
Operasi Sisie dilakukan tepat pukul tujuh pagi. Setelah kedatangan papa dan mamanya tepat tengah malam. Mereka langsung membubuhkan tanda tangan persetujuan tindakan operasi pada anaknya. Mereka meminta dokter melakukan yang terbaik untuk anak mereka satu-satunya.
Mereka juga baru menyadari kalau ternyata disana ada sosok Ben yang menjadi salah satu rekan bisnis papa Sisie.
"Tuan Ben, anda berada di sini? "
"Iya, Tuan Tomi. Saya berada disini juga ingin meminta maaf kepada anda dan nyonya Helen."
Tomi dan Helen saling berpandangan karena tidak mengerti maksud Ben.
"Apa maksud anda, Tuan. "
"Sisie mengalami ini semua karena saya."
"Maksudnya? "
"Jadi, semalam saya dan Sisie ada janji bertemu. Namun setelah saya lama menunggu Meisie tidak datang juga. Akhirnya saya menghubunginya, tapi yang mengangkat telpon saya bukan Sisie, melainkan seseorang yang mengabarkan kalau Sisie mengalami kecelakaan beruntun. "
Ben menceritakan semua yang terjadi semalam kepada kedua orang tua Sisie. Tomi dan Helen mengangguk mengerti.
"Karena itu tuan Tomi, saya meminta maaf karena saya, Sisie harus mengalami kecelakaan ini. "
Tomi mendekati Ben, dan menepuk pelan pundaknya.
"Sudah, tidak apa-apa tuan Ben. Ini semua sudah takdir. Tidak ada yang tau kalau ini semua akan terjadi. Tapi yang saya bingung. Bagaimana anda bisa mengenal anak saya Meisie? "
Ben langsung menatap papa Sisie itu dengan intens. Apa yang harus dia katakan pada pria itu? Hubungannya dengan Sisie masih belum jelas. Teman bukan, sahabat bukan, kekasih apalagi. Mereka hanya dua orang asing, dimana si perempuan atau anak mereka yang mengejar-ngejar dirinya.
"Saya tidak bisa menjelaskan seperti apa hubungan saya dengan anak anda. Nanti setelah Sisie sadar anda bisa menanyakan bagaimana hubungan saya dengan anak anda. "
Tomi dan Helen saling berpandangan dan mengangguk mengerti. Biarlah menunggu Sisie sadar dulu.
Saat orang tua Sisie sedang berbincang dengan Ben, tiba-tiba Arsen datang bersama dengan Mia. Memang semalam setelah kedatangan orang tua Sisie, Ben dan kedua orang tua Sisie meminta Arsen mengantar Mia pulang karena dia sedang hamil dan butuh istirahat. Arsen setuju tapi Mia tidak mau pulang karena mengkhawatirkan keadaan sahabatnya itu. Akhirnya Arsen berhasil membujuk Mia istirahat di hotel yang berada di samping rumah sakit.
Dan pagi ini mereka berdua sudah berada di rumah sakit untuk melihat keadaan Sisie, yang ternyata masih menjalani operasi.
"Hallo sayang. " sapa Mama Helen kepada Mia dan langsung memeluknya.
__ADS_1
"Kamu istirahat dengan baik semalam? "
"Iya tante. " jawab Mia singkat.
Mereka menunggu Sisie di depan ruang operasi dengan sedikit berbincang, agar suasana tidak kaku dan mendebarkan.
Hingga Arsen tiba-tiba berdiri karena mengingat sesuatu, dan meminta ijin kepada semua orang di sana untuk membawa Mia ke ruangan dokter kandungan.
"Maaf, saya dan Mia permisi dulu. "
"Lho mas, kita mau kemana? " tanya Mia bingung.
" Kita ke dokter kandungan dulu sayang, sekalian mumpung di rumah sakit. "
"Tapi... Sisie. "
"Suamimu benar Mia, mumpung kamu di sini sekalian saja periksa kandungan mu. Agar tau bagaimana keadaan bayi didalam kandunganmu. " ujar mama Helen menasehati Mia.
Mia hendak bicara namun segera di sela ibu sahabatnya itu.
"Sudah, tentang Sisie. Sudah ada kami bertiga. nanti setelah periksa kandungan kamu dan suamimu kan bisa kesini lagi atau langsung ke ruangan perawatan setelah Sisie selesai operasi. "
"Ayo senyum dong, kita kan mau melihat keadaan bayi kita, sayang. Setelah itu aku janji kita akan melihat sahabatmu lagi. Aku sudah ijin kerja hari ini dan meminta Harry untuk meng-handle semua pekerjaan ku dan untuk menemanimu disini." ujar Arsen menghibur istrinya yang tidak bersemangat.
Mendengar itu, Mia langsung menatap suaminya itu dengan mata berbinar dan langsung bergelayut manja di lengan suaminya itu.
"Makasih, mas. "
"Iya, apa sih yang enggak buat kamu." ujar Arsen sambil mengacak rambut istrinya lembut.
Mereka sudah Sampai di ruangan dokter kandungan. Dan tidak perlu antri karena Arsen sudah membuat janji tadi sebelum menemui orang tua Sisie.
"Silahkan duduk, Ada yang bisa saya bantu, Tuan, nyonya. " sapa seorang dokter dengan name tag Rena itu.
"Saya ingin memeriksakan kandungan istri saya dokter. Kemarin saya hanya memeriksakan keadaan istri saya di bidan Desa saat kamu berada di kampung halaman istri saya, dan baru mengetahui kalau ternyata istri saya hamil. Dan bidan itu menyarankan kami untuk memeriksakan ke dokter kandungan agar bisa melihat keadaan bayi kami melalui alat USG. " jelas Arsen.
Dokter Rena mengangguk mengerti dengan penjelasan dari Arsen. Dia lalu menanyakan keluhan apa saja yang dialami Mia.
__ADS_1
"Saya merasa mual kalau bau bumbu masakan dokter, dan kalau pagi saya tidak berselera makan. Berbeda dengan siang dan malam."
"Oohh, itu yang di sebut morning sickness nyonya. Tapi tidak masalah karena, wanita hamil biasa mengalami hal itu. Tapi anda harus tetap mengisi perut anda nyonya, dengan buah, roti atau susu. Agar nutrisi yang masuk ke dalam tubuh bayi tercukupi. "
Setelah menjelaskan semua itu, dokter Rena lalu meminta Mia untuk berbaring di ranjang periksa, disana juga ada layar monitor dan LCD untuk melihat perkembangan bayi di dalam perut ibu.
"Hmmm... Hamil yang pertama kali ya, nyonya. "
"Iya dokter, Saya baru menikah hampir empat bulan, dan dua bulan terakhir saya tidak mendapatkan tamu bulanan saya. " terang Mia.
Padahal dokter tidak menanyakan sedetail itu, Namun dengan penjelasan Mia dokter dapat menyimpulkan usia kandungan.
"Selamat Tuan, nyonya anda mendapatkan bayi kembar. " ujar dokter Rena kemudian.
"Maksdunya dokter?"
Dokter Rena akhirnya menjelaskan,gambar di monitor itu kepada calon orang tua.
"lihatlah tuan, ini ada dua kantung janin ,dan tiap kantung itu ada sebuah titik hitam. Yang artinya sudah ada dua janin di dalam kandungan nyonya Mia. Dan usia kehamilan sekitar kurang lebih sembilan minggu terhitung sejak anda terakhir menstruasi. " Jelas dokter Rena.
Arsen dan Mia saling bertatapan, mereka berdua lalu tersenyum lebar dengan sebuah pikiran yang sama. Ternyata yang dikatakan mama Rima ada benarnya. Bayi mereka ternyata ada dua.
Setelah perut Mia di bersihkan mereka berdua kembali berhadapan dengan dokter Rena.
"Ini saya resepkan vitamin dan anti Mual. Nasehat saya sama mungkin sama dengan nasehat bidan yang telah memeriksa keadaan nyonya Mia. Yaitu, banyak istirahat karena kehamilan di trimester pertama masih sangat rentan. Suami harus menjadi suami siaga menuruti keinginan ibu hamil dan menghadapi hormon ibu hamil yang berubah-ubah. "
Arsen dan Mia mengangguk mengerti lalu merkea berdua segera meninggalkan ruangan dokter itu.
"Kita lihat keadaan Sisie hari ini, besok aku harus istirahat di rumah, sayang. Ingat kata dokter, disini ada dua anak kita. " ujar Arsen sambil mengusap perut Mia yang sudah agak menonjol
"Iya, mas. Aku mengerti. Setidaknya hari ini aku menemani nya pasca operasi. " jawab Mia. Sebuah jawaban yang sangat diharapkan oleh Arsen.
Mereka telah sampai di depan ruang operasi namun ternyata sudah tidak ada orang di sana. Arsen segera mengubungi Ben. Pada panggilan pertama telponnya langsung mendapatkan jawaban.
"Kau dimana, " tanya Arsen saat Ben sudah mengangkat panggilannya.
"Aku dan semuanya sudah kembali di ruangan perawatan semalam. Sisie sudah selesai di operasi. " jawab Ben sekaligus menjelaskan.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu kami akan ke sana. " uajr Arsen menggoda Dika
Arsen dan Mia lalu memutar langkah mereka menuju ruangan rawat Sisie.