
Belum sempat Meira memakan buah buahan yang dia bawa, Meira merasa kepalanya pusing dan pandangannya menjadi kabur, akhirnya Meira pingsan. Pak Har yang kebetulan ada didekat Meira langsung bertindak membopong Meira kekamar dan segera memberitahu Kenzia.
"Ayolah kak, angkat!" Kenzia menempelkan ponsel ditelinganya.
Setelah telepon tersambung...
"Ada apa Zia? Kakak akan ada meeting nanti kakak telfon balik ya!" terdengar suara Adinata.
"Tunggu kak, ini soal kakak ipar!"
"hah? kenapa dengan Meira? cepat katakan? apa dia baik baik saja?"
"Kakak ipar barusan pingsan! kakak cepat pulang!"
"Oke baiklah, 5 menit lagi aku sampai!"
Hahh bagaimana bisa 5 menit sampai? jarak dari rumah ke kantor kan jauh (Batin Kenzia)
"Nona, saya sudah panggilkan dokter untuk segera datang kerumah!" Pak Har
"Baguslah Pak. Kalau begitu Pak Har tunggu disini ya, kalau Dokternya sudah datang langsung bawa kekamar!"
...
Benar tak lama kemudian Adinata datang, tapi bukan 5 menit, melainkan 20 menit.
Meira dikamar sudah selesai diperiksa dan hasilnya akan dikatakan setelah Adinata sampai.
"Sayang? kamu tidak apa apa?" Adinata yang membuka pintu kamar dengan cepat berjalan memeluk Meira yang berbaring diranjang.
"Dokter, bagaimana keadaan istri saya?"
__ADS_1
"Tuan tenang saya, Nona Meira baik baik saja, dan Selamat!" mengarahkan tangannya kearah Adinata untuk berjabat tangan.
" ini apa apaan? Istri saya itu sedang sakit dan anda mengucapkan selamat?" Adinata melotot.
Dokter tadi hanya tersenyum senyum melihat wajah panik Adinata.
"Begini Tuan, Selamat anda akan mempunyai baby!"
"Apa? Maksut dokter?" tampak kebingungan diwajah Adinata.
"Iyaa, Nona Meira sekarang tengah mengandung anak anda!"
dengan cepat Adinata meraih tangan dokter itu, menerima jabatan tangannya.
"Benarkah? terima kasih, terima kasih dok!"
"Sayang aku hamil?" Meira yang masih setengah sadar tampak tersenyum dan keluar air mata dari ujung matanya.
"Yeyy, akhirnya aku akan segera punya keponakan Pak Har!"
Kenzia yang tidak ada lawan bicaranya, malah mengajak Pak Har yang sedari tadi diam untuk berbicara.
"Iya nona, saya turut senang!" jawab singkat Pak Har.
...
"Dokter tapi apakah benar? Baru saja kemarin saya cek test pack tapi hasilnya negatif!" Meira.
"Nona, kadang test pack itu bisa benar bisa juga salah! tergantung kualitasnya!"
"Lalu kenapa saya setiap melihat wajah suami saya sendiri terasa mual?"
__ADS_1
"Ahh itu mungkin memang bawaan bayi, mual saat awal kehamilan itu biasa dan akan berakhir setelah 3bulanan!"
"Jangan jangan Keponakanku itu nek' kali ya lihat muka kakak!" tawa Kenzia.
"Tidak lah, Dady nya kan tampan begini!" Adinata sambil mengelus perut datar Meira.
...
Setelah semua meninggalkan Kamar, hanya tinggal Meira dan Adinata dikamar.
Adinata masih berbaring disamping Meira dan mengelus perut Meira tanpa henti.
Sedangkan Meira yang tidak mau melihat wajah Adinata memilih memainkan ponselnya.
"Sayang, kamu mau anak kita nanti laki laki atau perempuan?" Adinata
Tidak ada jawaban dari Meira.
"Apapun kamu nanti nak, Daddy dan Mommy akan terima kamu!" Adinata sambil mencium perut Meira.
Sungguh kebahagiaan yang tak terbendung oleh Adinata. pasalnya diusianya yang beberapa tahun lagi akan menginjak kepala tiga akan segera memili anak yang dia nanti nantikan selama ini.
"Emm Daddy kalau aku ingin sesuatu apa akan dituruti?"
"Tentu lah sayang, kamu ingin apa?" Antusias Adinata.
"Emm aku pengen mencicipi adonan semen!"
"Hah?? mommy??" tampak raut muka terkejut Adinata.
jangan lupa vote ya kakak, bantu dukung supaya rajin up setiap hari...
__ADS_1