Istri Kontrak Tuan Gay

Istri Kontrak Tuan Gay
Bawa Mia Pulang!!!


__ADS_3

Arsen segera bergegas naik ke kamarnya dan memasukkan beberapa pakaiannya ke dalam koper. Namun belum juga dia selesai berkemas ponselnya bergetar. Panggilan masuk dari Harry. Arsen mengernyit lalu mengangkat panggilan itu.


"Ada apa Harry. "


"Tuan, ada masalah. "


"Masalah apa? cepat katakan. " bentak Arsen kepada asistennya itu.


"Amel."


"Kenapa dia. "


"Kami tidak menemukannya dimanapun. Tapi setelah kami mengecek CCTV di restoran tempat semalam tuan di sana, sepertinya dia telah diculik oleh seseorang. "


Arsen membeku setelah mendengarkan ucapan Harry.


"Siapa yang menculiknya, Harry kau pasti tau kan?"


"I... itu... orang-orang Tuan Mondi, papa Tuan sendiri. "


"Apa... "


Arsen sangat terkejut mendengarkan informasi dari Harry. Papanya sudah mulai bergerak, itu artinya dia pasti sudah mengetahui masalahnya dengan Mia.


"Arrgggghhh...." geram Arsen


"Harry kau urus perusahaan selama beberapa hari sampai aku menyelesaikan urusanku. Kalau papa dan mama sudah tahu masalah ini aku bisa repot, mereka pasti mengomeliku habis-habisan karena masalah ini. " Arsen terkesan curhat sambil memberi perintah kepada Harry.


"Baik, Tuan. Serahkan pada saya. "


"Terima kasih Harry. Aku percaya padamu. "


Panggilan terputus, Arsen segera menyelesaikan kegiatannya memasukkan pakaian nya ke dalam koper. Dia harus segera menjemput Mia. Arsen yakin sekali kalau Mia pulang ke kampung halamannya. Dia tidak punya tujuan lagi selain ke rumah Sisie dan rumah orang tuanya.


Tadi Sisie juga mencari Mia, Itu artinya Mia tidak sedang bersama Sisie. Dan berarti Mia berada di rumah orang tuanya sekarang. Dia harus segera bergegas menjemput istri kesayangannya itu dan minta maaf.


"Bi, jaga rumah ya. Aku akan mencari Mia, dan membawanya pulang. " pesan Arsen kepada Bi Mar yang baru saja masuk kedalam rumah.


"Iya, Den. Semoga Aden berhasil membawa neng Mia pulang. "


"Iya bi, Aku berangkat dulu. "


Arsen memasukkan kopernya ke dalam mobil, dan segera menyalakan mobilnya. Namun belum juga dia menginjal gas, Lagi-lagi ponselnya bergetar.


"Siapa sih, ganggu aja. " gumam Arsen


Arsen mengambil ponselnya dan melihat siapa yang sudah menghubunginya. Matanya membulat saat melihat nama yang tertera di ponselnya ae.


"Papa." lirihnya.

__ADS_1


Dengan ragu Arsen mengangkat panggilan telpon dari papanya itu.


"Hallo pa. " sapanya.


"Datang ke rumah sekarang juga, papa tunggu. "


Deg.


Tanpa basa basi panggilan langsung di tutup oleh papa Mondi. Arsen menghembuskan nafasnya. Sepertinya dia harus menghadapi kemarahan kedua orang tuanya terlebih dulu sebelum menjemput istrinya.


Sudahlah, mungkin ini adalah resiko yang harus dia hadapi karena sudah membuat menantu kesayangan mereka merajuk.


Arsen lalu menginjak pedal gasnya menuju rumah kedua orang tuanya. Tiga puluh menit berselang dia akhirnya sampai di rumah orang tuanya. Dengan ragu Arsen masuk ke dalam rumah mewah itu, dia melihat papa dan mamanya sedang duduk santai di ruang tengah seperti biasa. Seolah tidak terjadi apa-apa.


"Kau sudah datang." Seru papa Modi saat melihat Arsen mendekat kearahnya.


Mama Rima langsung memasang tampang dingin saat melihat kedatangan anaknya itu.


"Duduklah. " titah papa Mondi saat Arsen hanya berdiri mematung.


Dengan patuh, Arsen langsung duduk


"Kau tau, kenapa kami memanggilmu datang? " tanya papa Mondi saat melihat Arsen hanya berdiam diri.


Arsen mengangguk.


"Kenapa kau mudah sekali diadu domba oleh wanita sialan itu. Kau bodoh Arsen. "


"Apa yang kau katakan pada Mia sampai dia kabur dari rumah?"


"Aku tidak mengatakan apa-apa pa, ma. Aku cuma memperingatkan dia agar tidak dekat dengan pria lain dan mengingat reputasinya sebagai istriku. Tapi dengan suara yang lebih keras. " kata Arsen lirih karena merasa bersalah.


Mama Rima dan Papa Mondi mendesah kasar, mendengar penjelasan dari anaknya itu.


"Lalu setelah itu dia mendapatkan pesan, kau sedang berpelukan dan cipika cipiki dengan wanita lain. Dia pasti mengira kau egois dan munafik. " ujar Mama Rima dengan tampang mengejek


Sebuah tebakan yang tepat dari mamanya. Kenapa mamanya bisa tahu? Apa mamanya ini seorang cenayang?


"Nggak usah kaget dan Jangan melihatku seperti itu. Semua wanita pasti berfikiran yang sama dengan apa yang Mia pikirkan. Jika suaminya seperti itu. " kata mama Rims dengan ketus.


Arsen menundukkan kepalanya, dia sangat menyesal. Karena sudah memarahi Mia. Tapi wajarkan kalau suami mengingatkan istrinya. Yang tidak habis pikir, kenapa Mia akhir-akhir ini sangat sensitif. Mudah menangis. Tidak seperti dulu saat pertama bertemu.


"Kau cepat susul Mia, bawa dia kembali. Masalah wanita itu, akan menjadi urusanku. kau tak perlu khawatir, dia mengganggu rumah tanggamu lagi. "


Arsen mengangkat kepalanya dan menatap lekat-lekat mata papanya.


"Papa seriuskan? "


"Iya, sekarang pergilah. Bawa menantuku pulang. " kata papa Mondi lagi.

__ADS_1


Arsen langsung berdiri dan memeluk papanya, lalu mengucapkan terima kasih. Namun saat ingin memeluk sang mama, Arsen mendapat penolakan.


"Bawa kembali Mia baru aku akan dengan senang hati memelukmu. " Ucap mama Rima dengan tegas.


Arsen pasrah, setelah mendapatkan penolakan dari mamanya. Dia lantas keluar dari rumah itu menuju mobilnya. Dilihatnya waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Sudah tidak keburu, jika dia pergi saat ini juga pasti terjadi kemacetan dimana-mana. Karena jalanan pasti penuh dengan para pekerja yang pulang dari tempat kerjanya.


Arsen tetap menjalankan mobilnya dan menerobos macet untuk menjemput istrinya.


🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱


Di Kampung Mia.


Mia yang sudah sampai di kampung halamannya dengan menaiki ojek merasa terkejut saat melihat perubahan pada rumah. Modelnya tetap sama tapi terlihat sekali perbedaan disana sini. Dia tidak langsung masuk ke dalam rumahnya namun ke rumah teh Desy diseberang rumahnya untuk menanyakan apa yang sudah terjadi dengan rumahnya.


"Assalamu'alaikum, teh. "


" Wa'alaikum salam. "


Terdengar sahutan salam dari dalam rumah. Teh Desi keluar dan matanya membulat saat melihat kedatangan Mia.


"Mia? kapan datang? " sapanya sambil cipika cipiki.


"Baru aja, teh. "


"Ayo masuk. "


Mia masuk mengikuti langkah teh Desi dan duduk di kursi tamu. Mia sesekali melihat keluar rumah dan memandang rumahnya.


"Beda ya rumahnya sekarang? "


"Iya teh. "


"Itu semua perintah Aa' Arsen, Mia. Ternyata si Aa Arsen sama kang Asep sudah sepakat mau merenovasi rumahmu. Selang beberapa waktu kamu pulang waktu itu, ada beberapa orang datang. Katanya utusan dari si Aa' buat benerin rumahmu. Kang Asep yang tau masalah itupun langsung bekerja sama dengan mereka untuk merenovasi rumah Mia. Si Aa' minta model rumahnya tetap, tapi ada sebagian yang direnovasi bagian dalam. " Teh Desi terus nyerocos menjelaskan perihal rumah Mia yang direnovasi.


"Kamu belum masuk rumah mu, ya. Ayo atuh, teteh antar. Teteh ambil kunci rumahnya dulu ya. "


Desi lalu masuk ke dalam kamar untuk mengambil kunci rumah Mia. Mia hanya terdiam sejak tadi, saat ini dia sudah berada di luar dan memandangi rumahnya yang sudah terlihat lebih besar dan terawat dengan baik.


"Ayo. "


Tepukan di bahu Mia menyadarkannya dari lamunan. Dia lalu segera pergi ke rumahnya bersama Desi.


"Assalamu'alaikum." ucapan salam itu Desi dan Mia ucapkan saat memasuki rumah.


Mia tertegun saat melihat keadaan rumah. Masih sama, tapi memang agak luas, mungkin karena bangunan yang lebih tinggi jadi rumah itu terlihat lebih luas. Mia meneliti seluruh ruangan. Ada sofa baru, lemari Es dan beberapa perabotan baru. Dia lalu masuk ke dalam kamarnya, Mia tertegun saat melihat perubahan kamarnya. Ada ranjang baru yang lebih besar lemari baru, dan dia melihat ada ruangan asing di kamar itu. Mia masuk kedalamnya. Ternyata itu kamar mandi, yang lumayan luas, karena ada bathup disana.


Mia lalu berlari ke kamar kedua orang tuanya. Lagi-lagi dia tertegun. Kamar orang tuanya tetap sama tidak ada perubahan sama sekali, lemari, ranjang orang tuanya tetap sama. Mungkin Arsen berfikir kalau kamar orang tuanya tidak akan diubah karena itu akan menjadi kenangan untuk Mia.


Mia terduduk di atas Sofa, dan terisak lirih. "Mas Arsen... kenapa kamu lakukan semua ini. Kamu ternyata baik sekali mas. Bahkan aku tidak memikirkan hal ini sama sekali. " gumam Mia dalam tangisnya.

__ADS_1


"Terima kasih, mas. "


__ADS_2