
“nah... mingho ini Kobong tempat Dek Jhonatan dan Dek Ricky, semoga nyaman ya... “
Belum selesai Kyai Arif berbicara, Citra langsung nyeletuk dengan seenaknya.
“lohhhh kok Cuma Jojo sama Si Hartono sih pak?? jadi saya dimana pak Kyai???”
“sebentar dulu , saya kan belum selesai bicara…”
Citra menggaruk-garuk Kepalanya, pertanda dia sangat malu.
“Untuk Dek Citra Biar Istirahat di Pondok Puti, emang mau tidur bareng Nak Jhonatahan sama Nak Ricky? tenang ndak jauh ko dari sini.”
Citra mengangguk sambil bertanya.
“ihhhh ogah.... beneran nih pak gak jauh??”
Pak kyai berusaha meyakinkan citra.
“iyoooo sekitar 300 meter dari sini…”
Citra terkejut dengan pernyataan Kyai Arif.
“haaaaaaaaaaaaah !!! yang benar aja pak, jadi saya harus jalan kaki lagi??”
kami hanya terawa mendengarnya, Kyai Arif pun melanjutkan pembicaraannya.
“biar nanti Zahra yang mengantar Dek Citra… tunggu disini njeh biar saya Panggilkan Zahra”.
"pak pak.... gak papa dah saya tidur bareng Zahra aja di runah pak Kyai, boleh kan ya?? saya udah capek pak, gak kuat jalan kaki lagi.."
__ADS_1
"boleh, boleh banget.. tapi Zahra juga Tidur di Asrama Putri, jadi ntar bareng ya disana"
"Ya Tuhan....." Citra menunduk sambil menekuk wajahnya.
"yowis tunggu dulu ya disini, dek Jhonathan sama dek Ricky istirahat dulu saja, Assalamualaikum"
Kyai Arif berjalan Meninggalkan Kami Semua di depan pintu kobong.
Aku dan Ricky Masuk kedalam, sementara Citra Menunggu di kursi yang ada di depan kobong.
Setelah kami didalam… alangkah terkejutnya kami melihat Ruangan Tersebut, tak ada Tempat Tidur yang ada hanya kasur lantai yang telah usang, Rak Buku berisi Al-Quran dan Kitab-Kitab yang sudah tak berjilid, dinding dengan cat mulai terkelupas, dan yang membuat kami Merasa Miris adalah… di Ruangan yang Ukurannya mungkin hanya sebesar kostan harga 300 ribu ini kami harus tidur bersaam 3 orang santri lainnya.
kulihat Ricky hanya menggelengkan kepalanya, Aku dan Ricky bertatapan dan ia berkata.
"Jo..... beneran nih kita bakal tinggal disini? sewa rumaha aja gimana jo? atau gak cari hotel yang deket yuk" pintanya
"lu yakin jo??"
"yaudah sih... lu belum terbiasa aja"
Ricky berbalik arah menuju Ke luar, sementara aku meletakan barang bawaanku dibawah Rak Buku.
Setelah itu aku berjalan keluar menuju Ricky… namun ketika aku membuka pintu tak ada siapapun disana yang ada hanya bangku kosong yang tadi sempat di duduki oleh Citra…
Karena Hari mulai berangsur Gelap akupun berusaha mencari Ricky, semua sudut Pondok telah aku telusuri namun tak ada seorangpun, aku bergumam dalam hati.
“kemana semua orang disini?? Kenapa sangat sepi”
Tak lama aku berpapasan dengan seorang Santri Lelaki yang tengah Berjalan terburu-buru, akupun memanggilnya dan hendak bertanya.
__ADS_1
“Dekkkk….”
Anak itupun berhenti dan menoleh ke arahku, lalu berbicara dengan sedikit Logat Medhoknya.
“Njehhh Mas… Ada yang bisa saya bantu?”
Aku Mendekatinya.
“mau kemana Adek ini??”
Anak tersebut menjawab dengan cepat, sambil langsung pergi meninggalkanku.
“saya mau ke Balai desa mas, semua Santri sudah pada disana… Assalamualaikum”
Akupun terbingung ada apa di Balai Desa.. namun ketika aku hendak mengikuti Anak tersebut , aku baru teringat bahwa Kobong ku belum aku Tutup Pintunya, akhirnya aku memutuskan untuk kembali menuju Kobong.
Sesampainya disana aku langsung menutup Pintu dan kembali Mencari keberadaan Ricky, ketika telah di depan Gerbang Pondok aku berpapasan dengan Pa’De Suryo.
Pade suryo Menyapaku dan Bertanya.
“Assalamualikum…. Kenapa Dek Jhonatan masih disini? Nda berangkat ke Balai Desa??”
Aku menjawabnya.
“Waalaikumsalam … Pa’de memangnya sedang ada apa di Balai Desa?? “
Sambil mengajakku Pa’De menjelaskan Semuanya.
“disini setiap tanggal satu muharam warga termasuk semua Santri Pondok biasanya berkumpul di balai desa untuk tadarusan , sebelum nantinya Sholat Berjamaah”
Akhirnya pertanyaanku telah terjawab, aku hanya diam dan mengangguk-anggukan kepala saja…
"Ayo berangkat bareng Pade"ajaknya
aku berjalan menuju balai desa bersama Pade Suryo.
__ADS_1