
Adinata yang memeluk Meira dengan erat..
"Sayang kamu yang sabar ya!" mengelus elus kepala Meira.
tiba tiba tanpa bicara apapun Meira lari masuk kerumah. sampainya didepan pintu tampak banyak orang yang duduk rapi membentuk lingkaran, mengelilingi sesosok orang yang tengah terbujur kaku yang ditutupi kain.
Tiba tiba Meira pingsan dan sudah tidak sadarkan diri.
Dengan cepat Adinata yang sejak tadi berada dibelakang Meira, membopong Meira dan membawanya ke kamar Meira yang dulu. Yang ditunjukkan oleh teman Meira yang tadi.
Sampainya diatas, dikamar Meira. Adinata sangat panik dan tidak bisa berfikir jernih apa yang harus dia lakukan sekarang.
"Sayang, Meira. bangun sayang buka matamu" Adinata menepuk nepuk pipi Meira sambil mengoleskan minyak dibawah hidung, perut dan telapak kakinya.
"Rey. bagaimana ini? sudah hampir dua jam Meira tidak sadarkan diri!" Adinata yang panik.
"Tuan, biar saya panggilkan dokter kesini!"
"Ya, yaa panggilkan sekarang!"
tiba tiba ada yang mengetuk pintu..dan langsung membukanya.
"Pak, jenazah akan segera dikebumikan, ini sudah terlalu sore menjelang malam pak!" seorang ustadz masuk ke kamar Meira.
"tapi, istri saya belum sadarkan diri, dia bahkan belum bertemu untuk terakhir kalinya?"
"tapi pak, kasihan jenazah nya jika tidak segera diurus, semua orang juga akan segera pulang kerumah masing masing!" pak ustadz menjelaskan.
__ADS_1
lalu Adinata melihat Meira sambil mengela nafas panjang.
"Yasudah baiklah, bisa diberangkatkan sekarang!"
"Baiklah, saya permisi dulu!"
...
setelah pak ustadz keluar dari kamar
"Tuan, apakah anda akan ikut?"
"tentu saja, kamu juga ikut denganku!"
"ohh ya dan kamu, kamu disini jaga istriku baik baik ya! jangan kemana kemana sampai aku kembali" menunjuk teman Meira yang mengantar tadi.
"heem, baiklah" dia hanya mengangguk tanpa memandang Adinata.
...
"entah bagaimana perasaan Meira jika dia sadar dan mengetahui ini!" Adinata memijat mijat kepalanya.
Rey hanya diam saja, dia tidak tahu akan berbicara apa.
...
dikamar Meira, Dokter yang dipanggil tadi sudah datang dan tengah memeriksa Meira dan berusaha membuat Meira untuk bangun dari pingsannya.
__ADS_1
Meira sudah mulai sadar dari pingsannya. membuka matanya pelan pelan dan samar samar mulai terlihat jelas.
"Aku.? aku ada dimana? kenapa kepalaku pusing begini?" Meira memegangi kepalanya.
"Syukurlah kalau nona sudah sadar!" dokter itu tersenyum.
"Dokter? kenapa ada dokter disini? lestari? kamu juga disini? Adinata? suamiku? kemana dia?" matanya mulai menyusuri seluruh ruangan mencari sosok Adinata.
dan dia mulai mengingat sesuatu, tiba tiba air mata mengalir dipipinya.
Meira langsung turun dari ranjang dan berlari keluar kamar..
"Meira tunggu! jangan lari, berhati hatilah!" temannya itu segera ikut berlari mengejar Meira.
Dengan cepat Meira menuruni tangga dan sampailah diruang tengah.
"kenapa? kenapa semua kosong? kenapa sepi? apa aku tadi cuma mimpi?" semakin deras air mata yang menetes.
dan Meira bersimpuh duduk ditengah tengah ruangan kosong sendirian, dia menangis sejadi jadinya.
"Ra, tenanglah. jangan begini" Temannya tadi berusaha menenangkan dan membawa Meira duduk diatas kursi.
tiba tiba Adinata dan Rey datang.
"Sayang?" dari kejauhan Adinata segera berlari menghampiri Meira.
dengan cepat pula Meira memeluk Adinata, membuat tangis Meira pecah sekeras kerasnya dipelukan Adinata.
__ADS_1
"heii.. sudah sudah jangan menangis, tenanglah dulu!" sambil mengusap rambut Meira.
-Jangan lupa bantu dukung dengan berikan vote ya kakak 😘 💕