
Meira,Kenzia dan Rey sudah berada disebuah rumah kontrakan yang sudah disiapkan Rey.
Rumah kontrakan dengan 2kamar tidur, 1 kamar mandi, dapur sempit, dan 1 ruang tamu yang tidak ada kursi ataupun meja.
Meira dan Kenzia masuk, mulai menamati setiap sudat ruangan tersebut. Bagi Meira hidup seperti ini pun tidak masalah baginya, karena dia juga pernah dulu hidup sederhana, tapi tidak bagi Kenzia. sejak kecil Kenzia hidup mewah bergelimang harta.
"Nona, itu kamar nona dan Tuan, sedangkan yang sana itu kamar Nona Kenzia!" Rey menunjukkan kamar masing masing.
dengan wajah cemberut, Kenzia memasuki kamarnya.
"Hah? kamar model apa ini? Ini lebih pantas menjadi gudang! Kakak iparrr??"
Mendengar teriakan Kenzia, Meira dan Rey datang menyusul.
"Ada apa Zia? kenapa teriak teriak?"
"Ini yakin kamar aku?"
"Iya nona, nona terima saja untuk beberapa saat!" Tegas Rey.
"Sudah tenang!" Meira memeluk kenzia yang meneteskan air matanya.
"Kakak, aku tidak bisa seperti ini!" Menangis dalam pelukan Meira.
"Sudah, kamu sabar ya. Aku yakin Kakakmu akan segera menyelesaikan masalah ini, kamu tenang saja!" Meira berusaha menenangkan Kenzia.
...
Meira sudah memasukkan kopernya dikamar, dan melihat ponselnya, menekan nomor Adinata, tapi sampai 5kali tidak ada jawaban dari Adinata. Dan Meira menghampiri Rey yang duduk dikarpet depan.
__ADS_1
"Rey? apa kamu tahu kemana perginya suamiku?"
"Tidak nona, saya sudah berusaha menghubungi tapi tidak ada jawaban sama sekali!"
"Bagimana kalau terjadi sesuatu dengannya? ini sudah hampir malam!"
"Nona tenang saja, lebih baik nona istirahat jangan terlalu stres untuk kesehatan anda dan calon anak anda, biar saya yang menunggu Tuan disini!"
Meira kemudian menuju kamar dan merebahkan tubuhnya dikasur yang agak keras.
dan mengelus perut sambil memikirkan Adinata. tak lama diapun terlelap dalam mimpinya.
...
Jam menunjukan pukul 23.00 tampak berhenti mobil didepan kontrakan dan Rey bergegas keluar dari kontrakan.
"Meira dimana Rey?"
"Nona sudah dikamar Tuan!"
tanpa bicara lagi Adinata masuk dan menuju kekamar, tampak ia melihat Meira sudah lelap.
Adinata membaringkan tubuhnya disamping Meira.
"Ahh kenapa kasur ini begitu keras, Cih!" Gumam Adinata.
Meira yang merasakan ada pergerakan diranjang membuatnya terbangun.
Ia mencium bau alkohol, ya tentu saja arahnya dari sampingnya, Adinata.
__ADS_1
"Sayang? kamu sudah pulang? dari mana saja?"
"Meira, tidurlah sudah malam!"
"kamu mabok?"
"Aku hanya menghilangkan setresku! Tidurlah, sini peluk aku!"
Meira yang mengerti keadaan Adinata, memaklumi perbuatan Adinata yang minum minuman. Dan memeluk dengan hangat tubuh Adinata yang terasa dingin.
"Sayang? aku kepengin!"
Adinata menciumi leher jenjang Meira dan mengigit kecil, meninggalkan stempel dileher Meira.
Ya pengaruh Alkohol yang teguk Adinata membuatnya tidak bisa mengendalikan diri.
Meira masih memejamkan matanya.
dan tiba tiba..
"Akkhh sayang, sakit!" Meira.
Saat tangan Adinata sudah tak terkendali, menusukan jari tengahnya kedaerah intim Meira. sontak saja membuat Meira kaget membangunkan tidurnya.
"Aku sudah tidak tahan!" Bisik Adinata ditelinga Meira.
"Tidak bisa, apa kamu lupa aku tengah hamil sekarang? ini baru awal kehamilan aku tidak mau terjadi apa apa dengan anak kita!" Meira bangun dari tidurnya.
Lalu bergegas keluar kamar, menuju kamar Kenzia. Adinata tidak mengejar, karena dia sudah lemas tidak ada tenaga akibat banyak minum.
__ADS_1