Istri Kontrak Tuan Gay

Istri Kontrak Tuan Gay
Teror Ben


__ADS_3

"Sudah aku putuskan. " ucap Mia sambil menyeringai.


Mia lalu menggelendot manja dilengan Arsen.


"Mas, kalau kita menarik saham mereka apa yang akan terjadi pada perusahaan mereka? " tanya Mia manja pada suaminya, tanpa memperdulikan semua orang disana.


Tapi Sebaliknya, para keluarga tersangka melotot mendengarkan pertanyaan Mia kepada Arsen.


"Nona aku, mohon jangan. " pinta papa Jessica dan papa Sandra kepada Mia.


Tapi Mia tidak mempedulikannya karena dia sudah sangat kesal dengan ulah Jessica dan Sandra. Yang hampir membunuhnya, hanya karena Aldo Sahabatnya.


"Jika aku menarik sahamku, maka investor lain juga akan ikut menarik saham mereka dari perusahaan mereka berdua. "


"Wah, pengaruhmu luar biasa ya, mas. "


"Siapa yang tidak kenal dengan Arsenio Bharata di dunia bisnis. Jika aku mundur dari sebuah perusahaan itu artinya perusahaan itu bermasalah. Dan mereka tidak mau rugi, sehingga mereka juga akan ikut menarik saham mereka. " Jelas Arsen.


"Kau dengar itu Jessica. Jika suamiku menarik sahamnya dari perusahaan orang tuamu maka bisa aku pastikan kau akan menjadi gelandangan. Seperti aku selama satu tahun ini. "


"Mia... Aku mohon jangan. Aku tidak mau jadi gelandangan. Aku akan berlutut dan meminta maaf padamu."


Cih...


"Apa keputusanmu Mia, sayang? " tanya Arsen sambil mengusap lembut rambut istrinya


"Karena aku tidak mengalami luka berat, Tarik saja sahammu 20% mas, Aku ingin tahu apa yang akan terjadi kepada mereka berdua.Apakah mereka akan bertahan dengan Saham sebesar itu darimu. Dan... untuk mereka berdua biarkan tetap kuliah, aku ingin tahu juga apa yang akan terjadi kepada mereka. " kata Mia dengan penuh percaya diri.


"Bagaimana kalau mereka membulymu lagi? " tanya Arsen yang tidak percaya dengan keputusam Mia.


"Mereka tidak akan berani membuli ku, karena aku tahu kau sudah menugaskan beberapa orang untuk mengawasiku kan? ' ucap Mia penuh percaya diri.


"Bagaimana kau bisa tahu? " tanya Arsen sambil memandang Mia.


"Pokoknya aku tau. "


"Aku ingin memberi pelajaran kepada mereka bagaimana rasanya hidup tanpa memiliku uang, dan harus bekerja keras." ucap Mia pada akhirnya.


"Nona, jangan tarik separuh saham tuan Arsen, aku mohon... itu akan menjadi pertanyaan para pemegang saham nanti." Kata Papa Jessica mengiba.


Mia tidak mempedulian kedua orang tua itu yang mengiba. Tapi anaknya saja masih acuh, tidak memperdulikan orang tuanya.


"Anda beri saja pelajaran kepada anak anda tuan. Sepertinya selama ini kalian terlalu memanjakan mereka berdua. Sehingga mereka berdua sampai memiliki keinginan untuk membunuh ku. Yang tidak punya salah apa-apa kepada mereka. " kata Mia yang masih melihat keangkuhan pada diri Jessica maupun sandra.


"Aku akan menyuruh suamiku mengembalikan sahamnya jika kalian bisa mendidik anak kalian menjadi pribadi yang baik dan tidak angkuh juga sombong, seperti yang kulihat saat ini. " Kata Mia lagi sambil menunjuk wajah Jessica dan Sandra.

__ADS_1


"Pak Rektor, pak Dekan, dan para dosen. Saya minta maaf karena telah mengganggu waktu kalian, untuk sesuatu yang tidak penting . Aku dan Suamiku undur diri dulu. "


Mia langsung mengajak suaminya keluar, diikuti Harry.


"Apa kau yakin hanya memberikan hukuman itu kepada mereka? 20% saja yang harus di tarik? "


"Iya, bagaimanapun aku kasihan kepada mereka. Mereka adalah orng tua yang menyayangi anaknya. Aku tidak ingin orang tua itu menderita juga karena perbuatan anaknya. Aku ingin mereka bertindak tegas kepada anaknya, jangan terlalu memanjakannya sehingga membuat mereka bertindak semena-mena. Mereka masih belum tqu bagaimana rasanya tidak memiliki orang tua " Kata Mia menjelaskan kenapa hanya memberikan hukuman itu.


"Baiklah terserah padamu saja. "


Saat ini Mia sudah sampai di depan kelasnya. Dia menjadi pusat perhatian semua mahasiswa yang berada disana. Mereka tidak menyangka saja kalau seorang Lamia gadis sederhana itu bisa bersanding dengan seorang Arsenio. Sungguh kebaikan apa yang dibuat Mia sehingga bisa membuatnya sampai di titik ini.


"Aku pergi kerja dulu. Nanti kalau sudah mau pulang hubungi aku, aku akan meminta sopir menjemputmu. "


"Baiklah."


Mia langsung menggamit tangan Arsen dan menciumnya. Arsen pun membalasnya dengan memberikan kecupan dalam di keningnya.


"Hati-hati ya. Kalau ada apa-apa segera hubungi aku atau Harry. "


Mia mengangguk, "kau juga hati-hati ya. "


Arsen segera berbalik dan meninggalkan Mia. Sedangkan Mia langsung masuk ke kelasnya dan duduk dengan tenang. Teman-teman Mia hanya menatap Mia dengan tatapan tak percaya. Orang yang selama ini mereka remehkan kini tak bisa lagi mereka pandang sebelah mata. Karena dia sudah menjadi seorang nyonya dari orang yang sangat berkuasa.


Mia melihat Aldo masuk ke kelas, dia tersenyum kepada Aldo namun Aldo mengacuhkannya dan duduk jauh darinya tidak duduk satu bangku lagi dengan Mia.


°


°


Di perusahaan.


Arsen dan Harry sudah sampai di kantornya. Dan saat ini mereka sedang duduk berhadapan.


"Apa yang harus saya lakukan tuan, ternyata nona Mia sangat lemah jika berhubungan dengan orang tua. "


"Iya, mau bagaimana lagi, Dia menginginkan hukuman seperti itu. Jadi lakukanlah. Aku ingin tahu siapa yang berani membantu mereka jika aku sudah menarik saham ku di kedua perusahaan kecil itu. " Kata Arsen.


"Baiklah tuan, akan saya kerjakan. " Harry segera undur diri dari hadapan Arsen untuk mengerjakan tugasnya.


Namun tak lama dia kembali lagi.


"Tuan... ada tuan Ben ingin bertemu dengan Anda.


"Suruh dia masuk."

__ADS_1


Arsen segera beranjak dari kursi kerjanya menuju sofa, untuk menyambut Ben.


"Ada apa lagi. Kenapa akhir-akhir ini kau sering datang ke perusahaanku. " tanya Arsen sambil berjabat tangan dengan Ben.


"Tidak apa-apa, tentu saja kemari. Kau sudah tidak pernah lagi datang ke klub. Lalu kemana lagi aku mencarimu kalau bukan di sini. " Kata Ben sambil mendudukkan dirinya di atas sofa.


"Kenapa? " tanya Arsen lagi yang melihat wajah sahabatnya itu terlihat kusut.


"Aku hanya sedikit kesal." jawab Ben ketus.


"Kesal kenapa? "


"Ada yang menerorku, beberapa hari ini. "


"Teror? teror seperti apa? " Tanya Arsen dengan terkejut.


Ben lalu membuka ponselnya dan memberikannya kepada Arsen.


Arsen menerima ponsel itu, dan melihat teror seperti apa yang dialami Ben.


Sedetik kemudian, tawa Arsen meledak setelah membaca teror yang dimaksud Ben.


"Ini bukan teror Ben, tapi ini adalah pesan dari salah seorang penggemar rahasiamu. "


Ben mendengus kesal mendengar ucapan sahabatnya itu.


"Arsen kau tau siapa aku kan? "


Arsen langsung terdiam setelah mendengar ucapan Ben. Dan wajahnya tampak serius.


"Ya aku tau. Maafkan aku, Ben. Karena dirimu inilah aku mendapat gelar yang sama sebagai seorang gay. " ucap Arsen dengan serius.


"Cobalah buka hatimu, untuk seorang wanita. Dan lupakan rasa sakit hatimu kepada semua wanita. Maka kau akan bisa merasakan seperti apa indahnya dicintai dan mencintai seperti diriku saat ini. Kembalilah Ben, aku tau kau bisa. " Kata Arsen lagi dengan sangat serius.


"Kau benar-benar sudah terlepas dari traumamu? dan memilih dia untuk menjadi pendampingmu? " tanya Ben sambil mengernyitkan alisnya.


Arsen mengangguk. "iya, aku sudah menerimanya, dan aku tidak mungkin berbohong terus menerus kepada kedua orang tuaku, kalau sebenarnya aku ini normal. "


"Baguslah kalau kau sudah menemukan sesorang yang kau cari selama ini. " kata Nen sambil menyandarkan tubuhnya di kursi.


"Kalau aku entahlah. Apa aku bisa kembali seperti dulu atau tidak. Masih belum ada wanita yang bisa menggetarkan hatiku, sehingga aku masih berada di jalur ini. Aku tidak tau, apakah aku bisa kembali atau tidak. Tapi aku bahagia untukmu. "


"Bagaimana dengan wanita yang menerormu ini, sepertinya dia benar-benar menyukaimu. " tanya Arsen sambil menunjuk ponsel Ben.


"Dia sangat menyebalkan, karena tidak pernah tau waktu saat mengerimiku pesan. Ketika aku telpon dia juga tidak pernah mengangkatnya. " kata Ben dengan kesal.

__ADS_1


"Ayolah Ben, kenapa kau menjadi bodoh menghadapi teror kecil seperti ini. Kau bisa melacaknya untuk mencari tahu siapa yang sudah mengirimimu pesan-pesan yang sangat manis ini."


"Kau benar, kenapa aku tidak berfikir sampai disitu? "


__ADS_2