
"Mia... Mia.. Mia... "
Terdengar panggilan Arsen memanggil dari seberang telpon. Namun tidak ada yang menjawabnya.
Sisie yang juga melihat kejadian itu segera keluar menghampiri sahabatnya yang terluka di beberapa bagian tubuhnya.
"Ya ampun Mia. "
Terlihat ponsel Mia yang sedang melakukan panggilan. Sisie segera mengambil ponsel itu dan melihat siapa yang sedang melakukan panggilan dengan Mia. Ternyata Arsen. Sisie segera menjawab panggilan itu.
"Hallo, mas Arsen. ini Sisie."
"Dimana Mia? "
"Mia sepertinya pingsan, dia baru saja diserempet mobil. "
"Apa? "
"Aku akan membawanya ke rumah sakit. "
"Kirimi aku alamat rumah sakitnya. "
Panggilan ditutup. Sisie meminta beberapa orang memasukkan Mia ke dalam mobilnya.
Aldo yang juga melintas disana berhenti dan melihat apa yang terjadi. Dan melihat Mia dibawa masuk ke dalam mobil.
"Apa yang terjadi,Sie"
"Nanti aja ceritanya, sekarang kita bawa Mia ke rumah sakit dulu. "
Sisie menjalankan mobilnya diikuti Aldo dari belakang dengan motor sport nya. Sisie lupa, memberi alamat rumah sakit kepada Arsen. Sambil melajukan mobilnya, Sisie memberikan pesan suara kepada Arsen.
"Rumah Sakit Kota dekat kampus. "
Setelah mengirim pesan itu, Sisie kembali fokus pada kemudi dan menuju rumah sakit.
Sepuluh menit perjalanan Mereka akhirnya sampai di rumah sakit tujuan. Petugas medis segera membantu mengeluarkan Mia dari mobil dan segera mendapatkan penanganan di IGD. Sisie sendiri langsung memarkirkan mobilnya, setelah itu masuk kedalam bersama dengan Aldo.
Mereka menunggu di luar ruangan, karena belum diijinkan masuk. Terdengar suara derap sepatu menghampiri mereka berdua. Sisie dan Aldo langsung menoleh kearah dua orang yang berdiri disamping mereka.
"Mas Arsen. " sapa Sisie.
"Iya." jawab Arsen singkat sambil mengatur nafasnya.
"Bagaimana keadaan Mia. "
Sisie menggeleng. " Belum tau, mas. "
Aldo hanya memperhatikan pria di samping Mia ini. Pria yang memasuki usia dewasa, tampan dan berpenampilan sangat rapi.
"Siapa dia. "
Aldo hanya bisa menahan semua pertanyaan itu. Biarlah, nanti dia tau sendiri atau bertanya pada Mia dan Sisie jika keadaan sudah membaik.
Pintu ruangan terbuka, dan dokter keluar dari ruangan itu.
"Keluarga pasien. "
__ADS_1
"Saya dokter, saya suaminya. "
Deg....
Jantung Aldo berdegup kencang mendengar Kalimat yang baru saja keluar dari mulut Arsen.
"Suaminya... "
Bukan sanak keluarga lagi, tapi suaminya...
Aldo langsung terduduk lemas mendengar kenyataan ini.
"Bagaimana keadaan istri saya dokter. " tanya Arsen tak sabaran.
"Jadi anda, suaminya. " Dokter itu tersenyum penuh arti, karena mungkin saat memeriksa tadi dia menemukan beberapa tanda cinta di tubuh Mia.
"Iya saya suaminya. Bagaimana keadaan istri saya. " ucap Arsen lagi.
"Tenang tuan, nona Mia baik-baik saja. Tidak ada luka serius. Nona Mia hanya shock, dan ada lecet di beberapa bagian tubuhnya, dan kakinya sedikit terkilir. Sekarang sedikit membengkak. Tapi kami sudah memberikan penanganan. "
"Apa saya boleh melihat keadaannya? "
"Silahkan saja tuan. Karena tidak ada yang serius. Setelah mendapatkan perawatan, nona Mia boleh pulang. "
"Terima kasih, dokter."
Arsen segera masuk diikuti Sisie dan Aldo yang juga ingin melihat keadaan Mia.
Mia menoleh, ke arah orang yang baru datang. Matanya berkaca-kaca saat melihat Arsen masuk.
Arsen langsung berhambur memeluk istrinya itu.
"Syukurlah, kau tidak apa-apa. Aku khawatir padamu. " Arsen menepuk-nepuk punggung Mia dengan lembut dan mengusap rambutnya.
"Aku takut, mas. " Mia mulai menagis dipelukan suaminya.
"Tenanglah semua baik-baik saja. Aku akan mencari siapa yang sudah berani bermain-main dengan istri Arsenio Bharata. " ucap Arsen dengan wajah yang sudah mengeras.
Pasalnya, dari laporan orang yang mengikuti Mia. Mobil yang menabrak Mia memang melakukannya dengan sengaja. Dan tidak benar-benar ingin menabrak Mia, hanya ingin menakut-nakuti nya saja.
Aldo yang melihat pemandangan itu pun langsung keluar dari ruangan Mia dirawat. Dia tidak tahan melihat wanita yang dia kagumi dan dia sukai sejak dulu kini berada di dalam pelukan orang lain.
Sisie yang melihat Mia sudah tenang dengan suaminya, keluar mengikuti Aldo yang sudah berada diluar rumah sakit.
"Sie... bisa kau jelaskan semua ini? " tanya Aldo dengan wajah sendunya.
Sisie lalu mengajak Aldo duduk di sebuah kursi tunggu. Dan mulai menceritakan apa yang terjadi pada Mia selama ini. Kehidupan Mia yang sulit dan terlilit hutang, hingga dia akan dijual oleh rentenir yang telah meminjamkan uang kepada orang tuanya. Dan akhirnya bertemu Arsen yang menolongnya.
"Arsen akan melunasi hutang-hutangnya jika mia mau menikah dengannya. Karena dia dituntut agar segera Menikah oleh orang tuanya."
"Apakah, semacam pernikahan kontrak?" tanya Aldo yang berbinar, karena jika itu pernikahan kontrak maka dia masih memiliki kesempatan untuk memiliki Mia setelah kontrak berakhir.
Sisie menggeleng. "Bukan itu pernikahan resmi secara agama dan hukum. Karena orang tua Arsen bukan orang bodoh yang akan membiarkan anaknya melakukan pernikahan kontrak. "
Sisie tidak menceritakan yang sebenarnya kepada Aldo, karena dia tau Mia sangat mencintai Arsen dan berharao kontrak itu suatu hari nanti akan dibatalkan.
Seketika Aldo kembali lemas.
__ADS_1
"Awalnya mereka memang tidak saling kenal, tidak saling cinta. Tapi sejak sebulan pernikahan mereka, sepertinya mereka bisa menerima satu sama lain. " ucap Sisie kepada Aldo. Sisie tidak ingin Aldo terlalu berharap kepada Mia. Dan dia tidak ingin Aldo terluka terlalu dalam.
"Apa benar begitu? "
Sisie mengangguk. "Bahkan aku pernah melihat ada bekas tanda cinta di leher Mia beberapa waktu lalu. "
Aldo menutup wajahnya dengan kedua tangannya, dia tidak percaya kalau wanita yang selama ini diam-diam dia cintai kini sudah bersuami.
"Kenapa kalian tidak mengatakan padaku kalau Mia dalam kesulitan. Aku bisa membantunya dan mungkin yang menikah dengan Mia adalah aku, bukan pria tidak jelas itu. "
"Hush, jangan keras-keras kalau bicara. Aku tau kau kecewa. Tapi apa benar kau tida tau siapa suami Mia? " tanya Sisie sambil menepuk-nepuk punggung sahabatnya itu.
Aldo menggeleng.
"Dia itu Arsenio Bharata. Pemilik perusahaan Bara, yang berkerja di bidang properti, batu bara, Hotel dan masih banyak lagi. Pusing aku. Dan meskipun Mia cerita tentang masalahnya padamu, dia tidak akan mau menerima bantuanmu. Aku sendiri yang ingin membantunya di tolak mentah-mentah. Dia hanya ingin berusaha sendiri. Dan mungkin usahanya itulah yang akhirnya mempertemukan dia dengan jodohnya. " Sisie memberikan pengertian kepada Aldo, agar dia tidak terlalu kecewa dengan keadaan saat ini.
"Kita harus memberinya suport. Karena hanya kita berdua sahabatnya...."
"Aku pergi dulu. " Aldo berdiri kemudian melangkah meninggalkan Sisie.
Sisie menghela nafas memandang punggung Aldo yang menjauh, Sisie tau Aldo sangat kecewa kepada Mia dan kepadanya juga. Mungkin.... Tapi dia tak ambil pusing, Sisie kembali masuk ke dalam ruangan Mia dan melihat Mia di tuntun suaminya duduk di kursi roda.
"Sie... dari mana saja? " tanya Mia saat melihat sahabatnya itu.
"Tadi dari toilet, kebelet. Apa sudah mau pulang, mas" tanya Sisie kepada Arsen.
"Iya, Mia minta pulang. Aku titip Mia dulu ya. Aku mau urus administrasi dulu. "
"Iya, mas. "
Arsen pergi meninggalkan mereka berdua.
Mia memicing melihat Sisie yang sedang memainkan ponselnya.
"Sie, jujur kamu tadi dari mana. Dan mana Aldo, tadi aku sepetinya melihat dia."
"Aldo marah, ngambek sama kita. Dan kecewa. "
"Maksudnya? "
"Dia tau kamu sudah menikah dengan Arsen. Jadi dia kecewa. Sudah kubilang, Aldo itu suka sama kamu. " kata Sisie menjelaskan.
Mia mengangguk anggukkan kepalanya.
"Ya bagaimana lagi, kalau aku cuma nganggep dia hanya sebatas sahabat, Sie. Nggak bisa lebih. Lagipula kau tau siapa pria yang aku cintai. "
Sisie mengangguk mengerti. "Ya aku tau itu, perasaaan memang tidak bisa dipaksakan. Dan hatimu sudah bertaut pada Arsen. Semoga kau juga mendapatkan balasan cinta yang sama dari Arsen. "
Tanpa mereka sadari ada senyuman seseorang yang terkembang mendengar hal itu dari balik ruangan mereka.
"Entahlah, aku tidak terlalu berharap. Karena aku tau posisiku yang hanya sebagai istri kontrak saja."
"Lalu kalau kontrakmu habis? apa yang akan kau lakukan?"
"Emmm... mungkin aku akan menerima Aldo. Itupun kalau Aldo mau menerimaku yang sudah tidak perawan ini."
Keduanya lalu tertawa lepas membicarakan sesuatu yang absurd itu. Namun tidak dengan seseorang yang berada di luar ruangan. Wajahnya langsung di tekuk masam.
__ADS_1