
Rey yang hendak pergi menghampiri Ibu terlabih dahulu yang sedang duduk digazebo belakang.
...
aku tidak mau tahu, Meira pokoknya harus hamil dalam waktu satu bulan ini, mau ditaruh dimana mukaku didepan temen temen. berlimang harta tapi... (batin Ibu yang belum selesai, tiba tiba terkejut oleh kedatangan Rey)
"kamu itu, sudah seperti hantu saja!"
"maaf nyonya, tuan menunggu nyonya diruangannya."
Rey belum beranjak dari tempatnya, memastikan bahwa Ibu benar benar akan masuk, kalau tidak malah Rey yang akan kena marah Tuannya.
"Mari nyonya saya antar"
"tidak perlu" Ibu mulai bangun dari duduknya.
setelah melihat ibu masuk keruangan, Rey langsung berangkat kekantor.
'tok..tokk..tokk' langsung membuka pintu.
"Adinata? kenapa?"
"Ibu masuk duduk sini"
ibu mengikuti perintah dan langsung duduk.
"ibu bicara apa sama Meira hingga dia menangis?"
__ADS_1
"tidak"
sial, dia bahkan mengadu pada Adinata? dasar menantu kurang ajar.
"sudahlah bu, aku sudah tau semuanya, apa yang ibu lakukan pada Meira!"
"Adinata, sebagai orang tau ibu juga pengen dong menimang cucu. ibu juga punya hak menuntut menantu ibu untuk memberikannya?"
"tapi bu, ibu akan medapatkannya! ini hanya masalah waktu! usia Meira itu masih muda bu, sangat beresiko jika dia harus hamil sekarang!"
"sampai kapan ibu harus menunggu? ibu malu Adinata, maluuu.. sama temen temen ibu, ibu selalu diledek sama mereka!"
"apa? jadi ibu begini hanya karena teman ibu? jadi apa ibu lebih senang melihat Meira menderita? Adinata bisa memberi ibu cucu 10 sekaligus tapi tunggu saatnya nanti bu"
"Ibu tidak perduli, yang ibu inginkan hanya sekarang! atau begini saja ibu ada ide bagus untuk menyelesaikan masalah ini!"
"tidak, bagimana kalau kamu nikah lagi? dengan wanita yang sudah siap untuk hamil? toh laki lakikan boleh menikah lebih dari 1 kali kan? jadi kamu tidak perlu menceraikan Meira juga"
"hahh konyol! asal ibu tau ya, aku tidak akan melakukan itu kepada Meira! aku itu cinta dengannya aku tidak akan pernah menyakitinya bu"
"Kenapa tidak? toh Meira juga belum mau hamil? Ibu bisa carikan untukmu kalau kamu tidak bisa mencarinya sendiri!"
"Ibuu... sampai kapanpun Adinata tidak akan pernah setuju bu! dengar itu baik baik!"
"jadi kamu sekarang sudah berani melawan hanya karena wanita itu?"
"Adinata akan melawan siapa saja yang berusaha untuk menyakiti istriku. termasuk Ibu!" Adinata menggebrak meja
__ADS_1
dengan cepat tanpa kata kata Ibu segera meninggalkan Adinata dan keluar dari ruangan.
...
tanpa sadar Meira mendengarkan semua pembicaraan mereka dari pintu yang ada dikamarnya yang terhubung keraung kerja Adinata.
yatuhann, apa salahku? kenapa sekarang jadi seperti ini? apa aku telah membuat Seorang anak durhaka pada ibunya? apa yang sekarang harus aku lakukan? menuruti keinginan ibu?
..
tidak lama kemudian, Adinata datang..
"Sayang.. kenapa menangis lagi?" mengusap pipi Meira dan lalu memeluknya.
"Maafkan aku ya, aku bukannya membuatmu tertawa setiap hari malah membuatmu menangis seperti ini" Adinata.
"Ini bukan salahmu. ini salahku! dan sekarang aku sudah membuat keputusan!" Meira.
"Apa? jangan keputusan konyol Meira!"
"Aku memutuskan aku akan mengandung anakmu!"
tiba tiba secara bruntal Meira mendorong Adinata ke tempat tidur dan melucuti pakaian Adinata.
"Meira. Sayang, stopp... dengarkan akuuu.. aku tidak menginginkan ini. berhenti bertindak seperti ini!" sambil memeluk Meira.
dan membuat Meira menangis sejadi jadinya dipelukan Adinata.
__ADS_1
dan tiba tiba Meira tertidur lelap.