
Pagi harinya setelah Meira mengantar Adinata berangkat kerja sampai depan pintu.
"Meira?" ibu tiba tiba muncul dari belakang.
"Ayo berangkat sekarang" tambahanya.
"baik"
Meira masuk kemobil bersama dengan ibuu...
diperjalanan entah kenapa sangat hening. dulu ibu yang selalu mengajak Meira ngobrol ngalor ngidul tertawa tawa. kenapa sekarang jadi diam seribu bahasa gini.
...
"jadi begini bu, keadaan rahim nona baik baik saja, tapi diusia menantu ibu yang masih muda, dan rentan apabila diharuskan dia untuk hamil. sebaiknya biarkan usianya matang terlebih dahulu. karena bisa bahaya buat nona juga"
begitu perkataan dokter yang terngiang ngiang dikepala Ibu setelah keluar dari rumah sakit, membuatnya merasa gagal untuk segera menimang cucu.
"Meira? kamu dengar perkataan dokter tadi? bagaimana denganmu?" ibu bertanya dengan Meira dengan wajah datar...
"menurut Meira, lebih baik Meira turuti perkataan dokter, menunggu usia Meira terlebih dahulu bu, karena jika tidak walaupun baby nya nanti selamat, makan nyawa Meira yang jadi taruhannya" tersenyum manis
"jadi maksudmu kamu tidak mau menaruhkan nyawamu buat anakmu?"
"bukan begitu bu, siapa yang tidak ingin coba memiliki anak. tapi Bukankah lebih menyenangkan jika kita masih hidup disaat perkembangan anak kita dari kecil menuju dewasanya?"
Ibu mengerutkan keningnya dan terdiam..
dia teringat perkataan temannya..
__ADS_1
"jadi kapan menantu kesayanganmu itu yang kamu bangga banggalan akan memberi cucu padamu Ratna?" tawa teman temannya saat dipertemuan Arisan membuat Ibu (Ratna) malu.
"Buat apa juga kaya seindonesia tapi tidak punya anak? betul tidak ibu ibu?" tambah teman yang satunya lagi.
"betul itu, lagian anakmu kan sudah menikah lama, kenapa belum hamil juga?"
"ehh ibu ibu.. atau jangan jangan menantu Ratna tidak subur kali ya? hahaha"
perkataan itulah yang membuat Ibu berubah pada Meira. menuntut Meira untuk memberinya cucu.
"ibu tidak bisa menunggu lama lama lagi!"
"maksut ibu?" Meira bingung
"ibu tidak mau tahu, kamu harus segera hamil. ibu kasih waktu 1 bulan."
...
dan sampailah mereka dirumah.
tiba tiba Adinata sudah ada didepan rumah.
"Sayang? kamu kok ada disini?" Meira terkejut bukannya Adinata tadi sudah berangkat.
"Tadi aku pulang ada berkas yang ketinggalan. tapi melihatmu tidak ada dirumah membuatku penasaran dan menunggu"
"dan ohh ya kenapa ibu masuk dengan tergesa gesa? kalian dari mana?"
"masuk dulu, aku akan bicara!" menarik tangan Adinata.
__ADS_1
sampainya dikamar..
tangis Meira pecah dipelukan Adinata.
"Heyy.. jangan menangis. bilang kepadaku ada apa? apa ibu jahat padamu? apa ibu melukaimu?"
Adinata khawatir.
"tidak, ibu memberiku waktu 1 bulan untuk hamil. dan dokter bilang diusiaku yang masih muda akan rentan jika aku harus hamil" tangis Meira semakin menjadi jadi.
"Sudahh, sudahh jangan menangis. aku tidak menuntutmu untuk memberiku anak sekarang. tidak apa apa, jangan bersedih"
"tapi ibu..."
"biar aku nanti bicara sama ibu ya? kamu jangan sedih lagi." mengusap air mata Meira.
ibu memang sudah benar benar keterlaluan! kenapa dia bersikap seperti itu pada Meira. Apa yang sedang ibu inginkan sebenarnya.
Adinata menyuruh Pak Har memanggil Rey untuk keruangnnya.
"Rey kamu berangakatlah kekantor, aku tidak masuk hari ini"
"baiklah tuan" tanpa ada kata kata lain Rey langsung keluar dari ruangan.
sampainya didepan pintu...
"dan tolong suruh Ibu untuk kesini sekarang"
"baik tuan, sama permisi!"
__ADS_1