
Agama bukanlah alasan untuk manusia tidak saling mencinta, tiap agama mengajarkan untuk saling mencintai dan mengasihi sesama.
tak ada Agama yang mengajarkan tentang kebencian, atau membeda-bedakan.
Tuhan menciptakan Adam sendirian, tanpa memiliki Agama, lalu Tuhan kembali menciptakan Hawa untuk menemani sang Adam.
mereka tak dapat memilih satu sama lain, diciptakannya mereka untuk saling melengkapi satu sama lainnya.
begitupula dengan Manusia, ada lelaki dan perempuan, meski bedanya kita bisa memilih bagaimana pasangan kita kelak, baik atau tidak perilakunya, lembut atau kasar tutur katanya, hitam atau coklat rambutnya.
meski dapat memilih, tapi tetap Tuhan sang pengatur, sebelum lahir Tuhan sudah menakdirkan kita dengan siapa akan bersama.
siapapun itu, darimana pun asalnya, seperti apapun kondisi fisiknya, pun dari Agama apa saja.
tugas kita hanya memperbaiki diri dan terus meminta kepada yang kuasa agar diberi Jodoh yang terbaik, Jodoh yang sesuai dengan apa yang kita butuhkan, bukan sekedar keinginan saja.
Terus semangat yaaa!
bagaimanapun kondisimu sekarang, aku akan tetap setia mendampingimu 😊
*Kami tiba di Stasiun, bawaan kami tak cukup banyak, hanya satu tas ransel yang ku gendong, dan satu tas selempang andalanku ketika hendak berpergian.
begitu pula dengan Kinan, yaaa meski barang bawaanya lebih banyak dari aku, tapi sepertinya ter packing dengan amat sangat rapih.
aku menoleh ke arahnya, Kinan masih saja berkutat dengan telephone genggamnya.
*ketik ketik ketik ketik*.
suara keyboard hanphone yang terdengar sangat runyam di telinga.
"Kin.... Kinan..." ucapku
"mmmm??" jawabnya tanpa menoleh ke arahku, tangannya terus saja mengetik dengan sangat lincah.
"Melody Kinanti Lontoh" kembali aku memanggilnya.
ia relfek mematikan handphone nya dan menoleh ke arahku.
rasanya nada bicaraku biasa saja, tapi Kinan terlihat shock.
aku tertawa melihat ekspresi lugunya.
__ADS_1
"hahahah.... kenapa sih??? dari tadi sibuk terus mainin hp?"
"mmmm enggak, aku barusan ngabarin Ibu kalo aku udah di Stasiun"
"yaudah ayo, bentar lagi kereta kita datang"
ia mengangguk, Koper yang ukurannya lumayan besar aku tarik sepanjang jalan.
aku berjalan mendahuluinya, sesekali aku menoleh ke arah Kinan yang berusaha mengimbangi langkahnya dengan langkahku.
aku terhenti sejenak lalu merangkul bahu mungilnya, dan kami berjalan beriringan.
"tunggu disini dulu ya, aku mau ke Toilet sebentar" ucapku lalu beranjak pergi menuju Toilet.
ia hanya mengangguk lalu kembali membuka telephone genggamnya.
tak lama aku selesai, dan kembali ke ruang tunggu, dimana Kinan sedang menungguku.
"masih lama ya?" tanya Kinan
kulihat kakinya tak bisa diam, seperti orang yang tengah gugup.
ia hanya menggelengkan kepalanya, namun ku tahu ia sangat gelisah, aku mendekatkan diriku ke sampingnya, lalu kembali merangkul bahunya lantas berkata.
"Tenang, jangan di fikirin, kita akan hadapi ini sama-sama, seperti apa yang tadi pagi kamu bilang, bahwa bagaimanapun nanti, aku akan tetap bersamamu, aku gak akan nyerah begitu saja, kita jalan sama-sama ya... percaya aku."
Kinan mengangguk dan menyandarkan kepalanya ke bahuku lalu berkata.
"aku takut.." ucapnya lirih
"tak perlu ada yang di takutkan, kan ada aku" jawabku sembari mengusap kepalanya.
Kereta Mutiara Selatan keberangkatan rute Jakarta tujuan Bandung akan segera berangkat , di harapkan kepada para penumapang untuk segera memasuki Kereta dan duduk di kursi sesuai dengan nomor yang tertera di Tiket, pastikan barang bawaan anda tidak ada yang tertinggal, terimakasih
suara pengumuman dari awak gerbong kereta terdengar nyaring. kami bergegas menuju kereta untuk segera mencari nomor kursi kami.
kami duduk di kursi yang berdampingan.
beberapa kondektur mulai mengecek apakah masih ada penumpang yang tertinggal atau tidak.
beberapa lainnya mulai mengecek tiket tiap penumpang.
__ADS_1
tak lama roda kereta mulai bergerak secara perlahan lalu meluncur dengan amat sangat cepat menembus kerumunan dan melintas panjangnya rel.
suaranya terdengar sangat riuh, Kinan masih saja terlihat gelisah, ku genggam tangannya, dan ia menoleh ke arahku.
"Bismillah" ucapku sedikit berbisik ke arahnya.
ia mengangguk dan seketika menghela nafas panjang-panjang lalu memejamkan matanya.
aku terhanyut dibuatnya.
tangannya tak pernah lepas dari genggamanku
sepanjang perjalanan dari Jakarta menuju Bandung.
dalam hati aku bergumam.
"Ya Allah, langkahku akan semakin panjang, dan terus memanjang, sudah sejauh ini, ku mohon hanya satu Ridhoilah Cinta kami, Mudahkanlah, Izinkan kami membangun Dermaga kebahagiaan yang sudah sangat lama kami idam-idamkan.
Ya Allah, lika-liku kehidupan sudah aku hadapi, segala halang rintang sudah aku lewati, maka berilah hamba perasaan yang lebih kuat lagi, untuk menerima segala hasil dari ini semua....
izinkan aku merasakan Bahagia untuk sekali lagi"
Beberapa Jam kami hanya terduduk di kursi masing-masing, Kinan masih saja memejamkan matanya, sedang aku mulai sedikit gelisah, apa yang akan aku bicarakan nanti?
apa mereka akan menerima diri ini?
banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang keluar dalam benak ini, aku menoleh ke luar jendela kereta, terlihat Awan putih bersih bergerombol, di atasnya ada beberapa burung yang berterbangan, pesawat terbang beberapa kali terlihat melintas di antara birunya langit yang membentang sangat luas dihias bentangan garis putih awan.
pemandangan hijau nya pesawahan, para petani tengah bercocok tanam, anak-anak berlarian di tiap jalan, aliran sungai yang jernih.
tanpa sadar aku sedikit larut di buatnya, kegelisahan yang melanda tiba-tiba hilang, sirna.
yang ada dalam fikirkanku sekarang hanyalah rasa syukur kepada Tuhan yang maha esa karena masih bisa diberi kesempatan untuk menikmati semua keindahan ini.
Kinan terbangun, menoleh ke arahku dan berbisik.
"Terimakasih sudah mempercayai aku sebagai pasanganmu"
aku hanya tersenyum di buatnya, ku lihat ia kembali memejamkan matanya, lalu menyandarkan kepalanya ke bahuku.
"Alhamdulillah, maka nikmat tuhan mana lagi yang kau dustakan" gumamku dalam hati, lalu terlelap dan memejamkan mata.
__ADS_1