ISTIKHARAH CINTA

ISTIKHARAH CINTA
Dermaga Terakhir? #2


__ADS_3

Tiga Hari Sebelum Selesai


"Allahu Akbar, Allahu Akbar......"


terdengar suara Adzan subuh berkumandang, ku usap wajahku, kulihat Ricky sudah tak ada ditempat, aku duduk di kasur, sesekali ku regangkan badanku ke kanan, ke kiri, Kalender sudah hampir penuh dengan coretan-coretan pertanda waktu kami disini tinggal menghitung hari.


aku beranjak dari tempat tidurku dan bergegas untuk segera membasuh tubuhku dan bersiap-siap memulai hari ini.


kulihat para santri tengah berjamaah melaksanakan Sholat Subuh, Sementara itu aku melanjutkan berjalan menuju kamar mandi yang letaknya persis di samping Mushola.


setelah selesai, aku lantas menuju Kobong, dengan handuk yang masih ku gantungkan di lengan, sedang tangan terus saja menggenggam sebuah gayung berisi peralatan mandiku, ditengah perjalanan seseorang menyapaku.


"Assalamualaikum Kak Jhonathan"


aku menengok ke arahnya,


"Ayu" ucapku


lantas menjawab salamnya


"Waalaikumsalam"


ia mendekat ke arahku dan memberiku sepotong roti yang sedari tadi ia genggam.


"ini buat sarapan kak Jhonathan"


aku menerimanya, namun dengan wajah yang masih saja terheran-heran.


"Ayu kenapa ada disini?? bukannya santriwati gak boleh ya dateng ke pondok Cowo??" tanyaku memastikan.


"nganu kak, tadi udah minta izin ko ke Kyai Arif"


"terus apa katanya?"


"yaa monggo, asal jangan aneh-aneh katanya"


wajahnya memerah, tangannnya terus saja memegangi ujung bajunya, pertanda ia tengah gugup.


aku tersenyum melihat tingkahnya yang konyol dan berkata.


"yaudah jadi gimana?? ada yang perlu Kakak Bantu?"


namun ia hanya menggelengkan kepalanya


"yaudah kalo gak ada, kakak Ke Kobong dulu ya, mau siap-siap ke Klinik, kamu jangan lama-lama disini ya, tar dimarahin Ustadzah kamu loh"


"yowis, jangan lupa dimakan ya Kak Rotinya, tenang Ayu gak nyampurin yang macem-macem kok beneran"


"iyaaaa makasih ya, Assalamualaikum" ucapku


lalu beranjak dari hadapannya.


sesampainya di kobong Ricky sudah siap dengan semua perlengkapannya, lalu menyodorkan sebuah amplop kecil.


"nih jo, gak tau dari siapa, tapi tulisannya sih buat lu" ucap Ricky


"apa lagi ini ya Tuhan" jawabku sembari mengambilnya dari tangan Ricky


"dah banyak fans nih ye, kemaren Ayu, sekarang siapa lagi?? terus itu dapet Roti dari siapa coba?? pake dibentuk Hati segala"


sontak kulihat roti yang ada di genggamanku, dan baru tersadar dengan bentuknya, memang seperti Hati yang sangat rapih.


aku menggeleng-gelengkan kepalaku, lalu tertawa


"hahahah baru nyadara loh Ky gw, kirain Roti biasa, ini dari Ayu, tadi dia nyamperin gw pas mau kesini, terus ngasih ini"

__ADS_1


"terus apa katanya?? lu ditembak??" tanya Ricky sembari mendekatkan wajahnya kehadapanku


"terus lu terima?? apa lu tolak?? ceritain dong" ucap Ricky sambil menggoyang-goyangkan bahuku.


"kagak, Ayu kaga bilang apa-apa, yaudah sih ahhh ko malah ngebahas Ayu sih"


"boong lu jo, pasti lu tolak kan?? ihhh jahat lu jo, pasti sekarang si Ayu lagi nangis gara-gara lu"


"beneran Hartono.... nih lu mau gak?? lumayan buat ganjal perut sebelum sarapan " lalu ku potong roti tersebut dan membaginya dengan Ricky.


Ricky menerimanya dan langsung melahap dalam satu kali lahapan, dengan mulut yang masih penuh ia berkata.


"memang ya, sesuatu yang dibikin dengan penuh cinta itu bakalan lebih ada rasanya, hahah, yaudah Jo gw berangkat duluan ya, ada yang perlu gw urus dulu"


aku hanya mengacungkan jempol ke arahnya.


tak berapa lama akupun menyusul Ricky ke Klinik, sesampainya disana sudah banyak pegawai yang datang, namun Ricky dan Citra tak nampak keberadaannya.


"Assalamualaikum bu, Citra sama Ricky belum datang kah??" tanya ku ke bu Siti


"sudah mas, daritadi pagi, cuma barusan izin pergi ke Pondok Putri mas" jawab bu Siti sembari melipat tangannya di atas meja


"ohhh baik, bu sudah sarapan??"


"sudah mas" jawab bu Siti sembari tersenyum


"saya juga izin keluar dulu ya bu, nanti kalo PaDe nyariin saya, bilangin aja saya sarapan dulu"


"okk Mas Jhonathan"


"makasih bu"


bu Siti mengangguk, sementara aku bergegas menyusul Citra dan Ricky ke Pondok Putri.


di tengah perjalanan aku bertemu Zahra, kulihat ia tengah menjinjing tas belanjaan yang penuh dengan sayuran, disampingnya ditemani seorang santriwati.


ia menoleh lalu berhenti.


"dari pasar??" tanyaku


"nggih mas, Mas Jhonathan mau kemana toh??" jawabnya


"kebetulan mau ke Pondok Putri"


"kalo begitu mari sama-sama aja " pintanya


sekejap aku hanya terdiam, lalu Zahra memerintahkan Santri yang menemaninya untuk berjalan mendahului kami.


"Intan duluan aja yo, ntar mba nyusul"


"nggih mba"


setelah ia berlalu, Zahra berkata


"Mas Jhonathan Lusa terakhir ya disini??"


"iya nih, cepet banget ya"


kami bercerita sembari berjalan menuju Pondok


"sini biar mas yang bawa " pintaku seraya mengambil tas belanjaan yang sedari tadi Zahra genggam.


"marurnuwon nggih mas"


"Zahra, kamu gak ada rencana buat kerja di kota ?" tanyaku

__ADS_1


"untuk sementara ini belum mas, kan Zahra udah pernah bilang kan ya"


"ohhh iya, kan udah pernah cerita"


lalu beberapa waktu kami terdiam tak berkata, sampai pada akhirnya aku memberanikan diri untuk membuka pembicaraan.


"Zahra..." ucapku


"nggih" jawabnya


"soal yang waktu itu.." aku terdiam tak melanjutkan perkataanku.


"soal yang mana??" tanya Zahra


"nggak jadi."


"kenapa to mas?? "


"nggak, nggak jadi, belanja apa aja kayanya banyak banget" tanyaku mencoba mengalihkan pembicaraan


"Mas, Zahra tahu apa yang hendak Mas Jhonathan sampaikan, memangnya apa sih yang bikin mas Jhonathan tetap menunggu Zahra??"


"ini harus di jawab kah?"


"kalo mas Jhonathan ndak keberatan yo monggo di jawab, tapi kalo keberatan yo ndak usah dijawab juga gak apa-apa"


"Zahra inget gak?? dulu sebelum mas pergi ke kota, mas pernah bilang bakal kembali lagi kesini ngejemput Zahra buat main ke Kota??"


"kapan to?? emangnya pernah yo??"


"beneran nggak inget ya?? yaaa wajar aja sih dulu kan Zahra masih Bocah, heheh"


"jadi cuma itu to alasannya??"


"yaa enggak, ada banyak hal yang belum bisa mas ceritakan ke Zahra"


"loh kenapa to?? mbo yo ceritain aja to mas" pintanya


"nanti ada saatnya kamu akan tahu semuanya, tapi bukan sekarang"


"hmmmm tar nyesel loh mas kalo nda diceritain sekarang"


"nggak apa-apa, yang bakalan nyesel pasti kamu" ucapku sembari menyenggol bahunya


"kenapa jadi Zahra??? pasti Mas Jhonathan yang bakal nyesel, kita liat aja, heheh"


"kamu ngeselin ya Ra"


"ngeselin gini juga tapi mas pernah suka kan??"


"bukan pernah, tapi masih dan mas janji gak akan berubah"


ia berhenti lalu berkata.


"Mas jangan membuat Janji yang belum tahu akan tertunaikan atau tidak"


lalu aku berbalik arah menghampirinya.


"maka dari itu, untuk membuat janji mas tertunaikan, izinkan Mas untuk bersama-sama dengan Zahra, izinkan Mas untuk menjadi Sebagian dari perjalanan panjang Zahra, Mas janji akan menjadikan Zahra sebagai dermaga terakhir dari panjangnya perjalanan Mas selama ini, percayalah"


"Sebenarnya ada sesuatu yang harus Zahra sampaikan juga ke Mas Jhonathan, Sore nanti temui Zahra di Bukit biasa, disana akan Zahra ceritakan apa yang sebenarnya Zahra rasakan selama ini, makasih ya mas udah bantuin bawain belanjaan Zahra, untuk selanjutnya biar Zahra aja yang bawa, Mas kembali lagi aja ke Klinik, takutnya ada pasien, Zahra duluan yo mas, Assalamualaikum"


"baiklah, mas akan tunggu Zahra, sampai nanti ya"


ia mengangguk lalu berlalu dari hadapanku, sementara aku memperhatikannya sambil masih berdiri mematung.

__ADS_1


pada akhirnya aku memutuskan untuk kembali saja ke Klinik dan mengurungkan niatku untuk menyusul Ricky dan Citra.


__ADS_2