
"Sayang jam berapa?" Meira yang bangun dari tidurnya sambil mengucek matanya.
"Sudah jam 5!" melihat jam tangannya.
"hah? sudah sore? aku tadi ketiduran! kenapa kamu tidak bangunin!" bergegas menuju kamar mandi.
setelah selesai mandi dia menyamperi Adinata yang sedang duduk didekat jendela menatap keluar.
"Sayang" sapa Meira.
"hemm sudah wangi" tawa Adinata sambil mencium bahu istrinya.
"emang tadi aku bau ya?" sambil mencium tubuhnya sendiri.
"hahaha, enggak kok. cuma sedikit" ledek Adinata lagi.
"ihh" Meira mencubit pinggang Adinata.
"Sayang, kamu serius soal ucapanmu tadi siang?"
Adinata meraih tangan Meira.
"Serius" menatap Adinata dengan wajah polosnnya.
"Tapi aku tidak setuju"
"Kenapa tidak?"
"Aku tidak mau mengambil resiko, jika aku harus kehilanganmu" memeluk Meira.
"Sudahlah aku tidak apa apa! kita bisa konsultasi terus kedokter bukan?" Meira menyakinkan Adinata. Walaupun hati kecilnya masih menolak.
"Baiklah, tapi jika kamu tidak suka bilang ya, aku tidak memaksamu!" mencium kening Meira.
...
Sedangkan dibawah, Ibu dan Kenzia sedang menonton televisi bersama..
"Zia, apa kamu tidak menginginkan keponakan?" tiba tiba ibu bertanya pada Kenzia.
__ADS_1
"hah? kalau Zia sih terserah kakak dan kakak ipar. memangnya kenapa?" jawab nya santai sambil memakan cemilan yang disajikan oleh Pak Har..
Tanpa jawaban, Ibu langsung pergi masuk kekamarnya.
Dan tiba tiba Adinata dan Meira datang menghampiri Kenzia.
"Kakak"
"Ibu mana?" Tanya Adinata sambil duduk.
"Baru saja kekamar kak!"
"emm sayang. aku kembali keatas dulu ya, ambil ponsel!" Meira berdiri
"Yasudah cepat balik kesini lagi!"
Meira langsung berlari, tapi dia tidak menuju kamarnya, tapi menuju kamar Ibu.
'tokk.tok..tokk'
Ibu membukakan pintu..
"Meira? kenapa?"
"masuklah"
mereka duduk ditepi ranjang.
"Kenapa?" Tanya ibu sangat sinis sambil mengutek kukunya.
"Meira hanya ingin memberi tahu, bahwa Meira sudah mengambil keputusan!"
"Jadi, apa keputusanmu?" menatap tajam Meira.
"Meira menerima untuk hamil, dan akan secepatnya akan konsultasi dokter!"
"Benarkah?" tampak samar samar senyum dimuka Ibu.
"Heem, kalau begitu Meira permisi Bu!"
__ADS_1
Meira langsung kembali bersama Adinata.
"Kenapa lama sekali? mana ponselmu?"
"ehh emm. itu aku tadi lama karena mencari ponselku.. ya mencari ponselku tidak ada sayang!"
"Yasudah biar Pak Har mencarinya nanti, duduk sini!"
"Kak ayo makan malam lah, aku lapar tau!" Kenzia merengek sambil memegang perutnya.
"Yasudah kamu panggil ibu sana" Perintah Adinata.
Setelah semua berkumpul, mulailah semua menikmati makanan didepannya masing masing.
"Adinata, Ibu besok akan keluar negri untuk urusan bisnis. mungkin untuk 1 atau 2 bulan kedepan"
Adinata tidak menjawab apapun karena dia masih merasa kesal karena ucapan Ibunya tadi siang.
tapi Meira menyeggol tangan Adinata berharap paham kalau Meira menyuruhnya menjawab.
Adinata menatap Meira dan Meira menganggukan kepalanya.
"Iya bu, besok Adinata akan mengantar ibu keBandara!"
Ibu tersenyum dan kembali kekamarnya..
...
Sedangkan Adinata, Meira, dan Kenzia masih berkumpul menonton televisi..
"Zia, gimana perkembangan usahamu mendekati Rey?" tanya Meira yang sedang duduk bersandar didada Adinata.
Mendengar pertanyaan Meira, Adinata tertawa tawa.
"ih kakak ipar, sebenarnya susah tau kak, dia itu pendiam, dingin, tuli lagi! gimana kalau kakak bantuan zia?" melihat kakaknya yang sedang melihati punggung dan leher istrinya.
"kenapa aku harus ikut campur? berjuanglah sendiri. ini masalah perasaan. mana bisa aku meminta Rey untuk menjadi pacarmu?"
"kakak ipar?" Kenzia memelas
__ADS_1
"Berusahalah dulu, sedikit sedikit aku bantu oke!" mengedipkan matanya pada Zia.
hingga mereka ber tiga ngobrol kesana kemari sampai larut malam..