
"yaudah lah selamat ya, jangan cepet-cepet nikah ya lu berdua"
"kenapa??" tanya Citra
"tar nunggu gw punya temen buat di ajak kondangan" candaku
"yaaaaah, bakalan lama donga hahahha" Ricky dengan santaynya nyeletuk demikian.
kami akhirnya masuk ke Klinik, dan beraktifitas seperti biasa, selama bekerja kulihat Ricky dan Citra yang terus saja melemparkan senyuman satu samal lain, wajah Citra terlihat tersipu malu, sedangkan Ricky tetap saja menyangga dagunya di atas meja sambil sesekali menyipitkan matanya.
Waktu berjalan begitu saja, tanpa sadar kami sudah berada di penghujung hari, hari ini kami lalui dengan tanpa beban, semua pekerjaan terasa sangat ringan, meski hari ini pasien lumayan membludak, tapi karena dikerjakan dengan enjoy semuanya terasa biasa saja.
aku baru teringat dengan apa yang tadi pagi Zahra katakan, ia memintaku untuk menemuinya di Bukit tempat biasa.
"Ky gw ke pondok duluan ya, minta tolong nanti kalo mau pulang pastiin semua pintu terkunci, sama lampu depan jangan lupa di nyalain" ucapku
"kaya buru-buru banget lu jo?? kebelet boker ya??" tanya Ricky
aku menjawab sembari bergegas keluar Klinik
"kaga, gw ada perlu sebentar, okkk , jangan pada macem-macem ya lu pada" kataku seraya menunjuk Ricky dan Citra yang tengah duduk di meja masing-masing.
Citra hanya melirik sedangkan Ricky mengangguk lalu berkata.
"siap bosque, jangan khawatir semua pasti beres"
aku mengacungkan Jempolku lalu berjalan pergi meninggalkan mereka berdua, bukan berdua sih karena masih ada beberapa pegawai yang masih berada di klinik.
sesampainya aku di bukit, tak ada siapa-siapa, akhirnya aku memutuskan untuk menunggu saja di bale bambu tempat biasa.
waktu terus saja berjalan, namun Zahra belum juga menampakan keberadaannya.
aku sempat bergumam dalam hati, apakah mungkin Zahra lupa dengan apa yang ia bicarakan, atau ia hanya bercanda.
waktu sudah menunjukan pukul 5 sore, langit mulai gelap, suara gugur terdengar dari kejauhan pertanda akan hujan, aku masih tetap menunggu, ku menoleh ke kiri dan ke kanan namun tetap saja tak ada tanda-tanda kehidupan.
aku beranjak dari tempat dudukku berniat untuk kembali saja ke Pondok, rasanya sangat kecewa, kenapa Zahra tega membohongiku, ditengah perjalanan aku berpapasan dengan Sahil, lalu ia berbicara kepadaku.
"Assalamualaikum..." ucapnya
aku mengangguk tak menjawab salamnya.
lalu Sahil meraih tanganku dan memberikan sepucuk surat yang dilipat dengan rapih, Kertasnya masih sama seperti yang waktu itu aku terima dari Ayu, tanoa berfikir panjang aku buka lipatannya di depan Sahil.
kubaca dan benar saja dugaanku.
"Assalamualaikum... Kak Jhonathan ini Ayu, santriwati yang waktu itu, jika berkenan Ayu pingin ngobrol sama Kak Jhonathan, empat mata.
kalau Kak Jhonathan berkenan, Malam ini, sehabis Isya, Ayu tunggu di Mesjid Pondok Putri.
terimakasih.
Wassalamualaikum"
"Kata mba Ayu, suratnya harus dibalas sekarang Mas, ini pulpen sama kertasnya" ucap Sahil sembari menyodorkan Pulpen kehadapanku.
__ADS_1
aku mengangguk, lalu berjongkok menulis balasan Surat yang kuterima dari Ayu.
"maaf Yu, Saya sedang tidak enak badan, tapi kalo memang ada yang mau dibicarakan, besok datang saja ke Klinik, Saya masih ada disana untuk tiga hari kedepan.
Terimakasih"
lalu kulipat asal, dan ku serahkan kepada Sahil.
"tolong kasih ke mba Ayu ya hil, makasih"
sahil menerima suratku lalu ia masukan kedalam saku baju kokonya.
"nggih mas.."
"mau ke Pondok Putri langsung??"
"nda Mas, sebentar lagi Maghrib"
"yaudah ayo bareng aja "
kami berjalan beriringan, tanganku merangkul bahu Sahil..
"Sahil mau ikut ke Jakarta gak??" tanyaku
"ya mau lah mas, tapi nanti, kalo udah lulus dari Pondok, pokoknya Sahil mau kuliah kaya Mas Jhonathan, heheh"
"bagus.." jawabku sembari mengusap kepalanya.
setelah masuk pondok, kami berpisah karena sahil harus bersiap-siap untuk melaksanakan Sholat Maghrib.
"Yowis Mas, kulo pamit nggih, sebentar lagi Adzan Maghrib.." ucap sahil
"nggih mas.."
aku mengangguk, sebelum beranjak tiba-tiba sahil berbalik dan berkata.
"Mas Jhonathan...."
aku dengan spontan menoleh ke arah sahil
"apa Hil??"
"Ayo Berjamaah bareng aja, kata Pak Kyai Cowo itu harus di mesjid Sholatnya"
lalu aku menghampirinya, dan berjongkok di hadapannya
"gimana hil??"
"kata Mas Ricky, mas Jhonathan kalo Sholat selalu di Kamar, tapi kata Pak Kyai Laki-laki itu Sholatnya harus di Mesjid, gituloh mas"
aku sempat terdiam dengan apa yang Sahil bicarakan, aku baru tersadar ternyata Ricky benar-benar menyembunyikan aib ku..
"Iya... nanti mas Nyusul ya, mau mandi dulu, sembari nyimpan Tas dulu, Sahil duluan aja ya"
"Yowis kalo begitu, Assalamualaikum"
__ADS_1
Sahil meraih tanganku lalu berlari menuju Mesjid Pondok.
sempat aku tertegun tak bisa berkata-kata, apakah ini sebuah peringatan dari Tuhan.
"Jo... ngapain??"
dalam lamunanku aku tersadar dengan suara itu, Aku menoleh dan ternyata Ricky.
sontak aku langsung berdiri dan memeluk Ricky.
"Ky, makasih ya, Lu emang bener-bener baik sama gw, gw gak tau lagi, akan jadi kek gimana gw kalo gak ada lu"
Ricky melepaskan pelukanku lalu berkata.
"iya, iya, tapi Lu kenapa sih??"
"Makasih selama ini Lu udah mau nutupin semua keburukan gw, lu uda..." sebelum aku selesai bicara, Ricky lantas memotongnya
"Jo, bukan gw, tapi Allah.. Allah udah baik nutupin segalanya, sekarang giliran Lo buat berterimakasih, dengan cara lu sendiri, gw harap Lo ngerti"
lagi-lagi aku terdiam .
"yaudah, kalo gitu sana beres-beres dulu, mandi, ganti baju, terus tar abis Isya kita ke Pondok Putri..
"ngapain??" tanyaku
"ada yang perlu kita diskusiin sama beberapa Santriwati disana" jawab Ricky
"Okkk, sekali lagi thanks ya Ky"
Ricky hanya tersenyum kecil, lalu berjalan menuju Mesjid.
Adzan Maghrib telah berkumandang, semua santri berbondong-bondong menuju Mesjid, lambat laun Setiap Shaf mulai terisi penuh, aku hanya memperhatikan dari luar saja.
lalu memutuskan untuk kembali saja ke Kobong.
sesampainya di Kobong, aku membuka laptopku, kubuka dan kulihat setiap Potret yang ku ambil selama kami disini.
ku perhatikan setiap wajahnya, membuatku benar-benar berat untuk meninggalkan Rumah kedua ku ini.
Tok tok tok tok tok
Suara ketukan pintu, kubuka dan terlihat Zahra tengah berdiri di depan pintu.
"Assalamualaikum Zahra, kenapa malam-malam kesini??? ada yang bisa Mas bantu??" tanyaku sembari menoleh ke kanan dan kiri.
"ndak mas, Zahra cuma mau minta maaf, tadi sebenarnya Zahra udah ke Bukit, tapi Zahra balik lagi ke Pondok"
"enggak apa-apa, tapi lain kali jangan kaya gitu lagi ya.." jawabku.
"ada sesuatu yang Zahra mau bicarakan, Mas Jhonathan ada waktu??" tanya Zahra
"Iya, sebentar ya"
aku masuk kembali ke kobong, ku matikan laptopku, ku masukan kedalam tas, lalu ku bawa.
__ADS_1
"Ayo, disana aja" pintaku sembari menunjuk Bangku tempat biasa aku dan Ricky berdiskusi.
kami berjalan menujunya, duduk berdampingan, namun tak ada sepatah kata yang terucap.