ISTIKHARAH CINTA

ISTIKHARAH CINTA
BERLAYAR KEMBALI


__ADS_3

Ini adalah hari terakhirku mengabdi di tempat masa kecilku, sebenarnya sulit untuk mengungkapkan apa yang aku rasakan sekarang. Rasanya hidupku telah terpatri di desa ini, tapi aku harus mengejar mimpiku yang lain sebelum akhirnya aku bisa kembali hidup disini.


"huft bertemu juga dengan hari ini" aku menghela nafas panjang-panjang, ini pertamakali dan mungkin terakhir kalinya aku Sholat Subuh berjamaah.


aki sedikit terlamnat untuk berada di shaf paling depan, memang semangat para santri untuk beribadah itu sangatlah tinggi, ya meski ada beberapa yang juga ogah-ogahan karena masih terselimuti kantuk yang amat berat, tapi itu perihal wajar.


*Allahu Akbar.... Bismillahirahmanirrahim"


suara takbirotulikhram Imam dismabut semua jemaah lainnya.


lantunan Al-Fatihah, diteruskan dengan surat-surat pendek.


tak terasa diri ini sangat terlarut dengan situasi tersebut, rasanya benar-benar tenang.


Assalamualaikum warrohmatulloh...


Salam dan selesai, kami bersama-sama melaksanakan Wirid sampai sang fajar menampakan senyumannya.


Hari ini tiba. Pancaran sinar mentari yang indah, guguran daun, dan hembusan angin menandakan pintu menuju kedunia yang baru telah menunggu untuk kami buka.


Aku menghirup udara itu untuk yang terakhir kalinya, aku berjalan menyusuri lorong pondok untuk yang terakhir kalinya,


Ku tatap langit biru yang luas mungkin seluas itulah kenangan ku yang tersimpan disini.


Pagi itu setiap santri yang bertemu denganku memberi salamnya dan senyuman yang khas, seakan mereka mengetahui bahwa inilah terakhir kalinya mereka bertatap langsung dengan aku, dengan kami semua.


Sahil menghampiriku lalu berkata


"Mas Jhonathan ojo lali karo Sahil nggih" terlihat matanya mulai penuh dengan air mata yang tinggal menunggu waktunya untuk melompat dan mengalir di pipi anak kecil ini.


aku merangkulnya lalu berkata.


"ya nggak dong Hil, Kamu yang baik ya disini, ngajinya yang pinter, kita ketemu di Jakarta okk"


"nggih Mas, Sahil bakalan lebih semangat lagi belajarnya, biar cepet lulus, cepet kuliah kaya Mas Jhonathan"


aku kembali memeluknya lalu mengusap air matanya.


"yaudah, Mas pamit ya, Jangan nangis, nanti mas sering-sering deh main kesini nengokin Sahil"


"Iyo Mas, janji yo"

__ADS_1


aku menganggul, lalu mengaitkan jari kelingkingku dengan jari kelingking Sahil, ku usap kepalanya, lalu beranjak menuju Klinik untuk berpamitan kepada Warga dan Pegawai yang katanya sudah pada menunggu kami.


sesampainya di Klinik ternyata diluar dugaanku, warga berbondong bondong menghampiri kami yang baru saja tiba di Klinik, tetapi bukan untuk berobat, melainkan mereka ingin hari terakhir kami disini dikenang oleh semua orang.


Seketika Klinik berubah seperti seorang artis yang tengah konverensi pers, setiap orang bertanya apakah kami akan kembali ke desa ini?, kemanakah kami akan pergi setelah menyelesaikan pendidikan kami? Dan tentunya masih banyak lagi pertanyaan sejenis yang mereka lontarkan kepada kami.


ternyata ini adalah inisiatif Pak Lurah untuk melaksanakan syukuran atas selesainya praktek kami di desa ini, bukan hanya itu acara syukuran tersebut bermaksud untuk salam perpisahan kami dan warga Desa Gunung Kidul.


Tak disangka hampir seluruh warga menghadiri acara syukuran tersebut, kami makan bersama, berbincang bersama, bercanda, bercerita, dan masih banyak lagi aktifitas yang kami lakukan Siang itu, semua warga berbaur tanpa gengsi, semua warga makan tanpa ada rasa canggung, Siang itu semua warga terlihat bahagia termasuk kami.


kami lakukan itu semua di Aula Desa, yang kebetulan letaknya tidak terlalu jauh dari Klinik.


Namun ditengah tawa canda kami, aku melihat raut wajah zahra tak ada guratan kebahagiaan sedikitpun, aku hendak bertanya namun Ihrom mendahului ku, ihrom menghampiri Zahra dan entah apa yang mereka bicarakan, aku tak kuasa menahan rasa sakit, namun aku mencoba tegar. Akhirnya aku hanya memperhatikannya dari jauh.


waktu begitu berjalan dengan Cepatnya, tak terasa inilah saatnya kami benar-benar berpamitan.


Sore itu berakhir dengan isak tangis warga yang tak ingin kami tinggalkan.


Satu persatu warga meninggalkan Aula, aku Ricky dan citra kembali ke Klinik untuk segera berkemas, sebelum harus rela melepaskan Desa ini.


“ayoo jo... yang lain udah nunggu” Ricky mengajakku.


Aku sangatlah berat untuk melangkah meninggalkan Desa ini, terlihat beberapa warga menyambut kami di depan Pagar Klinik seraya Menatap kami semua dengan penuh Haru, melihat pemandangan tersebut akupun tak kuasa membendung air mata ini. Akhirnya akupun berpamitan kepada mereka semua.


“matur nuwon nggeh Mas Jhonatan, Mas Ricky, Mbak Citra. Ini dari warga kampung jangan lihat dari barangnya. Sekali lagi matur nuwon nggih mas mbak..”


Citra menghampiri Ibu tersebut dan memeluknya.


“maksaih ya bu udah ngebolehin kami praktik disini, jaga kesehatan ya bu... biar bisa terus mengabdi untuk masyarakat.”


Ibu siti hanya mengangguk dan mengusap air mata di pipi citra yang ternyata juga menagis.


Ditengah suasan haru tersebut terdengar seseorang memanggilku dari belakang.


“mas Jhonatan....”


Suara itu tak asing bagiku, dan benar tak lain dan tak bukan Zahra menghampiriku namun dia tak sendiri, terlihat Ihrom Kyai Arif dan Pade mengikuti dari belakang.


“terimaksaih sudah memberi makna kasih sayang yang sebenarnya, zahra belajar banyak dari mas Jhonatan.. zahra akan belajar untuk kembali mencinta, dan zahra akan memulainya kembali.”


Aku mengangguk dan berkata,

__ADS_1


“iya.... terimakasih ya zahra sudah banyak membantu mas selama disini”


“zahra berdoa agar mas Jhonatan bisa dan pasti bisa mendapatkan pendamping yang Mas Jhonathan selalu butuhkan bukan hanya inginkan.”


Pade menghampiri kami dan memeluk kami satu persatu dan berkata.


“matur nuwon sanget nggih... jangan bosen bosen main lagi ke Desa ini.”


Aku meraih tangan Pade Suryo dan menciumnya dalam dalam..


Lalu pade kembali berkata.


“teruslah berlayar hingga suatu saat sebuah dermaga yang indah melambai untuk kau singgahi...”


Ihrom menghampiriku dan menepuk pundakku, namun tak berkata apapun.


Seketika ia memelukku dengan erat.


“doakan kami bahagia...” suara itu terdengar samar namun aku mengerti akan maksudnya.


Momen itu tak dapat kami lupakan, aku mencoba menyapu suasana tersebut dengan mataku seraya menyimpan semua nya didalam memori ingatanku. tak terasa mobil jemputan telah datang, kini tiba waktunya untuk kami melanjutkan perjuangan kami agar bisa membuat semua orang yang berjasa dalam hidup kami bisa sama-sama merasakan kebahagiaan.


Semua barang barang kami telah dimasukan bagasi dan untuk terakhir kalinya kami berpamitan kepada semua warga yang ada disana.


“Assalamualaikum....”


Itulah salam terakhirku untuk semua orang yang telah banyak membantu kami selama disini.


Lambaian tangan mereka sangatlah ikhlas, raut wajah yang benar benar sayu, setiap tetesan air matanya sangatlah tulus.


Aku tersenyum dan melambaikan tangan.


Dari mereka aku banyak belajar.. bahwasannya hidup sederhana bisa terasa mewah jika di barengi dengan rasa bersyukur.


Dari zahra aku belajar bahwa ikhlas dan menerima semua takdir yg telah tertulis, merupakan satu-satunya cara untuk hidup lebih bahagia.


Aku jadi semakin yakin bahwa perahuku masih kuat untuk berlayar, masih banyak samudera yang belum aku tuju, untuk itu aku akan terus bermigrasi kesemua dermaga, sampai akhirnya akan datang seorang nelayan yang menerima dan menyambut kedatanganku dengan penuh cinta.


Aku juga semakin percaya bahwa Cinta tumbuh dan datang dengan sendirinya tanpa di duga, Cinta akan datang kepada mereka yang sudah siap untuk sakit, bukan hanya untuk bahagia, semua kisah perjalanan Cinta akan lebih istimewa jika di jalani dengan berlandaskan perintah-Nya.


-BERSAMBUN

__ADS_1


Terimakasih untuk yang sudah meluangkan waktunya untuk membaca karangan saya, selanjutnya saya akan menceritakan kehidupan Jhonathan setelah menjadi seorang dokter.


tunggu ya Season 2 nya 🥰🥰


__ADS_2