ISTIKHARAH CINTA

ISTIKHARAH CINTA
ISTIKHARAH


__ADS_3

Setelah malam panjang yang aku lewati, aku benar-benar menemukan kembali ketenangan hati yang telah lama ku cari dan ku dambakan, bak menemukan Oase di tengah gurun pasir, aku seperti telah menemukannya.


Dua hari sebelum selesai


Pagi itu kami beraktifitas seperti biasanya, pergi ke Klinik, melayani Warga yang berobat, mataku sembab dan terlihat merah akibat semalaman menangis.


"Jo matalu kenapa??" tanya Citra


"kaga apa-apa Cit, semalam gw susah banget tidur, terus keknya tadi kelilipan debu nih" ucapku seraya mengucek mataku.


"beneran ya Jo?? mau gw periksa?" ucap Citra


"gak usah Cit, gw pake obat tetes aja deh kayanya"


"yaudah tunggu ya, gw ambilin dulu" Citra berlalu untuk mengambilkanku obat tetes mata.


selang beberapa menit ia datang bersama Obat tetes mata yang ia genggam


"Nih Jo" Citra menyodorkannya kepadaku.


aku mengambilnya, lalu berterimakasih.


"Thanks ya Cit" ucapku


Citra Mengangguk.


"gw bantuin deh, sinih" Citra mengambil kembali Obag tetes mata itu, lalu meneteskan beberapa tetes ke mataku.


"gimana?? udah mendingan??" tanya Citra seraya melihat-lihat mataku.


"better lah, lumayan"


"Syukurlah kalo gitu..."


"Cit..."


Citra menoleh ke arahku


"Apa Jo??" tanyanya


"Lu tau gak kalo Zahra udah dijodohin?"


Zahra menutup mulutnya pertanda sangat terkejut dengan apa yang baru aku bicarakan.


ia spontan mengambil bangku Plastik dan duduk dihadapanku.


"Serius Jo??? Sama siapa?? kok Lu bisa tahu?? Zahra Cerita?? terus gimana?? Zahra nerima??"


"satu-satu dong Cit nanyanya..."


"yaaa sorry, abisnya gw bener-bener shock parah"


"Zahra dijodohin pak Kyai sama Ihrom, awalnya Zahra keliatan Ragu gitu, tapi entahlah"


"yahhh Jo, gw ikut sedih ya, yang sabar ya, InsyaAlloh lu pasti bisa dapet yang lebih dari Zahra, Semangat!!!"


"gak apa-apa kali Cit, kalo emang bukan Jodoh ya gimana lagi, iya kan??"


"Seriusan kan Jo lo gak apa-apa, ya meski gw tau dibalik kata "gak apa-apa" lo itu tersimpan perasaan sakit yang amat menyayat."


"ahhh so tau lu Cit, kaya pernah ngalamin aja"


"Haduhhh Amit-amit dah, jangan ampe"


"ehhh lupa kan sekarang lu udah punya King Hartono, hahah"


"bisa aja lo Jo, yaudah semangat ya!! besok hari terakhir nih"


"Iya Cit, gak kerasa ya"


Citra mengangguk


"gw kedepan dulu ya Jo"


"ok"


Citra beranjak dari tempat duduknya, berlalu dari hadapanku, aku hanya terdiam memperhatikan sekitaran, lalu bergumam dalam hati.


"terimakasih sudah mau menjadi Rumah kami selama disini, aku harap kamu selalu bisa menjadi penolong setiap Warga yang membutuhkanmu"


tak terasa Sore sudah didepan mata,


Sore itu zahra menyampaikan pesan, memintaku untuk datang ke bukit belakang, entah apa yang akan zahra bicarakan.


Sesampainya disana lagi-lagi tak ada seorangpun, untuk kesekian kalinya aku merasa sangat kecewa, untuk apa sebenarnya Zahra memintaku untuk kesini namun disini aku hanya seorang diri.


aku mencoba menunggu. Namun hampir satu jam aku menunggu, tetapi zahra tak kunjung menampakan keberadaanya.


Aku memutuskan untuk kembali saja ke pondok, namun ketika hendak berbalik badan, aku terkaget dengan keberadaan zahra yang tengah memperhatikanku sambil menangis.


Aku bertanya kepadanya.

__ADS_1


“Zahra kenapa kamu menangis??”


Zahra hanya menggelengkan kepalanya, sambil sesekali menyeka air matanya.


“maafkan zahra mas..”


Suara itu terdengar terputus-putus, aku menghampirinya


“maaf untuk apa” tanyaku.


“sebenarnya zahra sudah dari tadi memperhatikan mas jhonatan, tapi..... “ perkataannya terputus


“tapi kenapa??”


“zahra hanya ingin melihat mas jhonatan lebih lama, sebelum mas jhonatan pulang ke kota esok lusa.” suara Zahra terdengar sangat lirih, matanya sudah sangat sembab, pipinya basah.


“lalu kenapa kamu menangis??”


“zahra takut tak bisa bertemu dengan mas jhonatan lagi”


“kenapa berkata demikian??” tanyaku


“esok lusa setelah mas jhonatan menyelesaikan tugasnya disini, zahra akan dinikahkan dengan mas ihrom.”


Aku hanya menghela nafas seraya menahan air mata yang berusaha melonjak untuk keluar.


Dengan berusaha tersenyum aku berkata.


“hufffft..... syukurlah kalau begitu, jadi mas gak perlu khawatir ketika nanti mas kembali ke kota, zahra sudah ada yang menjaga...”


“tapi mas ihrom bukanlah pria yang zahra inginkan”


aku meraih tangannya sambil sesekali menyeka air mata dan menjawab.


“dengar zahra..... Alloh tau apa yang baik untuk zahra dan ingat, Alloh memberi apa yang hambanya butuhkan bukan apa yang dia inginkan, tugas Zahra hanya mengikuti ketentuan Allah.." belum selesia aku berkata, Zahra memotong pembicaraanku


"Tapi kenapa Mas??"


"Jangan Tanya kenapa, karena Allah tahu yang terbaik"


“Zahra tak yakin mas....” ucap zahra


“berIstikharahlah kepada Alloh, untuk hasilnya biarkan hanya kamu yang tahu, mencoba dan bertawakal lebih baik ketimbang hanya mencela”


Suara itu membuat kami tertegun,asalnya dari arah belakang. Ketika kami menoleh terlihat Ihrom berjalan menghampiri kami.


“bagaimana kamu akan yakin... kamu saja belum mengenalku lebih jauh, Alloh tak akan membuat rencana seperti ini jikalau tak ada maksud dibalik ini semua. Percayalah.”


Aku mencoba mengusap air mataku dan berdiri menjauh dari mereka berdua seraya mempersilahkann ihrom untuk duduk disamping zahra.


“aku yakin dengan apa yang sudah Alloh gariskan untuk kita, perjodohan tak selamanya berakhir dengan tragis. Yang tragis itu karena mereka tak sanggup untuk terbuka satu sama lain, mereka tak siap untuk kembali belajar mencintai, tak ada salahnya kita mencoba, untuk hasilnya kita serahkan kepada sang pengatur (Alloh), kita sebagai manusia tugasnya hanya berusaha, jalani saja apa yang ada nanti jikalau ditengah perjalanan kamu menyerah, kembali dan mintalah pertolongan-Nya. insayaAlloh kamu bisa.”


Zahra hanya tertunduk.


"Izinkan Mas membuktikannya.." ucap Ihrom


“kamu benar-benar yakin mas??” tanya zahra


Sebelum ihrom menjawab pertanyaan zahra, aku membalikan badan dan berkata.


“apa yang dibilang ihrom ada benarnya, wanita baik akan bertemu dengan lelaki baik pula. Dan saya yakin Ihrom lah yang terbaik untuk bersanding dengan mu... “


Ihrom hanya mengangguk dan zahra hanya menunduk tak bersuara. aku menghela nafas dan melanjutkan perkataanku.


“huft..... kalau begitu saya pamit dulu.”


Ihrom berdiri dan meraih tanganku.


“terimakasih telah menemani zahra selama ini...”


Aku memeluk ihrom dan membalas perkataannya.


“jaga dia baik-baik, jangan sampai setetes air mata kesedihan keluar dari matanya, kalau sampai itu terjadi, saya akan jadi orang pertama yang menemuimu”


Aku melepaskan pelukanku dan pamit kepada zahra, ku tepuk pundaknya, sambil meninggalkan beberapa kata.


“Mas harap kamu selalu bahagia, Mas yakin hanya bersama ihromlah kamu bisa bahagia, jangan menghawatirkan Mas, Mas Ikhlas, kita memang ditakdirkan bukan untuk bersama, Doa Mas akan terus menyertai Zahra dimanapun, dan bersama siapapun . Mas Pamit ya, Jangan nagis lagi.. Assalamualaikum.”


Terlihat zahra masih menangis, sementara ihrom membalas salamku.


“waalaikumsalam...”


Aku pergi meninggalkan mereka berdua, terasa langkah ini sangatlah berat, langit terasa menimpaku, tatapanku kosong, derap langkahku tak berirama.. aku mencoba mengiKhlaskan namun ku tak bisa.


Entah apa yang harus aku lakukan...


Malam itu aku Sholat Istikharah seraya meminta petunjuk agar dimudahkan segala langkahku tanpa harus ada keraguan.


Dalam doa aku meminta.


“Ya Alloh aku telah berkelana jauh, jalanku sudah sangat panjang, perahuku sudah berlayar sangat jauh ke tengah samudera, namun aku belum juga menemukan pilihanku, Ya Alloh jikalau keputusanku untuk berhenti mencintai Zahra adalah keputusan terbaikku, aku mohon ikhlaskan lah hati ini untuk melepasnya, Ikhlaskanlah diri ini untuk melihat Zahra bahagia bersama Ihrom dan biarkanlah hati ini berkelana kembali untuk melihat ciptaanmu yang luar biasa indah. Namun jikalau keputusanku salah... maka persatukanlah kami, izinkanlah kami bersama-sama membangun dermaga kebahagiaan dihadapanmu. Aamiin..”

__ADS_1


Malam itu aku tak bisa tertidur, rasanya fikiranku sangatlah kacau.


Akhirnya aku memutuskan untuk mendinginkan fikiranku di bangku yang ada dibawah pohon tempat aku Pade Suryo dan Ricky bercerita.


Aku hanya duduk termenung memikirkan setiap perkataan yang tadi sore aku Lontarkan.


“Assalamualaikum.”


Aku menoleh dan ternyata Pade Suryo.


“waalaikumsalam.


“boleh Pade duduk..”


“silahkan Pade.”


“kenapa... nak Jhonatan belum tidur??”


“lagi susah merem aja Pade.”


“jangan bohong.. dari tadi pade perhatikan kamu ngelamun terus. Ndak baik disimpen sendirian. Ayo... siapa tahu Pade bisa bantu.”


“gak ada Pade, cuman pengen nikmatin malam-malam terakhir saya di Desa ini saja.”


Pade berdiri dan berkata.


“kalau begitu mari ikut Pade..”


“kemana Pade??”


“lohhh katanya tadi mau nikmatin Desa ini, yaa ayo pade anter ngelilingi Desa ini.”


“iya pade.”


Aku dan pade berkeliling Desa, dan suasana yang sepi membuatku berat untuk meninggalkan desa ini.


Lalu pade bertanya.


“jikalau ndak keberatan pade boleh bertanya sesuatu??”


“silahkan pade”


“sebenarnya apa yang membuat nak Jhonatan berubah haluan.”


"berubah haluan gimana Pade?" tanyaku


"iya, setau PaDe dulu Ibu dan Bapakmu orang baik-baik saja"


“hmmmm.. jadi gini pade. Bapak kan sering dinas luar kota, ibu juga sama, terus Bapak ketauan punya simpenan, akhirnya ibu dan bapak berpisah, saya jadi terabaikan, saya diasuh Paman, tapi tak lama Paman saya meninggalkan saya untuk selama-lamanya, untum kesekian kalinya saya merasa terabaikan, ya meski Ibu dan Bapak tak lepas tanggung jawab. Saya melampiaskan kekesalan saya dengan Mabuk-mabukan, narkoba bahkan saya sering membeli wanita agar saya bisa melampiaskan kekesalan saya, tapi percayalah pade... semua wanita yang saya beli hanya untuk saya sakiti tanpa sedikitpun saya menyentuhnya.”


“lalu apa yang membuat kamu kembali??”


“Zahra....” tegasku


“kenapa dengan zahra??”


“zahra lah yang membuat saya percaya akan kasih sayang yang sebenarnya, zahra lah yang membuat saya kembali, zahra yang sudah mengembalikan semuanya, namun sayang aku akan segera kehilangan sosok wanita tersebut...”


“loh kenapa??”


“zahra sudah di jodohkan dengan Ihrom pade...”


“semuanya belum terlambat... kamu masih mempunyai setitik celah..”


“saya akan menutup celah itu pade.... saya egois jika menekankan opini bahwa saya harus bersama Zahra. Saya yakin Alloh telah menyiapkan sesosok wanita tangguh seperti zahra bahkan mungkin akan lebih dari zahra.”


Pade menepuk pundakku dan berkata.


“kamu memang lelaki tangguh...”


“akupun berharap demikian ..”


“youis.... kalo begitu pade mau tanya... gimana kesan selama tinggal di desa sini?”


“seneng Pade, banyak banget pelajaran yang saya dapat selama tinggal disini. Disini semua Warganya berbaur, gak mandang harta atau tahta. Tapi yang paling akan saya rindukan adalah Suasana seperti ini Pade.. sunyi, sepi tak ada asap knalpot, tak ada suara riuh klakson. Pokoknya I gonna miss this moment.”


“kalau begitu sering-seringlah main kesini.. desa ini akan selalu terbuka untuk nak Jhonatan dan teman.”


“insyaAlloh Pade...”


Malam itu aku dan pade menghabiskan malam mengitari Desa, sampai tak terasa waktu sudah menunjukan pukul dua .


“kalo gitu pade pamit , Assalamualaikum....”


“terimakasih Pade...”


Pade mengangguk dan meninggalkan aku di depan pondok.


Aku masuk dan berusaha menutup mataku meski hanya untuk beberapa waktu saja.


esok adalah hari terakhir kami disini, semalam sepetinya Ricky sudah terlebih dahuku Packing Barang-barangnya, terlihat Ranselnya sudah sangat terisi penuh, semua perlengkapan semacam laptop dan yang lainnya pun sudah tak ada diatas meja.

__ADS_1


tinggal perlengkapanku saja yang masih tercecer di kobong itu.


Kurebahkan Tubuhku, kutatap Jam yang terus saja berputar, sampai pada akhirnya aku terlelap dalam tidurku.


__ADS_2