau malah hancur berantakan?
Kita hanya manusia, segala yang diperbuat akan di mintakan pertanggungjawabannya kelak.
Kita hanya manusia, yang hanya bisa berencana tanpa tahu akan akhirnya.
Kita hanya manudia, dengan segala tingkah laku seakan-akan hidup kekal selama-lamanya.
seringkali kita lupa dengan apa yang di namakan Takdir. kita tidak bisa mengubahnya.
Jodoh, Maut dan Rezeki sudah Ia atur sedemikian rupa ketika kita masih berusia empat bulan dalam kandungan.
apakah adil??
tentu saja iya.
Tuhan lebih tahu tentang apa yang di butuhkan oleh hambanya.
jadi Jalani saja apa yang ada.
*
Kinan menatapku, raut wajahnya masih saja sayu.
"iya, aku mau" jawabnya
__ADS_1
aku melepaskan tanganku dari kepalanya, lalu kembali menyetir.
Beberapa waktu kemudian kami sampai di rumah Ibu. terlihat sudah sangat sepi, hanya lampu depan yang menyala.
ku tengok rumah tetangga juga tidak ada lagi tanda-tanda manusia masih terjaga, semuanya tengah berkutat dalam mimpinya masing-masing, hidup dalam tidurnya masing-masing.
aku parkirkan mobilku ditempat biasa.
"ayo" ajakku sembari berjalan mendahului Kinan.
Kubuka Pintu Rumah, terasa sedikit hangat terasa.
"kamu mau makan dulu?? atau langsung istirahat?" tanyaku sembari melepas sepatu.
Kinan duduk di sofa ruang tengah, merebahkan tubuh mungilnya.
"Kalau begitu kamu istirahat aja ya di kamarku, biar aku yang tidur disini" lanjutku
Kinan lantas berdiri dan berkata.
"cuma, pinjam selimut boleh?" lanjutnya memohon
"enggak apa-apa Kin, ayo aku antar ke kamar" ajakku meraih tangannya
"beneran?" tanyanya sedikit agak ragu
"iyaaa beneran" jawabku sembari menggiringnya ke kamarku.
aku buka pintu kamarku, dan masuk, lalu menyalakan lampunya.
"kalo kamu lapar, di meja kerjaku ada sedikit cemilan buat pengganjal perut, selimut ada di lemari kecil samping lampu tidur" ucapku sembari menunjukan kepada Kinan
"selamat tidur" lanjutku seraya menutup pintu.
kulihat Kinan tersenyum, dan yang kudengar ia sempat berucap "terimakasih".
__ADS_1
Aku beranjak dari depan kamar, lalu menuju ruang tengah untuk beristirahat.
sebenarnya perutku sedikit, bukan sedikit sih, tapi emang lapar.
akhirnya aku memutuskan untuk ke dapur mencari apa yang bisa di makan.
ku buka tudung saji, dan ternyata Ibu sudah masak untukku.
*
Keesokan harinya aku bangun agak siang, Kudengar Muadzin di Mesjid sudah mengumandangkan Iqomah nya, pertandan Sholat akan segera dimulai.
aku bergegas ke kamar mandi untuk bersih-bersih.
ketika hendak mengambil air wudhu, kulihat Kinan keluar dari Mushola Rumah bersama Ibu.
aku terkaget melihatnya, ku usap-usap mataku, tak percaya dengan apa yang aku lihat.
"Enggak, ini bukan seperti yang kamu fikirkan, aku cuma nemenin Ibu" ucap Kinan sembari tertawa melihat tingkah konyolku.
"tadinya Kinan mau bikin sarapan buat kamu, tapi Ibu bilang kita buat sama-sama aja, biar sambil belajar masak makanan kesukaan kamu" kata Ibu sembari merangkul Kinan.
"yaudah sana kamu Sholat dulu, Ibu mau ke dapur, ayo Sayang" lanjutnya.
Hola apa kabar semuanya??
semoga selalu sehat ya 😇
di situasi seperti sekarang ini jangan lupa untuk selalu menjaga kebersihan diri ya, cuci tangan paling penting.
semoga pandemi ini segera berakhir, dan kita bisa ber aktifitas normal kembali.
stay safe and stay healthy.
jangan lupa Berdoa 🌻
__ADS_1