
Tubuh Arsen menegang saat mendengar nama rujak disebutkan yang artinya akan ada buah-buahan yang harus disiapkan. Tadi Mia memang minta berhenti di pasar untuk membeli beberapa buah-buahan saat pulang dari minimarket. Tapi dia tidak tahu kalau semua itu untuk makanan yang bernama rujak.
Ada apa dengan rujak?
Kenapa Arsen sangat tegang saat mendengar nama rujak?
Sebenarnya bukan karena makanan yang bernama rujak, tapi karena dalam rujak biasanya ada buah mangga muda yang wajib ada dalam campuran salad asli Indonesia itu. Dan buah itulah yang ditakutkan Arsen.
Arsen memiliki pengalaman buruk dengan buah yang bernama mangga. Karena saat kecil dulu dia pernah jatuh dari pohon mangga, dan membuatnya harus di rawat selama berbulan-bulan di rumah sakit.
"Mas, Arsen. Bisa nyariin kita buah mangga ga? "
Sebuah permintaan yang sangat dihindari Arsen akhirnya keluar juga dari mulut istrinya yang sedang hamil.
Arsen tidak menjawab, dia hanya diam mematung mendapatkan pertanyaan itu.
"Mas.... "
Mia duduk di sampingnya sambil menggoyangkan tubuh Arsen yang sedang melamun. Meninggalkan Desi yang sedang menyiapkan buah untuk membuat rujak permintaan ibu hamil.
"I... Iya... Apa katamu tadi. " kata Arsen teragagap.
"Mas Arsen kenapa sih? " tanya Mia curiga.
"Eng... enggak... apa-apa kok. " jawabnya masih tergagap.
Mia mendesah kasar mendengar ucapan suaminya itu. Apa yang terjadi sebenarnya kepada suaminya.
"Mas, bisa ambilin mangga di pohon belakang rumah, ga? " tanya Mia lagi.
"Maaf Mia, tapi bisa nggak minta tolong ke kang Asep aja. Untuk kali ini aku nggak bisa ngabulin permintaanmu. " ucap Arsen dengan tertunduk lesu.
"Kenapa? katanya mas Arsen mau memberiku apapun yang aku minta. Tapi giliran aku cuma minta mangga aja mas Arsen nggak mau ngabulin. " kata Mia sambil bersedekap dada dengan bibir yang sudah mengerucut.
"Apapun sayang, tapi jangan mengambil mangga ya? Aku nggak bisa naik pohon mangga. Pleaseeee. " bujuk Arsen dengan mengiba.
"Siapa yang suruh naik pohon mas, orang pohon mangganya itu pendek tinggal metik doang. Makannya, dilihat dulu. Jangan langsung bilang nggak bisa. " ketus Mia kemudian.
Mendengar itu Arsen menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, dia jadi seperti orang bodoh yang tidak tahu apa-apa. Benar-benar bodoh.
Mia langsung menarik tangan Arsen dan mengajaknya ke halaman belakang. Disana memang ada beberapa pohon buah-buahan seperti rambutan, mangga, jambu dan masih banyak lagi. Pohonnya juga tidak terlalu tinggi. Jadi Arsen bisa mengambilnya hanya dengan sedikit melompat dengan tubuhnya yang tinggi itu.
__ADS_1
"Lihatlah, mas nggak perlu naik pohon mangga. Mas Arsen cukup sedikit lompat aja. Atau pakai kayu itu. " kata Mia sambil menunjuk sebuah kayu untuk mengambil buah.
"Iya.... iya.... mas Salah. Jangan ngomel lagi. Ibu hamil nggak boleh ngomel-ngomel, nggak baik di denger adik bayi nanti. " ucap Arsen sambil membungkam omelan Mia dengam ciuman di bibirnya. Dia tidak peduli ada Desi yang memperhatikanya di dapur, dan sedang cengar-cengir sendiri melihat tingkah kedua orang itu.
"Mas, ih....malu sama teh Desi. Ayo, buruan Ambilin buah mangganya." Mia mendorong tubuh Arsen agar segera mengambilkannya buah mangga yang sudah membuatnya nge-ces dari tadi.
Arsen masuk ke dalam rumah, dan mengambil sandalnya. Dia lalu mendekati pohon mangga yang tidak terlalu tinggi namun berbuah lebat. Dia tersenyum geli melihat tingkah konyolnya tadi, yang merasa parno lebih dulu sebelum melihat kenyataannya.
"Ah... kau memang bodoh Arsen. " Arsen memukul-mukul kepalanya sendiri.
Mia mengernyitkan keningnya melihat kekonyolan Arsen.
"Mas Arsen ngapain. Buruan atuh... " seru Mia, yang melihat Arsen dengan sikap konyolnya.
Arsen yang mendengar teriakan Mia segera mengambil satu buah mangga yang berada tepat di hadapannya.
"Satu cukup? " teriak Arsen balik.
"Dua mas. "
Arsen mengambil satu buah mangga lagi setelah itu dia menemui istrinya.
Arsen langsung merangkul bahu istrinya dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.
Di dalam rumah, Desi sudah siap dengan bumbu yang sudah di uleg dan buah yang sudah dipotong-potong. Memang pekerjaan orang kampung selalu cekatan dalam hal apapun.
"Ini teh. " Mia memberikan dua buah mangga muda kepada Desi.
Mia mencium bau mangga muda itu Dengan air liur yang mau menentes. Sungguh menggoda selera ibu hamil itu.
"Ayo dimakan kalau udah nggak tahan, Mia. Teteh bikinnya nggak pedes kok. Mangga A' dimakan rujaknya. " tawar Desi kepada Arsen juga.
Tanpa canggung, Arsen juga menyantap rujak buatan Desi itu. Dan disini bisa dilihat siapa yang pengen dan siapa yang ngabisin rujaknya. Arsen begitu lahap memakan rujak itu, tanpa memperdulikan Mia dan Desi yang terbengong melihat tingkahnya.
"Mia kayaknya yang ngidam bukan cuma kamu deh, tapi si Aa' juga ngidam." Bisik Desi.
Mia menganggukkan kepalanya menyetujui ucapan Desi.
"Lho, ayo dimakan rujaknya. Ini enak banget lho, sayang. " kata Arsen yang masih menyantap rujak itu dengan lahap.
"Iya, mas. "
__ADS_1
Perlahan Mia menyuapkan sepotong buah mangga yang sudah dicocol bumbu rujak kedalam mulutnya. Dan dia merasakan, memang rasanya sangat enak. Sepasang suami istri itu menikmati rujak buatan Desi dengan lahap. Desi yang melihatnya merasa senang karena masakan buatannya diterima baik oleh kedua pasangan suami istri itu.
"Ayo atuh, teh. Makan bareng. Masak cuma kita berdua yang makan."
"Udah, nggak apa-apa habisin aja. Teteh lihat kalian berdua makan udah kenyang. " kata Desi sambil tertawa lebar.
Mendengar itu Arsen dan Mia ikut tertawa. Mereka tidak menyangka kalau terlalu lahap memakan rujak itu. Tanpa menghiraukan orang yang membuatnya.
"Teteh pulang dulu ya. Nanti malam ke sini lagi sama kang Asep. "
"Iya, teh. makasih ya. Udah mau repot-repot bikinin kita rujak. " kata Mia dengan sedikit sungkan.
"Enggak apa-apa, Mia. lagian teteh cuma bantu motong buah dan nguleg bumbu aja. Semuanya kan sudah siap."
"Pokoknya makasih ya, teh. Mas Arsen langsung tidur karena kekenyangan. "
"Iya, sama-sama. Teteh pulang dulu. Assalamu'alaikum. "
Setelah kepergian Desi, Mia menutup pintu rumahnya dan menguncinya. Karena dia ingin beristirahat, menyusul Arsen yang sudah terlelap dalam mimpinya karena kekenyangan.
Di baringkannya tubuhnya disamping Arsen yang sudah memejamkan matanya. Dia memandangi wajah tampan suaminya yang sudah terlelap dalam mimpi.
"Aku tidak menyangka kalau kita akan sejauh ini. Pernikahan yang awalnya hanya kontrak kini menjadi pernikahan betulan yang mengahasilkan benihmu di rahimku. Aku benar-benar tidak percaya dengan semua ini. " gumam Mia lirih.
"Percayalah, semua memang nyata. Dan kita sudah melewati pernikahan ini dengan sesungguhnya tanpa ada sebuah perjanjian diantara kita. " ucap Arsen masih dengan memejamkam matanya.
Dia lalu membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Mia lalu memeluknya dan memberikan kecupan dalam di keningnya.
"Apa yang kita lewati ini nyata Mia, aku sendiri tidak menyangka kalau kita akan sejauh ini melangkah bersamamu. Dan disini, sudah bersemayam benih cinta kita. " kata Arsen sambil mengusap lembut perut istrinya yang masih rata.
"Apa kau bahagia, menikah denganku? "
"Tanya Mia kemudian."
" Tidak ada hal yang membahagiakan lagi bagiku, selain menjadikanmu istriku dan ibu dari anak-anak ku. Aku mencintaimu Mia, sangat mencintaimu."
Akhirnya kalimat sakral itu keluar dari bibir Arsen. Mia tidak menyangka, kalau akhirnya cintanya terbalaskan. Dan dia bisa mendengar dengan jelas apa yang Arsen katakan kepadanya.
"Aku juga mencintaimu, mas. Sangat. " Mia membenamkan kepalanya di dada bidang suaminya. Dan mencari kenyamanan di sana.
Arsen tersenyum lebar mendengar hal itu. Ternyata selama ini mereka saling mencintai, tapi enggan mengatakannya
__ADS_1