Istri kecil Tuan Adinata

Istri kecil Tuan Adinata
Eps.30


__ADS_3

Adinata mendudukan Meira diatas kursi, dan Adinata duduk dibawahnya memegangi tangan Meira.


"Sudah jangan menangis" mengusap air mata Meira..


tiba tiba dari depan pintu berdiri dua sosok lelaki dan perempuan paruh baya,


"Meira? nak?" panggil seorang laki laki itu.


Meira pun terkejut, dan berkali kali mengucek matanya.


"Mama? ayah?" dengan cepat Meira berlari memeluk kedua orang itu diikuti Adinata yang berjalan dibelakangnya.


"Ma, ini beneran mama? ayah? kalian.. jadii yang barusan meninggal?" Meira langsung menatap Adinata seolah bertanya.


"Nenekmu Meira, duduk dulu biar mama ceritakan" mengandeng tangan Meira.


"Mari nak" mengajak Adinata pula.


setelah mereka ber empat duduk, lebih tepatnya berlima karena Rey yang tetap stay berdiri dibelakang Adinata.


"Meira, jadi kemarin Mama, Ayah sama Nenek akan pergi kerumah sakit, karena kondisi nenekmu yang drop, tetapi sampainya dijalan mobil yang kita tumpangi remnya blong dan menabrak pohon. Mama dan Ayah selamat dan dirawat dirumah sakit dan baru boleh pulang ini, sedangkan Nenekmu meninggal dilokasi!" jelas Ayah Meira.


Meira hanya mengangguk sambil terus memeluk ayahnya..


"Ini nak, minumlah" Mama Meira memberikan minuman kepada Adinata.


"Dan ini untuk anda, duduklah gabung disini!" menatap Rey.


"Terima kasih nyonya" Jawab Rey.


"lalu kenapa kamu tidak memberi tahuku kalau yang meninggal adalah nenek?" Meira mengerutkan keningnya kearah Adinata.

__ADS_1


"Kenapa? kau sendiri malah pingsan belum sempat juga aku berbicara" sambil meminum kopi yang disediakan.


"sudah sudah. jangan salahkan suamimu. yang terpenting mama dan ayah tidak apa apakan?" Mama Meira berusaha melerai.


"kamu juga semenjak setelah menikah, kamu tidak pernah menenggok mama dan ayah?"


"maafkan Meira ayah. Meira sangat sibuk, dan menantu ayah itu apa lagi? malam baru pulang!"


"hahaha, memang anak ayah sibuk apa?"


"apa ayah tau, tuan Adinata memberiku mall untuk mengurus dan mejalanlannya" Meira tersenyum bangga didepan ayahnya.


"Benarkah? Nak terima kasih ya, telah menerima Meira dan menjaganya!" Ayah Meira meraih tangan Adinata.


"Ahh tidak masalah, memang sudah kewajiban saya sebagai seorang suami" balas senyum Adinata.


"Ayah, gimana kalau besok kita kemakam nenek bersama sama?"


Meira menoleh kearah Adinata, dan Adinata mengangguk tanda mengiyakan ucapan Meira.


"kalau begitu, ini sudah malam juga, kalian menginap disini kan? ajak suamimu kekamarmu! pasti dia sangat capek!"


"Ayo" mengajak Adinata


"kemana?"


"kee suatu pulau terpencil!" menarik tangan Adinata.


"Saya permisi dulu, ayah?" Adinata


"Iya, selamat malam, istirahatlah!" menepuk bahu Adinata.

__ADS_1


"Dan anda tuan..? anda bisa istirahat dikamar tamu! mari saya antar!"


"terima kasih" Rey mengikuti langkah kaki Ayah Meira.


...


Adinata membaringkan tubuhnya diranjang, disusul Meira yang menjatuhkan tubuh mungilnya diatas tubuh Adinata. Disambut rangkulan hangat dari Adinata.


"Sayang? kamu sudah kabari Zia? pasti dia khawatir dirumah!"


"kamu tenang saja, Rey sudah memberitahunya. dia akan kesini besok!"


"Baguslah kita bisa kemakam nenek bersama sama!"


"Aku mau mandi, kamu bisa siapkan air hangat untukku? ini sudah malam"


"baiklah, kamu tunggu sebentar ya, aku akan siapkan!"


...


lalu Meira turun untuk merebus Air panas.


"Meira? kamu cari apa nak?"


"ehh mama? mama belum tidur?"


"belum, papamu masih megurus soal tahlilan dirumah, apa yang kamu lakukan malam malam?"


"ohh ini ma, Masak air, buat mandi!"


"ohh suamimu? mama tahu kamu kan tidak suka mandi air hangat?"

__ADS_1


Meira hanya mengangguk dan tersenyum.


__ADS_2