
pagi itu mentari sedikit bersembunyi dari tugasnya, langit mendung meliputi sekitaran.
aku dengar semalam Zahra sudah tiba dari Kota, aku berkeliling mencari dimana keberadaan zahra, namun tak kunjung kutemui, setelah beberapa lama., aku baru tersadar dengan bukit yang minggu lalu.
Akhirnya aku segera pergi ke bukit tersebut, dan benar saja, Zahra tengah duduk dan sedikit menunduk, aku mencoba mendekat.
“Assalamualaikum”
Seketika zahra berdiri dan sedikit mengusap pipinya seraya menunduk tak ingin ada yang tahu dengan keadaannya sekarang.
“waalaikumsalam, mas ko bisa tahu zahra disini??”
Aku menghiraukan pertanyaan zahra, dan balik bertanya.
“boleh mas duduk disini??”
Sambil bergeser Zahra menyilahkanku untuk duduk..
“silahkan mas...”
Aku duduk dan menghela nafas, lalu bertanya.
“gimana kota ???” tanyaku
ia menjawab namun kepalanya tetap saja menunduk.
"yaaa seperti kota pada umumnya mas, lebih enak di kampung"
"dulu mas paling gak mau loh berkunjung atau sekedar berlibur di desa-desa kaya gini, tapi kali ini mas cabut semua perkataan itu, ternyata desa gak se jelek yang mas pikirkan, sekarang mas malah betah disini.."
"bukannya enak di kota ya mas??" tanya nya
"gak ah... di kota, kita kaya hidup sendiri, semuanya masing-masing, belum lagi ditambah polusinya, hadeuh.... ampun dah pokonya."
ia hanya mengangguk lalu terdiam kembali.
"Ra....." ucapku
ia menoleh namun tak berkata.
"kamu lagi ada masalah ya??? ceritain aja Ra... "
Zahra menggelengkan kepalanya, lalu aku berbicara.
“gak mungkin dong kamu lagi mikirin tentang skripsi???”
“yaaaa ndaaa lah wong aku dah lulus to...”
Aku hanya tersenyum.
“mas jhonatan ngapain to kesini???”
“aku gak bakalan jawab kalo kamu belum jawab pertanyaanku barusan”
__ADS_1
Zahra hanya menunduk dan terdiam.
“kalo ada masalah cerita aja, kan gitu kesepakatanyya.... lagian gak baik lohhh di pendem sendiri, emangsih mas baru kenal zahra, tapi siapa tahu mas bisa bantu zahra keluar dari permasalahan..”
Zahra masih terdiam tanpa berkata sepatah kata pun kepadaku, akupun jadi terbawa suasana..
Aku berdiri dan berteriak....
“aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa”
Zahra terkejut dengan apa yang aku lakukan, dan akhirnya dia berbicara.
“mas jhonatan kenpa tooo????” tanya zahara dengan wajah yang terlihat kaget.
Aku tertawa melihat raut muka zahra pucat karena merasa kaget.
“hahahahah, asal kamu tahu... biasanya mas kalo ada masalah suka naik ke atas genteng rumah terus teriak kaya barusan... emangsih gak nyelesaikan masalah, tapi seenggaknya hati jadi lebih tenang, coba dehhhh”
“ndak mau... ntar di sangka orang gila lagi sama warga kampung teriak-teriak senddiri”.
Sambil membujuknya aku terus megulurkan tanganku kehadapannya.
“ayoooolahhhhh...... percaya deh”
Akhirnya zahra berdiri dan berteriak
“aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa”
"masa cuma segitu, ayo lagi, lebih keras"
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa"
Lalu kami berdua tertawa terbahak-bahak sampai perut terasa sakit.. aku menoleh ke arahnya dan terlihat wajahnya sangat bahagia, terlihat tawa seperti yang tak ada beban.
(senang rasanya bisa melihat zahra ceria kembali).
Disela-sela tawa kami aku melontarkan pujianku kepadanya.
“nahhhh kalo gini kan keliatannya cantikkkkk gituh, gak kaya tadi sepet....”
Entah apa yang salah dari perkataanku, tiba-tiba zahra beranjak pergi meniggalkanku, aku merasa kebingungan, akhirnya ku coba mengejar zahra, namun zahra sudah pergi terlalu jauh.
Aku kembali ke pondok dan ditengah perjalanan aku melihat Ricky, Citra dan Pa’De tengah berbincang di bangkku yang berada di bawah pohon, akupun mendekat.
“Assalamualaikum...”
Mereka menoleh ke arahku dan menjawab salam ku.
“waalaikumsalam”
“nahhhh ini dia nihhhh bosss kita” ucap Ricky
“eitssss bentar-bentar, ini maksudnya apa???” jawabku sambil menangkis tangan
__ADS_1
“jadi gini Jo.... kita barusan lagi ngebahas tentang kegiatan terakhir kita nih sebelum pulang ke Jakarta lagi...” jelas Citra.
“owh iya iya.... jadi gimana??” tanyaku sambil duduk.
“udah...” jawab Ricky
“udah gimana nih maksud lo”
“jelasin Pa’De....” ucap Ricky sambil menekuk sebelah kakinya.
Aku menoleh ke arah Pa’De suryo, dan pade suryo langsung berbicara.
“jadi rencananya, kita mau bikin sunatan masal buat anak-anak desa sini.”
“alhamdulillah, jadi kapan nih pelaksanaannya??” tanya ku.
“insyaAlloh di minggu terakhir ini kita sudah laksanakan, nah... mulai besok kita lakukan persiapan, nanti biar Pa’De minta bantuan Zahra”
“Yesssssss” Entah mengapa aku merasa sangat semangat dan dengan sendirinya keluar kata-kata tersebut.
Seketika Pa’De, Ricky, dan Citra tertawa mendengar apa yang aku ucapkan barusan.
“ya wisss Pa’De mau ngasih tahu Zahra dulu”
Dengan sigap aku langsung berdiri dan menawarkan diri untuk mencari Zahra.
“gak perlu Pa’De, biar saya saja....”
Tanpa berpikir panjang aku langsung berlari meninggalkan tempat tersebut.
Aku berkeliling mencari dimana Zahra namun tak kunjung aku temui, setiap santri yang aku jumpai pun tak mengetahuinya, aku mencoba mencari ke bukit namun tak ada, sampai akhirnya Adzan Maghrib telah berkumanndang aku belum menemukan Zahra. Aku kembali ke Pondok dan zahra masih tek terlihat batang hidungnya.
Aku merasa lelah dan mencoba menenangkan pikiranku.
“assalamualaikum”
Aku menoleh dan terlihat Ibu tiri Zahra tengah berdiri di hadapanku.
“waalaikumsalam”
“naa Jhonatan kenapa Maghrib-maghrib gini masih disini??” tanya beliau.
Aku sempat heran, kenapa yang di bicarakan Zahra terhadapku tentan Ibu tirinya tak terlihat benar sama sekali.
“hmmmm anu Bu.... saya mencari Zahra, Ibu tahu dimana Zahra??”
Beliau terlihat sedikit agak diam untuk beberapa saat, sebelum menjawab.
“zahra ada di kamarnya, memangnya ada perlu apa na Jhonatan mencari Zahra??”
“anuuuu Bu.... saya mau minta bantuan Zahra...”
“ohhhh.. kalau begitu biar Ibu panggilkan Zahra...”
__ADS_1
“tidak usah Bu...”
Namun Ibu tiri Zahra tetap saja pergi, dan meninggalkanku yang masih saja berdiri di samping Aula Pondok.