
"Sayang, kamu jangan becanda ya?" Tegas Adinata.
"Dengarkan aku, aku tidak memakannya aku hanya mencicipinya sedikit, hanya ingin tahu rasanya!" duduk membelakangi Adinata
"Yasudah tapi jangan sampai kamu telan, besok aku akan suruh Pak Har menyiapkannya!"
"tapi kamu juga harus mencobanya!"
"Apa?"
...
Keesokan harinya Adinata dan Meira sudah berada dihalaman depan, yaa tentu saja sudah ada adonan semen basah dihadapan mereka.
"Akhirnya..." Meira tampak bahagia
Dan menyodorkan telenjuknya menyolek semen tersebut dan menjilatnya, dan tentu saja mengingat larangan Adinata untuk jangan menelan.
"Wahh, sayang kamu harus coba. ini enak, manis manis asem!" sunyum lebar Meira.
Adinata mulai mengikuti sama dengan yang dilakukan Meira.
"wekk, apa apaan ini! rasanya hambar!" Adinata mengambil tisu yang dibawa oleh Pak Har dan mengusap lidahnya.
Meira yang seakan sudah puas dengan apa yang dia inginkan segera bergegas kembali kerumah menyusul Kenzia dimeja makan.
"Enakan juga menjilat lubang kenikmatannya" Gumam Adinata sambil berjalan menuju rumah.
__ADS_1
Saat semua orang menikmati makanan masing masing dimeja, tiba tiba Rey datang dengan tergesa gesa.
"Tuan"
"Rey, kenapa ngos ngosan? lari ya dari apartemen lo ke sini?" tawa Adinata.
"Tidak tuan, bisa kita bicara sebentar? ada hal penting yang perlu tuan ketahui!"
seolah tahu maksut ucapan Rey, Adinata bergegas bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ruang kerjanya diatas, diikuti Rey dibelakangnya.
"Zia? kenapa sih?" Meira.
"Tidak tahu kak, mungkin soal kantor. biarlah!"
Meira dan kenzia melanjutkan makannya.
"Zia? apa mereka tidak kekantor? kenapa mereka lama sekali?"
Kenzia hanya menggelengkan kepalanya dan menatap Meira.
Tapi tidak lama kemudian, Adinata turun dari atas masih diikuti Rey dibelakangnya. Tapi dengan wajah murung dan gelisah.
Dia menuju dapur mencari Pak Har.
"Pak Har, ini uang cash, kamu bagikan keseluruh asisten disini sesuai bagiannya masing masing, dan yang ini untuk anda!" Adinata memberikan amplop warna coklat pada Pak Har.
"Tapi tuan, bukankah sepertinya baru lusa kemarin kita menerima gaji?"
__ADS_1
"Iya, itu pesangon buat kalian, sudah saya lebihkan uangnya untuk kalian bertahan hidup sampai mendapat pekerjaan baru!"
"Maksut tuan?"
Tiba tiba Meira datang disamping Adinata dan meraih tangan Adinata.
"Sayang? ada apa?" tampak raut wajah cemas Meira.
Adinata tidak menjawab lalu dengan cepat dia pergi keluar rumah dengan membawa mobilnya sendiri.
Meira mengejar Adinata sampai kehalaman, tapi tidak digubris oleh Adinata.
Lalu dia masuk kerumah lagi mencari sosok Rey, dan tampak Rey yang sedang berbincang dengan Pak Har, dengan wajah sedih Pak Har saat mendengar Rey berbicara.
"Rey, jelaskan ada apa ini?"
"Nona, kita duduk dulu! akan saya jelaskan!"
Akhirnya Meira, Kenzia, dan Rey duduk sofa diruang tengah bersama.
"Begini nona, kantor kini telah mengalami kebangkrutan, dan penipuan besar besaran. jadi semua harta benda, kantor, rumah, semua usaha yang tengah dijalankan oleh Tuan termasuk Mall yang nona pegang kini telah diambil alih oleh Rekan bisnis licik itu"
Meira dan Kenzia tampak Syok akan penjelasan dari Rey. Mereka tidak bisa berkata apa apa lagi.
"Jadi, Nona Meira dan Kenzia bisa mengemasi barang dan saya akan carikan kontrakan untuk sementara tinggal sampai ketemu jalan keluarnya"
Meira dan Kenzia masih terdiam disofa, sedangkan Rey sudah berlalu mengatur para pelayan yang akan disalurkan kepekerjaan lain oleh Rey.
__ADS_1
hati Meira begitu cemas memikirkan Adinata, dalam keadaanya yang sedang emosi, mengendari mobil sendiri, dan entah mau kemana.