ISTIKHARAH CINTA

ISTIKHARAH CINTA
Skenario Tuhan #2


__ADS_3

Tak lama Dokter Kinan datang bersama kedua asistennya.


Dokter Kinan (Melody Kinanti) adalah seorang dokter ahli tulang yang sudah cukup senior, meski usianya jauh dibawahku, namun profesionalitas kerjanya tak diragukan lagi.


terlihat ia telah siap dengan seragam operasinya, rambutnya di iktak cepol.


"selamat siang Dok" ucapku


"selamat siang, jadi bagaimana report nya?"


"beberapa tulang belakang dan pergelangan tangannya mengalami fraktur, untuk selebihnya kami belum menemukan dok"


*Fraktur tulang adalah istilah medis dari patah tulang atau kondisi saat hubungan atau kesatuan jaringan tulang terputus. Kondisi ini dapat meliputi retakan kecil pada tulang hingga benar-benar patah.


"okkk, sekarang kita selesaikan terlebih dahulu luka dalam, selanjutnya kita harus melakukan MRI terlebih dahulu, untuk mengetahui seberapa parah kerusakannya."


"baik dok"


*Magnetic resonance imaging (MRI) atau pencitraan resonansi magnetik adalah pemeriksaan yang memanfaatkan medan magnet dan energi gelombang radio untuk menampilkan gambar struktur dan organ dalam tubuh.


selang beberapa waktu pemeriksaan luka dalam telah selesai, selanjutnya kami membawa pasien ke ruangan khusus pemeriksaan MRI.


"Dokter Jhonathan, untuk selanjutnya biar saya yang menangani pasien. terimakasih sudah bekerja keras"


"baik dok terimakasih"


setelah pasien masuk ke ruangan tersebut, aku beranjak kembali ke ruanganku.

__ADS_1


betapa kagumnya aku dengan sosok Dokter Kinan, usianya sangatlah jauh dibawah aku, tapi pembawaanya sangatlah dewasa.


tak terasa penghujung hari telah di depan mata, aku segera membereskan semua peralatan kerjaku.


ketika aku hendak keluar ruangan, dokter Kinan datang menghampiriku.


"Anak itu sudah sadar, kata suster, Dokter Jhonathan yang bertugas sebagai wali? apa benar?"


"benar Dok, saya takut jikalau menunggu wali asli dari pasien akan memakan waktu yang lama, ditambah korban kan juga tanpa identitas"


"Dokter tahu apa konsekuensi yang akan Dokter terima atas apa yang sudah Dokter lakukan?


"saya paham Dok"


"memang ada benarnya juga apa yang Dokter lakukan, tapi semuanya kan ada Prosedurnya, gak harus terburu-buru"


"sebenarnya saya juga gak berhak menasehati Dokter, apalagi Usia dokter lebih tua dari saya, tapi... yaudahlahya gimana nanti aja, sekarang anak itu mau bertemu Dokter, jika berkenan mari ikut saya" ucapnya sembari berjalan mendahuluiku.


aku berjalan dibelakangnya.


menurut Prosedur aku memang salah, tapi apapun keputusan nanti, aku akan menerimanya.


yaaa paling kena skors.


kami masuk ke ruangan perawatan, terlihat Anak tersebut sudah siuman, namun masih berbaring di atas tempat tidur.


"Selamat Malam Dion, ini Dokter Jhonathan yang jadi wali kamu selama operasi tadi" ucap Dokter Kinan.

__ADS_1


aku mendekat.


"gimana udah mendingan?? apa masih ada yang terasa aneh??"


anak itu berusaha untuk terduduk, namun karena tulang belakang yang juga mengalami benturan sangat keras, pada akhirnya untuk sementara Dion harus berbaring terlebih dahulu.


lalu Dokter Kinan menghampirinya dan membaringkannya kembali.


"gak usah duduk dulu ya, kondisi kamu belum bener-bener normal"


"Terimakasih ya Dokter Jhonathan" ucap Dion


"Sama-sama, sekarang kamu harus istirahat dulu ya, jangan kebanyakan gerak, biar cepet sembuh" ucapku sembari duduk disampingnya.


"Dion umur berapa??? kenapa berkendara gak pake helm?? terus katanya kebut-kebutan lagi"


mendengar perkataanku, tiba-tiba Dion mengalihkan pandangannya dari hadapanku.


"kalo belum mau cerita juga gak apa-apa Nak" ucapku sembari mengusap kepalanya.


"Maaf ya dok, Dion jadi ngerepotin"


"gak apa-apa its ok, nanti kalo udah mau cerita, cerita aja yaaa, gak usah sungkan."


Dokter Kinan yang sedari tadi berdiri disampingku hanya terdiam lalu berkata


"Kalo gitu saya Pamit dulu ya Dok"

__ADS_1


"Baik, terimakasih ya Dokter Kinan"


__ADS_2