
Adinata telah bersiap dengan menggunakan jas sudah berada dimeja makan, menanti Meira dan Kenzia yang belum juga keluar kamar.
Rey yang baru saja datang dan akan menuju kedapur untuk sarapan.
"Rey, tunggu!"
"Ada yang bisa saya bantu Tuan?"
"Lihat wajahku ini!"
Rey pun menatap dan mengamati baik baik wajah tuannya itu.
"Apakah ada yang aneh dengan wajahku?" Adinata
"Saya rasa tidak tuan, masih sama seperti biasanya!"
Pertanyaan macam apa ini? Apa aku disuruh mengatakan kalau dia tampan? Ahh konyol. (Batin Rey)
"Apa kau tidak mual melihat wajahku!"
"Tidak tuan, mana berani saya seperti itu!"
"Baguslah!"
Rey langsung berlalu meninggalkan Adinata sendiri dimeja makan dan menuju dapur.
"Pak Har, ada kejadian apa hari ini? dan ambilkan aku sarapan seperti biasanya!"
"Setahu saya Nona Meira sejak pagi merasa mual jika melihat wajah Tuan Adinata, baiklah saya ambilkan sarapan anda dahulu!"
Hah, pantas saja dia menanyakan hal seperti itu! Melihat kelakuan konyol tuan aku juga ingin mual melihatnya hahaha (Gumam Rey)
...
__ADS_1
Tidak lama kemudian Meira dan Kenzia keluar dari kamar menuju meja makan yang sudah ada Adinata disana.
"Sayang, morning kiss!" mencium bibir Meira 2 kali.
"Aaa.. Jauhkan wajahmu dariku!" Meira berlari menuju wastafel dan muntah muntah disana.
"Kakak tunggu disini saja ya, biar Zia yang susul kakak ipar!"
"Cepat kamu susul Meira, pastikan dia baik baik saja!"
Kenzia berlari kecil menyusul Meira dikamar mandi bawah.
"Kenapa dengan wajahku!" Adinata meraba raba wajahnya sendiri.
...
Adinata mendekati kamar mandi karena ingin pamitan dengan istrinya akan berangkat kekantor.
Adinata mengetuk pintu dan yang keluar adalah Kenzia.
"Kakak tenang saja. Kakak ipar sudah mendingan!"
"Kalau begitu aku ingin ketemu dengannya aku akan pergi kekantor!"
"Kakak tunggu saja disini! Jangan sampai membuat kakak ipar tambah parah nanti! Biar aku sampaikan!"
"Kalau begitu sampaikan pada Meira! Atau aku perlu menungguinya saja dirumah? Apa perlu dokter?"
"Kakak tunggu sebentar!"
Kenzia masuk kedalam dan tak lama dia keluar dengan jawaban Meira.
"Oke. kata kakak ipar, kakak berangkatlah, tidak perlu menungguinya, karena dia kan tidak bisa melihat wajah kakak, tidak perlu dokter juga, dan hati hati katanya!"
__ADS_1
Tanpa jawaban Adinata langsung menuju keluar rumah dan berangkat kekantor dengan Rey.
Meira yang sudah merasa enakan menuju meja makan bersama Kenzia.
"Zia? apa aku keterlaluan dengan Kakakmu?" Meira yang gelisah karena melihat piring Adinata yang masih bersih.
"Ahh menurut ku tidak sih kak! wajar saja bawaan bayi hahah!"
"huh kamu ini. sudah berkali kali aku bilang aku tidak hamil, jangan diungkit ungkit lagi!"
"Maaf ya kakak ku yang cantik! Kakak gimana kalau kakak kedokter saja dari pada kakak mual mual terus setiap hari?"
"Aku tidak mau, aku takut kalau kalau hasilnya malah menunjukkan aku sakit, gimana?"
"Ya kan bisa berobat kakak!"
"Ahh tidak, aku akan mengonsumsi makanan sehat saja, pasti juga sembuh!"
"Baiklah terserah kakak!" Kenzia melanjutkan makannya.
Meira beranjak dari duduknya, berjalan menuju dapur dan mencari cari kulkas disana.
"Nona? kenapa nona disini? apa yang nona cari? biar saya bantu!" Pak Har
"Pak Har, ngagetin saja! emm ini aku cari buah buah segar!"
"Baiklah, akan saya ambilkan, nona tunggu saja dimeja makan!"
"Ahh tidak aku mau memilih sendiri!"
Lalu Pak Har membukakakn kulkas yang berisi buah buahan didalamnya.
"emm aku mau yang ini, mangga, Strowberry, dan yahh inii ni buah kesukaanku Nanas!"
__ADS_1
Meira mengambil buah buah itu dan membawanya kemeja untuk dikupas oleh Pak Har.