
Mia berhasil mengeluarkan kedua anak kembarnya, walaupun harus melalui jalan operasi. Tak Masalah, asalkan anak-anaknya bisa selamat semua dan dia bisa memandang kedua wajah buah hatinya yang sangat tampan. Perpaduan wajah Arsen dan Mia memenuhi wajah kedua anak mereka.
Mama Rima dan Papa Mondi merasakan kebahagiaan yang luar biasa, karena akhir nya mereka mendapatkan cucu-cucu yang sangat lucu dan tanpan mereka tak henti-hentinya memandangi wajah kedua cucu mereka yang berada di dalam box bayi.
"Sen, kata dokter anakmu yang mana yang lahir dalam keadaan terlentang. " tanya Mama Rima penasaran.
"Yang ke dua ma. Itu ada gelang di tangannya yang bertuliskan angka dua. Dia yang dikeluarkan terakhir. Sedangkan yang pertama bertuliskan angka satu. "
Mama Rima menatap gemas kepada cucu ke duanya yang sudah membuat semua orang khawatir.
"Ah, gara-gara kamu sayang kita semua khawatir. Semoga kelak kalian berdua bisa menjadi kebanggaan papa dan mama kalian."
"Aamiin." harapan mama Rima pun di amini oleh semua yang ada di sana.
"Papa dan mama boleh pulang dulu untuk istirahat, besok kesini lagi. Karena disini tidak ada tempat untuk istirahat. " pinta Arsen.
Ia hanya tidak ingin melihat papa dan mamanya salah posisi tidur sehingga membuatnya tidak nyaman.
"Kenapa kamu tidak ambil kamar VVIP sih." ujar mama Rima kesal.
"Penuh ma, kalau tidak penuh aku juga sudah menyewa kamar VVIP untuk anak dan istriku. " kata Arsen dengan sabar.
"Ya sudah, papa sama mama pulang dulu. Besok papa sama mama kesini lagi pagi. Membawakan kamu dan istrimu sarapan. " ujar mama Rima pada akhrinya.
"Iya ma. Terima kasih."
Mama Rima lalu menenteng tas nya, dan mendekati Mia yang sudah terlelap. Mungkin efek obat bius itu masih ada. Jadi membuat Mia tidur dengan cepat.
"Mama dan papa pulang dulu. Jaga anak dan istrimu baik-baik. Kalau ada apa-apa segera hubungi mama dan papa. " pesan mama Rima sebelum meninggalkan kamar rawat Mia.
"Iya ma. " Arsen mengikuti mamanya sampai luar ruangan, dia segera masuk lagi dan mengunci pintu ruangan.
Arsen memeriksa keadaan kedua anaknya yang terlelap. Lalu dia merebahkan diri di sofa yang tidak jauh dari tempat anak dan istrinya berada. Lelah rasanya mengalami drama malam ini. Tapi dia bahagia karena akhirnya bisa melihat kedua buah hatinya lahir ke dunia.
Ben dan Sisie sudah kembali sejak tadi, beberapa saat setelah bayi Mia lahir. Dan sudah memastikan kalau keadaan keduanya baik-baik saja. Ben harus segera mengajak istrinya itu untuk segera pulang mengingat Sisie harus banyak istirahat karena kondisi kakinya yang baru sembuh, dan tidak boleh berdiri terlalu lama.
Mereka kembali ke rumah, dengan menggunakan taksi, walau Arsen memaksa mereka membawa mobilnya tapi tetap saja mereka menolak. Hah memang dasar pasangan keras kepala.
Pagi menjelang, sinar matahari mulai masuk melalui celah-celah jendela. Mia yang sudah terbiasa bangun pagi pun segera membuka matanya saat sinar matahari mulai menerangi ruangannya.
"Mas... " panggil Mia kepada suaminya yang masih terlelap. Namun Arsen tidak ada tanda-tanda bangun.
"Mas... " panggilnya lagi.
Arsen yang mendengar panggilan itu langsung mengerjap-ngerjapkan matanya, dan dia langsung tersadar. Dia segera mendudukkan dirinya, dan mengucek matanya. Dilihat nya sang istri sedang tersenyum kearahnya. Arsen lalu mendekati istrinya itu.
__ADS_1
"Ada apa, sayang?" tanya Arsen saat sudah berhadapan dengan istrinya.
"Bantu aku, aku pengen pipis dan mandi." ujarnya kepada sang suami.
"Luka jahitmu gimana? " tanya Arsen bingung.
"Nggak apa-apa mas, ini plesternya anti air kata dokter jadi nggak masalah kalau kena air. Aku sudah gerah pengen mandi, dan terlihat segar sebelum mama dan papa datang. Dan teihat segar saat menyusui twins nanti." ujar Mia menjelaskan.
Arsen mengangguk mengerti, dia langsung membawa istrinya masuk ke kamar mandi, untuk membantunya membersihkan tubuh nya. Berkali-kali Arsen dengan susah payah meneguk salivanya karena melihat tubuh istrinya yang polos. Apalagi kini kedua gundukan itu semakin besar dan menantang. Tapi dia menepis semua nafsunya. Dia harus berpuasa selama empat puluh hari. Selama istri menjalani masa nifas.
Setelah membantu istrinya membersihkan diri Arsen segera membantunya berganti pakaian dan menyisir rambut sang istri yang sudah wangi setelah keramas tadi. Dia lalu mendudukkan istrinya di atas sofa. Lalu bergegas membukakan pintu, karena terdengar bunyi ketukan pintu dari luar.
Seorang perawat dan bidan masuk dengan membawa perlengkapan untuk memandikan kedua bayi mereka.
"Ayo adek, bangun dulu. kita mandi dulu ya. " ujar bidan yang langsung mengangkat tubuh kecil bayi Arsen. dan langsung membuka satu persatu pakaian bayi itu.
Sedangkan perawat yang ikut masuk menyiapkan air hangat untuk mandinya.
Arsen menuntun Mia perlahan untuk melihat bagaimana cara mereka melakukan semuanya. Tak sungkan pula Arsen bertanya ini dan itu, dan ditanggapi bidan maupun perawat dengan baik. Mereka memaklumi sebagai orang tua baru mereka juga penasaran dan memiliki rasa ingin tahu yang banyak.
Satu bayi selesai dimandikan, dan terlihat sangat segar. Lalu diberikannya kepada sang mama.
"Silahkan di beri Asi bu. Biasanya setelah mandi bayi akan merasa lapar. "
Mia menerima bayinya dengan senang hati, dan segera duduk di sofa dan mulai memberikan Asi untuknya. Dengan rakus bayi itu menyedot sumber kehidupannya, benar kata bidan tadi. Bayinya merasa kalaparan setelah mandi. Mia terkekeh melihat hal itu.
"Aduh, cucuku sudah mandi... seger banget... " kata Mama Rima heboh.
"Iya ma, mereka kehausan ini. " ujar Mia.
Lalu mama Rima menerima bayi satunya yang diberikan bidan kepadanya.
"Tugas kami sudah selesai, kami permisi tuan, nyonya. "
Setelah kepergian petugas medis itu, mama Rima meminta Arsen untuk menyuapi istrinya
"Sen, suapi istrimu. Dia pasti lapar. Karena bayinya meminum Asinya kuat sekali mama lihat. "
Arsen menurut dan duduk disebelah Mia dan mulai menyuapi istrinya itu sambil memandangi sang anak yang dengan kuat memakan sumber makanannya.
"Kuat sekali dia. " gumam Arsen yang masih bisa didengar mama Rima dan Mia.
"Kalau anak laki-laki memang begitu, beda sama perempuan. " ujar mama Rima.
Setelah terlepas dan bayi pertama terlelap. Mama Rima memberikan bayi kedua, agar diberi Asi juga dan meletakkan bayi pertama yang sudah tidur kedalam box.
__ADS_1
"Papa mana ma, kok tidak ikut. " tanya Arsen.
"Ikut, tadi ketemu teman lamanya di loby, jadi mama tinggal deh, takut Mia kelaparan. " ujar mama Rima sambil terkekeh.
'Mama memang the best. " kata Arsen dengan menunjukkan dua jempolnya.
"Sebaiknya kau belikan pompa asi untuk Mia, agar kalau mereka berdua nangis bersamaan, Mia tidak kualahan. " Mama Rima memberi saran.
"Iya ma. Nanti kalau kita pulang aku belikan. "
"Memang nya kapan Mia diperbolehkan pulang? " tanya mama Rima.
"Entah ma, belum ada kunjungan dokter. "
Terdengar suara pintu di ketuk, dan papa Mondi masuk, Arsen segera menutup sumber kehidupan anaknya dengan selimut bayi, agar tidak terlihat oleh papanya.
Papa Mondi langsung melihat bayi Arsen yang sedang tertidur di dalam box.
"Cucu opa sudah bersih dan wangi. " kekehnya.
"Arsen, apa kau sudah menyiapkan nama untuk anakmu? " tanya Papa Mondi.
"Sudah pa. "
"Baguslah, Kalau begitu siapa nama cucu pertama opa ini. " tanya papa Mondi lagi.
"Anak pertama kami, aku beri nama Aarash Bharata dan yang kedua Aariz Bharata. "
Papa Mondi tersenyum senang, sepertinya dia puas dengan pemberian nama kedua cucunya itu.
"Bagus, Arsen. Nama yang bagus. "
"Lalu bagaimana membedakan mereka berdua? Karena mama perhatikan mereka berdua kembar identik. " tanya mama Rima .
"Melalui matanya, ma. Jika Aarash bermata coklat seperti ku, maka Aariz bermata hitam seperti Mia."
Mia dan kedua mertuanyapun mengangguk. Karena dia sendiri juga lupa untuk menanyakan hal itu. Mia sendiri masih belum memperhatikan perbedaan kedua bayinya. Karena baru kali ini dia memandang bayinya dengan seksama.
"Aariz, sama seperti mama ya. Sedangkan kakak Aarash seperti papa, kalian memang baik. Mau saling berbagi. "
Semua yang mendengarkan celotahan Mia tertawa lirih, karen takut bayi mereka terbangun.
Sungguh kebahagiaan itu nyata adanya. Arsen yang dulu terluka karena cinta, kini dia merasakan bahagia karena limpahan cinta dari kedua orang tuanya, dan terutama Mia istrinya yang mau menerimanya apa adanya walaupun dia tau keadaan Arsen saat itu.Dan Kebahagiaan itu semakin sempurna dengan hadirnya dua buah hati mereka yang lahir dari rahim sang istri yang sangat dia cintai.
Tak ada lagi yang Arsen inginkan selain kebahagiaan ini terus mengalir hingga akhir usia, bersama dengan sang istri tercinta yang telah tulus mencintai dirinya apa adanya. Tanpa mengeluh sedikit pun. Kini tugasnya hanyalah membahagiakan mereka yang sudah begitu tulus mencintainya.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩ End ΩΩΩΩΩΩΩΩ...