Istri Kontrak Tuan Gay

Istri Kontrak Tuan Gay
Kedatangan Ben


__ADS_3

Setelah kesedihan papa Mondi dan Mia sudah terurai mereka melanjutkan makannya dengan tenang, Rasa lapar itu hilang berganti kesedihan dan kerinduan pada sosok yang sama orang tua dan sahabat lama yang tidak akan pernah bisa dijumpai lagi. Arsen dan mama Rima terus berusaha menenangkan keduanya.


"Mia, kalau kau pulang ke Bandung, papa ikut ya, Papa ingin mengunjungi sahabat papa. "


"Iya pa." jawab Mia singkat.


Kini mama dan papa Arsen sudah akan bersiap pulang. Karena mama harus ke butik dan Mia sendiri akan ke kampus. Jadi, mereka memutuskan untuk pulang saja setelah sarapan.


"Arsen, mama dan papa pulang dulu. Jaga Mia baik-baik, karena dia sekarang anak mama dan papa juga. " Mama Rima memperingatkan.


"Iya, ma. "


"Oh ya.. mama dan papa akan sering berkunjung dan menginap di sini. Karena sepertinya papa sangat menyukai masakan istrimu. " kata Mama Rima lagi sebelum masuk ke dalam mobil.


"Iya, ma. " lagi-lagi Arsen menjawab singkat.


Akhirnya mobil mama dan papa meninggalkan rumah Arsen. Arsen dan Mia lalu masuk ke dalam rumah dan bersiap. Mia akan ke kampus, sedangkan Arsen akan ke perusahaan.


"Nanti setelah pulang dari kampus, aku akan membereskan semua barang-barangku ke kamar tamu mas. " ucap Mia saat dia sedang menyiapkan buku-bukunya.


"Tidak usah. Kau tidur disini saja. "


"Kenapa? " Mia menghentikan aktivitas nya dan menatap Arsen.


"Kau tidak dengar kata mama tadi kalau, papa dan mama akan sering datang ke rumah. Tidak mungkin kan, kalau tiba-tiba mereka datang kita harus bolak-balik memindahkan semua barangmu. " Arsen menjelaskan, sambil memakai dasinya. Biasanya dia dengan mudah memakai dadi itu, tapi kenapa sekarang susah sekali.


Mia yang melihat Arsen mengalami kesulitanpun segera mrmbantunya. Dan mengambil alih dasi itu dari tangan Arsen.


"Apa mas Arsen tidak keberatan kalau kita tidur dalam satu kamar? bukankah dalam kontrak tidak ada kontak fisik. Tapi kita sudah sering melakukan kontak Fisik mas. " Mia memperingatkan tentang isi perjanjian mereka.


Arsen menatap Mia yang dengan telaten memasangkan dasi di lehernya. Menatap wajah cantik itu dengan seksama.


"Dalam perjanjian itu pihak pertama berhak membatalkan kontrak itu. Jadi, aku membatalkan tentang larangan kontak Fisik diantara kita. " ucap Arsen dengan yakin.


"Baiklah jika itu keputusan mu. " Mia menepuk-nepuk dada Arsen setelah berhasil memasangkan dasi dengan sempurna.


"Kau ke kampus jam berapa? " Tanya Arsen sambil berjalan keluar kamar di dampingi Mia.


"Nanti jam sepuluhan. "


"Naik apa? taksi? "

__ADS_1


"Tidak, aku naik ojek online saja, lebih cepat. Mungkin aku akan pulang agak sore, karena sahabatku mengajak ku bertemu. "


"Baiklah kalau begitu. Aku berangkat dulu." Arsen berpamitan kepada Mia. Lalu dia mulai menjalankan mobilnya keluar dari rumah.


Mia kembali masuk ke dalam rumah, dan menyiapkan semua keperluannya. Kemudian dia segera membersihkan dirinya. Setelah semua siap, Mia turun ke lantai bawah. Masih ada waktu satu jam, dia lalu membersihkan semua yang masih berantakan. Agar nanti saat pulang, dia tidak lagi repot membersihkan semua ini.


Saat Mia sedang fokus membersihkan dapur, dia mendengar suara langkah kaki masuk ke dalam rumah. Mia berfikir siapa yang datang? apakah Arsen kembali? tapi dia baru berangkat satu jam yang lalu. Apakah ada orang asing masuk? pencuri? apakah dia lupa mengunci pagar?


"Ah, Mia kau ceroboh sekali. " Mia merutuki dirinya karena lupa tidak mengunci pintu pagar tadi.


Mia menghentikan aktivitasnya, kemudian melihat siapa yang datang. Dia tertegun saat melihat seorang pria tinggi putih dengan postur tubuh proporsional seperti suaminya dan juga tampan tengah berdiri menatapnya.


Pria tampan?


"Siapa kau, kenapa bisa masuk ke rumah ini? "


"Hai, nona Lamia. Aku Ben. Dan aku bisa karena pintu pagar dan rumah ini tidak terkunci. " ucap Ben dengan santai.


Mendengar nama yang disebutkan pria di depannya ini, Mia jadi mengingat sesuatu. Pria ini Ben, yang pernah di sebut namanya oleh Arsen saat di telpon, dan bertemu dengannya di lobby perusahaan, nama yang juga pernah di sebut oleh mama Rima. Ben...


"Ada apa anda kemari, tuan. " tanya Mia dengan ketus pada akhirnya.


"Aku mencari Arsen, dimana dia?" tanya Ben dengan kepala yang celingukan.


"Mas Arsen nggak ada dia sudah berangkat kerja dari tadi. Kalau sudah tidak ada apa-apa yang ingin kau sampaikan, sebaiknya kau pulang saja, tuan Ben. Karena aku juga ingin keluar." Kata Mia dengan nada tidak bersahabat.


"Manis sekali... kau sangat cantik nona, apalagi kalau sedang kesal seperti ini. Pantas saja Arsen melupakan aku. " kata Ben tidak tahu malu.


"Apa hanya itu yang ingin kau katakan padaku? "


"Tidak... " Ben menjeda kalimatnya.


"Aku ingin mengingatkanmu, dimana posisimu nona Mia. Kau hanya istri kontrak, jangan sampai kau menginginkan lebih dari Arsen. "


"Apa Arsen mengatakan sesuatu padamu, tuan Ben? " tanya Mia dengan memicingkan matanya.


"Tidak, dia tidak mengatakan apapun padaku Tapi aku tahu. Arsen itu masih memiliki sedikit ketertarikan kepada wanita. Jadi, aku peringatkan kepadamu. Jangan pernah memancingnya. "


"Cih... terserah apa yang kau katakan tuan. Aku katakan padamu, seperti apapun suamiku itu, aku tidak peduli. Saat ini yang berhak atas dirinya adalah aku. Karena aku adalah istri sahnya, sah dimata hukum dan agama. Sedangkan kau apa? "


"Kalau tidak ada yang ingin kau katakan lagi, sebaiknya kau segera pergi. Karena aku akan pergi sebentar lagi. " ucap Mia lagi mengusir Ben secara tidak langsung.

__ADS_1


"Kau mengusirku? "


"Ya, aku mengusirmu. Karena sekarang rumah ini adalah rumahku. Aku adalah nyonya di rumah ini. "


Ben lalu berdiri sambil bersedekap dada. "Ingat nona Mia. Namaku Ben, dan aku datang untuk mengambil apa yang sudah menjadi milikku. "


Ben lalu berbalik dan melangkah keluar dari rumah Arsen. Saat terdengar bunyi mobil sudah dijalankan dan meninggalkan rumah, Mia langsung terduduk di kursi dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Dia bingung dengan apa yang baru saja dia hadapi. Dia sudah bertemu dan bertatap muka dengan Ben.


Mia lalu mengambil ponselnya dan menghubungi Arsen.


"Hallo ada apa, Mia? "


"Ben... "


Mendengar satu nama itu di sebut, Tubuh Arsen langsung menegang.


"Apa kau mengenal pria bernama Ben?"


Arsen diam tidak menjawab.


"Baru saja Ben, datang kemari menemuiku di rumah ini. Dia mengatakan kalau dia akan mengambil apa yang sudah menjadi miliknya. Memangnya apa yang menjadi miliknya, mas? ' Tanya Mia polos, dan pura-pura tidak tahu.


" Apa dia menyakitimu? '


"Tidak."


Dari seberang telepon Mia mendengarkan helaan nafas lega dari bibir Arsen.


"Syukurlah kalau tidak terjadi apa-apa denganmu."


"Saat pulang nanti kau harus menjelaskan sesuatu padaku, mas. "


"Iya aku akan segera menyelesaikan nya. Apa kau sudah akan pergi ke kampus? "


"Iya, aku sudah memesan ojek online. "


"Ya sudah, hati-hati di jalan. "


Panggilan terputus, Mia kini sedang berperang dengan pikirannya sendiri. Begitu juga Arsen, dia tidak menyangka Ben berani datang ke rumahnya dan menemui Mia secara langsung.


"Aku harus melakukan sesuatu. "

__ADS_1


__ADS_2