
Arsen dan Mia bangun dari tidurnya. Mereka langsung membuka pintu dan melihat siapa yang sudah datang. Mata mereka sama-sama membulat saat melihat siapa yang datang.
"Mama... papa... " ucap mereka berdua bersamaan.
Mia langsung berhambur ke dalam pelukan mama Rima. Dan Arsen memeluk papanya.
"Ayo masuk, Ma, Pa. " Mia mempersilahkan mama dan papa mertuanya masuk ke dalam rumah setelah melepaskan pelukannya.
Mereka berempat kini sudah duduk di kursi ruang tamu, dengan Mia yang menggelendot manja di lengan mama Rima.
"Kenapa anak perempuan mama ini jadi manja sekali ya? " ujar mama Rima saat melihat sikap tak biasa menantunya.
"Nggak tau ma, sejak tau hamil. Mia jadi sangat manja. " Celetuk Arsen.
Mia tidak menanggapi ucapan suaminya dia masih bermanja dengan sang mama mertua.
"Ohhh, begitu. Mungkin karena hormon ibu hamil Sen. Kamu harus memakluminya. " kata mama Rima.
"Iya ma, Aku tau. Aku berusaha menjadi suami siaga untuk istriku. " kata Arsen.
Mia langsung berdiri saat menyadari sesuatu.
"Mau kemana sayang? " tanya Mama Rima.
"Aku lupa, seharusnya aku membuatkan minuman untuk kalian. Tunggu sebentar. "
Mia langsung beranjak dari sana dan menuju dapur. Ketiga orang disana hanya menggelengkan kepala dan tersenyum saat melihat tingkah Mia.
"Oh, iya. Kenapa papa dan mama kemari tidak memberitahu kami?" tanya Arsen kemudian.
"Sengaja memberi kalian kejutan. " mama yang menjawab.
Sejak tadi papa Mondi tidak bersuara, dia masih memperhatikan sekeliling rumah ini dengan seksama. Seperti ada yang berbeda. Apakah karena sudah lama dia tidak pernah kemari, jadi dia tidak tau kalau rumah ini sudah jauh berbeda.
Mia datang dengan membawa tiga gelas teh dan buah-buahan yang dia beli tadi.
"Ini ma, pa. Silahkan. " tawarnya.
"Mia, papa mau tanya. Sejak kapan rumahmu ini di renovasi? " tanya papa Mondi pada akhirnya, karena dia sangat penasaran.
Mia melirik ke arah Arsen yang sedikit salah tingkah.
"Itu, pah. Belum lama kok. Saat pertama aku datang kemari rumah ini masih dalam model lamanya. Namun, saat aku datang kemarin ternyata rumahnya sudah ada yang merenovasi. " kata Mia sedikit menggantung.
"Maksudnya? " tanya Papa dan Mama bersamaan.
Mia menghela nafasnya, lalu menatap kearah Arsen.
"Mas Arsen yang merenovasi rumah ini pah, mah. Tanpa sepengetahuan Mia. " kata Mia pada akhirnya.
Papa dan mama langsung menatap ke arah Arsen bersamaan.
"Maksud Mia apa, Arsen? bisa kamu jelaskan? " papa Mondi yang bertanya.
__ADS_1
Arsen menggaruk kepalanya, seperi orang bingung.
"Sebenarnya, setelah pulang dari sini kemarin aku mengutus beberapa anak buahku untuk melakukan renovasi di rumah ini, pah, mah. Aku minta model rumah ini tetap sama, hanya aku tinggikan bangunan rumah nya saja. Karena aku melihat ada beberapa bagian plafon rumah yang jebol juga. Jadi aku beinisiatif sedikit merenovasi rumah ini tapi tetap pada aslinya. Yang berubah hanya kamar Mia saja sama dapur agar rapi. " kata Arsen sambil cengar cengir.
"Aku nggak bilang sama Mia, karena mau bikin kejutan buat dia. Tapi ternyata dianya kabur duluan kemari. Jadi, nggak jadi ngasih kejutan deh." ungkap Arsen pada akhirnya.
Mama Rima dan Papa Mondi manggut-manggut mendengarkan penjelasan dari Arsen. Mereka mengerti maksud baik Arsen, tapi apakah mia juga bisa menerimanya.
"Bagaiman Mia? Apa kamu senang dengan apa yang Arsen lakukan ini? " tanya mama Hati-hati.
"Awalnya sih terkejut, ma. Tapi aku bisa menerimanya, karena mas Arsen sudah melakukan yang terbaik untuk rumah ini. Bahkan aku nggak kepikiran sama sekali untuk merenovasi rumah ini, walau tau ada beberapa bagian yang jebol. " Ucap Mia dengan jujur.
Mama Rima dan Papa Mondi bernafas dangan lega setelah mendengarkan ucapan Mia. Itu artinya tidak ada masalah.
"Papa masih ingat jalan ke kampung ini. " tanya Arsen kemudian.
"Masihlah. Papa tidak mungkin lupa. Tujuan papa mengajak mamamu kemari selain melihat keadaan Mia, papa juga ingin berziarah ke makam sahabat papa. " ujar papa Mondi.
Arsen mengangguk mengerti. "Kalau begitu besok pagi saja pa, kita berziarah bareng. Sekarang papa dan mama istirahat aja. "
Mama Rima dan Papa Mondi mengangguk setuju, begitu juga dengan Mia.
Mia lalu mengantarkan mereka ke kamar kedua orang tuanya.
"Papa dan mama Istirahat di kamar ayah dan ibu? Nggak apa-apa kan? " ujar Mia merasa sedikit tidak enak.
"Iya, santai saja, Mia. Kami bisa tidur di mana saja. " ujar mama Rima saat melihat Mia yang merasa tidak nyaman.
"Itu bagus, sayang. Itu artinya Arsen bisa mengerti perasaanmu. " ujar mama Rima dengan tersenyum hangat kepada menantunya itu.
"Iya ma. "
Setelah membersihkan diri, mereka kembali berkumpul. Kali ini mereka duduk di teras depan, di kursi bambu yang ada di sana. Mia keluar dengan sepiring pisang goreng dan teh hangat untuk menemani sore mereka.
"Kamu nggak mual masak ini, sayang. " tanya Arsen khawatir.
"Enggak mas. Nggak bau bumbu soalnya. " jawab Mia dengan tersenyum hangat kepada suaminya.
"Syukurlah."
"Memangnya Mia mengalami morning sickness? " tanya mama Rima.
"Iya ma, Mia nggak bisa mencium bau masakan. Langsung muntah dia. Makanya selama disini aku meminta tolong teh Desi masakin buat kita." Arsen menjelaskan keadaan istrinya.
"Desi siapa?" Tanya Mama Rima curiga.
"Itu yang rumahnya di depan. " tunjuk Arsen ke arah rumah Desi. "Dia dan suaminya yang aku suruh jagain rumah ini dan bersih-bersih rumah ini, mah, pah. " Jelas Arsen kemudian.
"Huuuuhhh, kirain... " gumam mama Rima.
"Kirain apa, mah. Nggak usah mikir aneh-aneh deh."
Semua orang terkekeh mendengar pembicaraan anak dan mama itu.
__ADS_1
Saat mereka tengah berbincang hangat, tiba-tiba Desi mendekat dengan sebuah rantang di tangannya. Sudah pasti itu masakan untuk makan malam Arsen dan Mia.
"Assalamu'alaikum." sapanya saat berada di depan semua orang.
"Wa'alaikum salam. "
"Maaf , Ada tamu ya. Mia ini teteh bawakan makan malam kamu sama Aa'. " kata Desi dengan sungkan.
"Iya teh, makasih. Kenalin ini mama sama papa mertua Mia. Orang tuanya mas Arsen. Mah, pah ini yang namanya teh Desi. Yang udah bantu kita selama disini. "
"Salam kenal, bapak, ibu." ucap Desi sopan.
Dan dibalas dengan anggukan kepala dan senyuman dari papa dan mama.
"Teh, masuk dulu yuk. bantuin Mia beresin ini. "Mia menggandeng tangan Desi untuk mengajaknya masuk ke dalam rumah, namun tanpa mereka sadari mama Rima juga mengikuti mereka.
"Masak apa hari ini Des. " tanya mama Rina tiba-tiba yang membuat Mia dan Desi terkejut.
"Mama ngagetin aja. " kata Mia sambil menepuk-nepuk dadanya.
Mama Rima terkekeh karena selalu melihat menantunya itu terkejut.
"Masak sederhana aja, bu. Saya orang kampung jadi nggak bisa masak aneh-aneh.. " kata Desi merendah.
"justru masakan dari kampung itu kadang yang membuat kita kangen. Kamu ingat nggak, Sayang. Waktu papa makan sayur lodeh kamu, dia sampai nangis. " kata Mama Rima mengingatkan.
"Iya ma. " ujar Mia sambil membuka tutup rantang dan memindahkan semua makanan ke piring.
"Sengaja teteh lebihin Mia. Soalnya tadi teteh lihat kamu ada tamu."
"Makasih ya teh. Ini Tadi aku juga beli bakso. Buat teteh dan kang Asep ya. Oh, iya besok pagi nggak usah bikinin kita sarapan teh, siang aja. Soalnya besok pagi kita mau ke makam ayah sama ibu. Kita cari sarapan diluar aja. " ujar Mia mengingatkan sebelum dia lupa.
"Oke deh, Mia. Siap. "
Tanpa mereka sadari, dari tadi mama Rima mencicipi satu persatu masakan Desi.
"Masakanmu, enak lho Des. Sama seperti masakan Mia. Semua bahannya pas. cocok dilidah ibu. " celetuk mama Rima sambil mencicipi kuah opor yang dibuat teh Desi.
"Makasih lho, bu. Udah suka dengan masakan Desi. Desi juga bersyukur Mia dan Aa' Arsen suka sama masakan Desi. Jadi bisa nambah-nambah penghasilan Desi. " kata Desi jujur.
"kamu gadis polos sama seperti menantuku Desi. Terima kasih ya, sudah bantuin anak-anak ibu di sini dan ngerepotin kamu selama mereka disini. "
"Nggak apa-apa bu, Desi juga seneng bisa bantuin Mia. Mia sudah kayak adik saya sendiri. kalau begitu saya permisi dulu. Suami saya pasti sudah nungguin. "
"Iya... iya... makasih ya Desi. "
"Maksih ya teh. "
Ucap Mia dan mama bersamaan.
Dari sini Mama Rima bisa melihat, sikap saling tolong menolong masih kental di kampung ini. Tidak seperti di kota, yang sudah hidup dengan diri masing-masing tanpa memperdulikan tetangga kanan kirinya.
"Jadi pengen tinggal di desa. " gumam mama Rima lirih
__ADS_1