
"Mas Arsen, Ayo kita bawa Mia ke rumah sakit. " Sisie berteriak kearah Arsen dan Ben.
Mendengar nama Istrinya dan kata rumah sakit, Arsen langsung berlari masuk ke dalam rumah. Dilihatnya istrinya itu sedang berdiri dengan memegangi punggungnya.
"Kamu kenapa, sayang. " tanya Arsen panik.
"Perutku udah turun banget mas, kata Bi Mar ini adalah satu tanda melahirkan. "
"Apa? benarkah itu, bi?"
"Iya, den. coba diperiksakan saja ke dokter sebelum terlambat. Ada ibu hamil yang merasakan kontraksi, ada juga yang nggak merasakan apa-apa tapi bayi tiba-tiba keluar gitu aja. Bibi ngeri lihat perut neng Mia udah turun banget itu. " tunjuk Bi Mar kearah perut Mia.
"Ya sudah, ayo. Tunggu sebentar, aku bawa jaket dan baju ganti dulu. Takut beneran melahirkan. Ben, aku minta tolong, siapkan mobil ya. "
"Oke. " Ben segera keluar setelah menyambar kunci mobil Arsen
Sedangkan Arsen mengambil tas yang sudah Mia siapkan. Memang Mia sudah persiapan dari jauh-jauh hari pakaian gantinya dan sang suami serta selimut juga kalau menginap di rumah sakit. Pakaian untuk anaknya pun sudah dia siapkan tadi.
"Bi, tolong masukkan dua tas ini ke mobil. " pinta Arsen kepada bi Mar. Dia sendiri berjalan perlahan menuntun sang istri ke luar rumah. Disana Ben dan Sisie sudah siap menunggu mereka.
"Kalian mau ikut kami atau tidak? " tanya Arsen kepada pasangan itu.
"Kami akan ikut. Sisie ingin menemani Mia katanya. "
"Baiklah, ayo. "
"Kau dibelakang bersama Mia, biar aku di depan bersama Sisie."
"Thanks, bro. "
Mobil mereka akhirnya membelah jalanan malam itu suasana jalanan masih terlihat padat, karena waktu masih belum terlalu larut.
"Ssshhh."
Terdengar Mia mulai mendesis, menahan sakitnya.
"Mana yang sakit, sayang. "
"Punggungku sakit, dan tendangan baby keras sekali. "
Arsen langsung mengusap pelan perut istrinya sambil membisikkan sesuatu.
"anak - anak papa yang pinter jangan nakal ya. Jangan kenceng-kenceng nendang perut mama, kasihan mamanya kesakitan itu. " Bisiknya tapi masih bisa di dengar semua orang..
Sisie dan Ben saling berpandangan saat mendengarkan kalimat yang di ucapkan Arsen. perlahan, tangan Ben menggenggam tangan Sisie dengan erat.
__ADS_1
"Bagaimana? apa mereka masih menendang? " tanya Arsen kemudian.
Mia tersenyum sambil menggeleng.
"Syukurlah, anak-anak papa memang pintar. " ucapnya lagi sambil mengusap perut istrinya dengan lembut dan mengecupnya.
Melihat dan mendengar perlakuan Arsen kepada istrinya, membuat hati Ben berdesir hebat. Dia seolah belajar sesuatu dalam hal ini.
"Kelak jika istriku hamil aku akan memperlakukanmu dengan lembut seperti Arsen memperlakukan istrinya. " tekad Ben dalam hati.
Sisie juga merasakan gelenyar aneh mendengar setiap ungkapan Arsen kepada bayi mereka. Berharap semoga suaminya kelak bisa bersikap lembut seperti itu saat dia hamil.
Setelah menempuh tiga puluh menit perjalanan karena macet, mereka akhirnya sampai di rumah sakit. Arsen berlari meminta kursi roda untuk istrinya, karena tidak mungkin membiarkannya berjalan atau menggendongnya. Arsen takut jatuh dan bisa membahayakan istri dan kedua anaknya.
Kursi roda yang di mintapun sudah siap, Mia dengan bantuan suaminya duduk di kursi roda, lalu di dorong perawat untuk langsung menuju ruang persalinan agar segera mendapat pemeriksaan.
Di sana hanya ada perawat dan bidan yang berjaga, karena dokter sudah pulang dari tadi sore.
"Dimana dokternya," tanya Arsen panik.
"Dokter sudah pulang, tuan. akan saya hubungi sebentar lagi. Untuk saat ini biarkan bidan yang bertugas untuk memeriksa sudah bukaan berapa ibu nya. " kata perawat sedikit takut, melihat wajah Arsen yang memerah.
"Ya sudah, cepat lakukan. Hati-hati. Dan cepat hubungi dokter yang biasa memeriksa istriku. "
"Baik tuan. "
"Masih pembukaan tiga tuan. " ujar bidan yang memeriksa.
"Harus buka berapa smaapai istriku bisa melahirkan. " tanya Arsen cemas.
"Sepuluh, tuan. Karna pembukaan sempurna adalah sepuluh maka kepala bayi bisa keluar dari jalan lahir. Sebaiknya anda mengajak istri anda berjalan-jalan kecil agar pembukaan cepat. Sambil menunggu dokter Rena datang. Nanti kita juga memeriksa keadaan bayinya melalui USG. Apakah kedua janin dalam keadaan sempurna untuk keluar. " jelas bidan itu.
Arsen mengajak Mia turun dari brangkar, dan mengajaknya berjalan-jalan di Koridor rumah sakit.
"Bagaimana? " Tanya Sisie setelah melihat Mia keluar dari ruang pemeriksaan.
"Masih pembukaan tiga. "
Sisie dan Ben saling berpandangan karena tidak mengerti maksud Arsen.
Saat Arsen sedang menuntun istrinya berjalan, terdengar suara langkah kaki cepat mendekati mereka. Terlihat mama Rima dan Papa Mondi datang dengan tergopoh.
"Bagaiman, Sen. " tanya Mama Rima saat sudah berhadapan dengan anak dan menantunya.
"Masih pembukaan tiga ma. Kita menunggu dokter dulu untuk melakukan USG agar tau posisi bayi sudah siap untuk lahir normal atau tidak. " jelas Arsen.
__ADS_1
Mama Rima langsung memeluk menantunya itu, dan memberikan semangat untuk berjuang mengeluarkan anak-anak mereka.
"Semangat sayang, aku yakin kamu bisa. "
Papa Mondi yang dari tadi diam pun mulai mendekat, dan memberikan semangat kepada anak perempuannya itu.
"Semangat, kamu pasti bisa ayah dan ibumu juga mendoakan yang terbaik dari sana. " ujar papa Mondi dan mendapatian anggukan lemah dari Mia.
Akhirnya dokter Rena datang dan segera meminta Arsen membawa istrinya keruangannya. Dengan cekatan Arsen membawa istrinya itu agar segera diperiksa dokter.
Dokter Rena melakukan hal yang sama kepada Mia, dengan mengecek jalan lahir.
"Sudah pembukaan empat. " ujarnya.
Lalu dia melakukan pemeriksaan USG kepada Mia. Wajah dokter Rena berubah cemas saat melihat keadaan bayi di dalam sana.
"Maaf Nona, tuan. Sepertinya nona Mia tidak bisa melahirkan secara normal. Karena salah satu bayi tidak pada posisinya. "
"Maksudnya? " tanya Arsen cemas.
"Satu bayi sudah berada di posisi melahirkan dengan kepala di bawah namun bayi satunya masih dalam keadaan kepala di atas tuan. " jelas dokter Rena.
"Jadi... "
"Iya, untuk mengurangi resiko pada bayi dan ibunya, jadi saya sarankan untuk melakukan operasi tuan. " ucap dokter Rena pada akhirnya.
"Mas... " Mia menggenggam erat tangan Arsen.
"Lakukan yang terbaik untuk istri dan anak saya dokter. selamatkan mereka bertiga. "
"Baik, tuan. Kami akan melakukan yang terbaik. "
Dokter Rena segera meminta asistennya untuk menyiapkan ruang operasi dan sebuah brangkar untuk mendorong Mia ke ruangan operasi.
Mia dipakaiakan pakaian steril begitu juga dengan Arsen yang meminta untuk menemani Mia saat menjalani operasi.
"Bagaiamana? " tanya Rima kepada Arsen. Dia juga merasa cemas saat melihat seorang perawat keluar dengan wajah panik.
"Mia harus operasi ma. Bayi kami yang satu masih belum siap dalam posisi lahir. " Arsen menjelaskan kepada mamanya.
Semua orang terkejut saat mendengarkan penjelasan Arsen.
"Ya Tuhan... apapun itu, kau harus menemaninya dan memberikan kekuatan kepada Mia, Arsen. "
"Iya ma. "
__ADS_1
"Tuan Arsen, mari. " Dokter Rena mengajak Arsen mengikutinya menuju ruang operasi dengan Mia yang sudah di dorong oleh beberapa perawat.
"Ya Tuhan, selamatkanlah menantu dan cucu-cucuku. " ucap Rima dalam doanya