
pagi hari yang cerah seperti biasa meira memakai seragamnya, membawa tas ranselnya menuruti tangga menuju meja makan.
" mau kemana kamu nak?" tanya ayahnya wijaya melihat anaknya memakai seragam.
" sekolah lah pa, papa tidak lihat aku pakai seragam" jawabnya singkat. "mulai hari ini kamu berhenti sekolah. tuan adinata ingin bertemu denganmu hari ini. jadi berdandanlah secantik mungkin" perintahnya sinis. "tapii paaa .. aku tidak mauuu." merengek. "jangan bantah perintah papa sayang, sekarang habiskan makananmu lalu masuk lagi ganti baju" ucap mama ana menghindari keributan anak dan suaminya.
meira menangis dan berlari meninggalkan meja makan tanpa makan sedikitpun.
'tokk...tokk..tokk' meira sayang, ini mama. buka pintunya nak" seru mama ana. " iya ma," jawab meira singkat. "biar mama bantu kamu bersiap ya sayang" meira hanya mengangukan kepala. "ma, apa mama dan papa nanti juga ikut?" tanya meira sambil menatap kaca melihat mamanya menyisir rambutnya. "tidak sayang, akan ada yang akan menjemputmu nanti, utusan dari tuan adinata" jawabnya sambil tersenyum. " tapi ma, aku takut" sambil memegang tangan mamanya yang sedang menyisir rambutnya.
"tidak apa-apa, jangann..." belum selesai mama ana berbicara Bi nah, pembantu rumah meira datang. "permisi nyonya, ada yang datang untuk menjemput nona meira". "Iya bi, kita akan turun" jawab mama ana. "sayang sudah ada yang menjemputmu, ayo turun". meira memegang tangan mamanya. dengan menggunakan baju dres berwarna putih, rambut terurai, dia berjalan mengikuti mamanya dibelakang.
"selamat pagi nyonya ana, kami adalah utusan dari tuan adinata untuk menjemput nona meira"
sambil menunduk memberikan penghormatan.
"meira berangkatlah nak!" perintah ayah wijaya.
"kamu hati-hati ya sayang" mama ana sambil mencium anaknya.
__ADS_1
"aku berangkat yah, ma" dengan mata yang menampung penuh air matanya.
_______
Sesampainya dirumah tuan adinata, Meira merasa takjub. dia baru saja melihat surga. Rumah mewah, besar, garansi yang seperti dealer mobil.
"mari nona, ikuti saya" kata pelayan Haris menyambut meira datang.
"baik pak" mengikuti perintah dan berjalan dibelakangnya.
didalam kamar adinata, sekertaris nya Rey memberitahu kedatangan meira "tuan, nona meira sudah datang". "baiklah, saya akan turun" jawabnya singkat sambil memainkan hpnya.
sesaat dia melihat ke arah tangga. dia melihat pria yang tinggi, putih, tampan bak pangeran turun dari tangga. dia terbelalak melihatnya, dia berkali kali menelan ludah.
Adinata pun duduk bersebrangan dari tempat duduk meira. "jadi kamu yang namanya meira, anak dari Om wijaya" tanya adinata mengawali percakapan. "i.iiyaa tuan" jawab meira menundukkan kepala sambil gemeteran. "berapa usiamu?" tanyanya singkat. "17 tahun tuan" masih menundukkan kepala. "bodohhh. bagaimana bisa papa menjodohkan aku dengan anak anak seperti ini, Rey tongong urus surat perjanjian pernikahan" adinata sambil tersenyum sinis. " baik tuan, akan saya persiapkan semuanya" jawab Sekertaris rey.
"baiklah kamu urus semua saya akan kembali ke atas" adinata pergi meninggalkan Sekertaris rey bersama meira.
"baik nona, yang hanya harus anda lakukan hanyalah berdiri disamping tuan adinata sebagai istrinya tanpa mengusik kepribadian tuan adinata"
__ADS_1
"baik" jawab meira singkat.
"selebihnya, anda hanya harus mengikuti apa yang diperintah tuan adinata, mengikuti aturannha, tanpa membantah" Sekertaris rey memperjelas. "dan hari pernikahan anda dengan tuan akan diadakan besok dengan tertutup".
"apaa besok? apakah tidak terlalu cepat tuan rey?" tanya meira terpelongo. "saya hanya menjalankan apa yang telah diperintahkan tuan, nona. saya akan menghubungi keluarga anda untuk datang besok kesini. dan mulai sekarang anda akan tinggal disini!"
*apaaa??? aku tinggal disini?? dan akan menikah besok?? ya Tuhan. ayahh, mama tolong bebaskan aku... (*rintih batin meira)
Sekertaris Rey meninggalkan Meira begitu saja.
waktupunn terus berjalan hingga malam hari, meira dari pagi hanya duduk disofa ruang keluarga. seharian hanya bermain hp dan memakan cemilan yang hidangkan para pelayan. bahkan tidak ada orang yang mengajaknya bicara seharian.
sampai pada akhirnya Pelayan Haris membawa Meira kemeja makan untuk makan malam bersama. dimeja makan sudah ada seorang wanita duduk. "nona silahkan duduk" Pelayan Haris mempersilakan kursi pada meira.
"siapa dia pak Har?" meira berbisik. "Nona, dia adalah nona Kenzia, adik dari tuan adinata" jawab Pelayan haris dengan tegas dan keras.
lalu tangan meira dengan kepolosannya menyubit tangan pelayan Har, "pelan-pelan, kenapa pak har keras seperti itu!" masih berbisik sambil meringis melihat wanita didepannya yang melihat Meira dengan sinis.
"Ada apa kalian membicarakanku?" tanya kenzia dengan menatap meira. "ah tidak apa-apa nona..hehe. hanya ingin tahu" jawab meira merasa itu lucu bahkan kenzia masih menatapnya dengan wajah datar.
__ADS_1
Adinata mulai turun dari tangga dan duduk dimeja makan. semua tampak hening. tidak ada yang bicara. menikmati hidagan mereka masing-masing. sampai makan malam selesai.