
“yo wis... mari Sholat Isya dulu “ ajak Pade.
Ricky dan Citra Meng Iyakan ajakan pade namun tidak denganku, Aku sempat bingung harus menjawab apa.. aku hanya tertunduk tak menjawab.
Kedua temanku berjalan terlebih dahulu menuju ke dalam Mesjid, aku hanya Terdiam di depan pagar mesjid.. tiba-tiba seseorang menghampiriku.
“Mas Jhonathan?" ucapnya
Suara itu terdengar sangat lembut... tanpa aku menoleh akupun sudah bisa menebaknya bahwa itu adalah Zahra.. dan benar saja ketika aku menoleh , terlihat senyum indah menawan yang khas dari raut wajahnya yang sedikit basah karena air Wudhu.. dengan nada gugup aku menjawabnya.
"iya...." jawabku
"mas nya kenapa diluar, ayok masuk."
“Maaf Zahra, apakah semua orang diperbolehkan untuk masuk ke dalam Mesjid??”
Zahra tersenyum sambil menghela nafas dia menjawab pertanyaanku.
“yaaa tentu saja boleh Tooo mas, inikan Rumah Alloh, jadi siapa saja boleh masuk kedalamnya, asalkan niatnya baik...”
“meskipun orang tersebut sudah terlampau kotor??” tanyaku
“Allah tak pernah mebeda-bedakan umatnya mas.. asal masnya mau kembali pasti Alloh akan membuka pintunya selebar mungkin.. memangnya kenapa too mas bertanya seperti itu??”
Aku terdiam dan tanpa menjawabnya Zahra ternyata baru sadar apa maksud dari pertanyaanku, dia meminta maaf dan memastikannya kepadaku.
“sebelumnya saya minta maaf mas.. apa mas Jhonatan ini Non Muslim??”
Entah keberapa kalinya aku masih terdiam, dan Zahra mengajakku untuk masuk.
(ps: aku bukanlah non muslim, tapi aku merasa sudah terlalu lama aku meninggalkan tuhan sang pencipta, peristiwa bercerainya Ibu dan Ayah membuatku menjadi jauh dari agama, makadari itu aku merasa tak pantas untuk masuk ke tempat suci ini.)
“gak apa-apa mas masuk aja” ajaknya
Aku mengangguk dan Zahra berjalan dihadapanku untuk segera masuk kedalam mesjid karena imam telah berdiri, aku memberanikan diri untuk masuk namun hanya sampai di teras depan saja, aku duduk sambil menunggu teman-temanku selesai Beribadah.
Selang beberapa waktu teman-temanku datang dan mengajakku untuk mencari warung makan atau semacamnya...
yaaa wajar saja mereka kelaparan, bukan cuma mereka sih, akupun demikian.
selama perjalanan sampai akhirnya kami sampai ditempat ini, belum sesuap pun makanana yang masuk kedalam perut termasuk aku.
“Jooo cari makan yukkk, laper nih” ajak citra.
Ricky dengan sigap bertanya kepada Citra.
__ADS_1
“yaaa ampun.... jadi princesku daritadi kelaparan??”
“apaan sih loo Ky?? Tadi aja muji-muji kecantikan cewe-cewe sini, nah sekarang malah ngemodusin gw lagi, emang dasar cowok itu ngedeketin kalo ada maunya aja" grutu Citra sambil mengerutkan Dahinya.
“jadi ceritanya Princesku Cemburu???” Gombal Ricky
“Princas princes.... makan nih Princes “ sambil menendang kaki ricky, citrapun pergi.
“Ayo Ky....” ajak ku.
Kami menapaki jalan setapak yang ada di desa tersebut namun anehnya tak ada satupun pedagang makanan yang kami temui.
Ditengah perjalanan kami bertemu santri dari pesantren, dia memanggilku dan kawan-kawanku.
“Mas... Mbak... di cariin pak Kyai”. Teriak Bocah lelaki tersebut.
Kamipun menoleh dan menjawab.
“owhhhh iya...”
Bocah tersebut berlari mendahului kami menuju Pondok pesantren.
Setelah kami sampai, pak Kyai langsung bertanya.
Ricky dengan lugas menjawab pertanyaan pak Kyia.
“habis keliling kampung pak, nyari Warung”
Entah kenapa pak Kyai tertawa mendengar ucapan Ricky.
“disini mana ada Warung yang buka, asal ade-ade tahu, di kampung ini kalau malam waktunya buat ngumpul bareng keluarga, atau gak yaa di mesjid tadarusan, pasti ade-ade lapar kan??? Jangana hawatir keperluan ade-ade disini semuanya sudah dipenuhi dari mulai makan, tidur dan lain-lain, semuanya sudah ditanggung oleh Desa sini melalui pondok ini... jadi kalau ade-ade perlu sesuatu jangan sungkan untuk bebicara... yaaaa!” jelas pak Kyai.
Aku dan teman-teman ku baru tahu bahwa semua kebutuhan kami selama disini sudah terpenuhi oleh Desa.
Kami di ajak pak kyai masuk kedalam sebuah ruangan yang mungkin seperti aula, disana telah berkumpul banyak santri, tempat antara Putra dan Putri dipisahkan oleh bentangan papan triplek, pak kyai memberi salam dan semua santri yang ada disana seketika langsung berdiri sambil membalas salam yang dilontarkan oleh Kyai.
Aku, Citra dan Ricky mengikuti beliau dari belakang, terlihat senyum ramah semua santri pondok.
Kyai menoleh ke arah kami dan berkata.
“silahkan ade-ade semua cari tempat yang sekiranya Kosong, dek Citra gabung sama Santriwati ya disebelah kiri”
citra mengangguk dan segera beranjak dari sebelahku.
Kami merasa kebingungan dengan semua ini, aku mencari-cari tempat yang masih kosong, dan terlihat ada seorang anak yang melambaikan tangannya kepada kami, ternyata itu sahil, kami mendekat dan duduk disebelah sahil.
tiba-tiba sahil berbisik di telingaku
__ADS_1
“hari ini kebetulan ada syukuran Muharaman mas, sekaligus buat Ukhti Zahra juga”.
“syukuran buat Zahra??” ujarku
“iyaaa bebrapa minggu yang lalu Ukhti Zahra baru beres Wisuda mas”
"ohhh begitu.."
"hebat yo mas, nanti Sahil kalo udah gede juga pengen Kuliah koyo Ukhti Zahra ahhh, terus syukuran di pondok" ucao Sahil sambil tersenyum.
"bagus, tar mas Jhonathan dateng deh" bisiku.
"heheh... bener yo mas"
aku mengangguk.
Mendengar cerita sahil tentang Zahra, aku tambah kagum saja kepada wanita itu.... memang wanita idaman.
Tak lama kemudian Zahra datang dan mengucapkan salam.
“Assalamualaikum....”
Suara itu terdengar sangat lembut hingga semua orang pun akan terhipnotis bila mendengarnya.
“sebelumnya Terimakasih zahra ucapkan kepada Bapak, Ibu.. juga para santri Pondok ini, berkat doa kalian semua akhirnya zahra bisa menyelesaikan Kuliah dengan Nilai yang lebih dari cukup...”
Pandanganku tak bisa lepas dari sosok bidadari yang tengah berbicara.
“Zahra membuat acara ini sebagai rasa syukur yang telah Allah limpahkan kepada kita semua khususnya Zahra, untuk itu zahra meminta doanya agar ilmu yang telah di dapat bisa berguna bagi semuanya.”
Semua Orang bertepuk tangan dengan meriah, zahra tersenyum dan menangis terharu... Kyai beserta Ustadzah memeluk zahra dan menciumnya.
Aku sempat berpikir, seandainya ketika lulus nanti aku bisa merayakannya bersama kedua orang tuaku seperti halnya yang dilakukan Zahra.
Malam itu menjadi pengalaman pertama kami makan di atas sebuah wadah besar yang disantap secara bersama-sama tanpa memandang teman atau lawan. Semuanya makan secara lahap termasuk kami.
Setelah semuanya selesai, beberapa santri berbondong-bondong mencuci wadah bekas makannya dibawah kucuran air yang ada di sebelah Aula, beberapa lainnya membersihkan Aula.
Untuk kesekian kalinya aku merasa kagum dengan sifat gotong royong yang mereka miliki.
Hari pertama ini Kami masih sedikit canggung ketika berpapasan dengan warga kampung, kami masih berusaha beradaptasi dengan semuanya.
Dan hari ini menjadi tolak ukur untuk kedepannya.
__ADS_1
Kami tak sabar untuk segera mencapai hari-hari berikutnya.