Istri Kontrak Tuan Gay

Istri Kontrak Tuan Gay
Kembali Ke Rumah


__ADS_3

Waktu berjalan dengan cepat, tanpa terasa sudah satu minggu Mia dan Arsen berada di kampung halaman Mia. Pagi ini setelah sarapan Mia dan keluarga nya bersiap pulang ke Jakarta. Mereka sudah menyiapkan barang bawaan mereka sejak semalam, hingga pagi harinya mereka sudah bersiap untuk berangkat.


"Udah Mia, nggak usah diberesihin ini piring sama gelasnya, nanti teteh yang beresin. Kamu cepat siap-siap biar nggak kesiangan. " Ujar Desi yang sejak pagi sudah menyiapkan sarapan untuk keluarga Mia.


"Makasih ya, teh. Kita udah banyak ngerepotin teteh selama disini. "


"Nggak apa-apa Mia. Teteh seneng, ini kan udah bagian dari tugas teteh. Teteh nggak mungkin kan makan gaji buta dari si Aa'. " ujar Desi lagi.


"Ya sudah kalau gitu, aku sama Aa' pamit pulang dulu ya, teh. "


Akhirnya Mia dan Desi berpelukan. mengucapkan salam perpisahan.


"Kalau dedeknya sudah lahir ajak ke sini ya Mia. "


"Iya teh, pasti itu. Biar anak-anakku nanti tau kalau ibunya dulu tinggal dan besar di kampung. "


Semuanya berpamitan kepada Desi, dan mengucapkan terima kasih kepada wanita baik dan bersahaja itu. Tak lupa mama Rima menyelipkan sedikit uang, ke tangan Desi sebagai ucapan terima kasih karena sudah menjaga anak-anaknya selama berada di sini.


Mereka langsung melanjutkan perjalanan mereka ke kota di pagi yang beranjak siang itu.


"Sayang, besok kan sudah hari senin. Aku langsung kerja ya, karena sudah lama aku meninggalkan perusahaan. Mungkin pekerjaan ku sudah menumpuk. " ungkap Arsen saat diperjalanan.


"Iya mas, aku besok juga masuk kuliah ya. Sudah lama juga aku libur. "


Arsen langsung nenatap istrinya itu, setelah mendengar keinginannya.


"Kamu masih mau masuk kuliah, dalam keadaan hamil? " tanya Arsen sedikit keberatan.


"Iya, memangnya kenapa mas? "


"Aku takut, kamu kelelahan, Mia sayang. " ujar Arsen dengan satu tangannya membelai rambut Mia.


"Enggak, mas. Aku bisa kok. Lagian kan ada Sisie nanti yang nemenin aku, ada Aldo juga. "


Arsen menghembuskan nafasnya saat Mia menyebut nama Aldo. Padahal, masalah Aldo dan Amel sudah mereka selesaikan saat di rumah Mia. Tapi tetap saja, masih ada sedikit rasa cemburu di hati Arsen. Apalagi saat dia tahu kalau Aldo mencintai Mia.


Mia menoleh ke arah suaminya saat dia tidak mendengarnya bersuara lagi, malah tatapan dingin yang diberikan saat melihat ke arah jalan.


"Apa aku salah ngomong ya? " batin Mia.


Mereka berdua tidak ada yang bersuara lagi setelah sedikit perdebatan tentang kuliah Mia. Memang sejak awal mengenal Mia, Arsen sedikit tahu karakter Mia yang keras kepala. Tapi masih bisa di ambil hatinya saat kita sedikit melunak kepadanya.

__ADS_1


Terdengar suara dengkuran halus dari bibir Mia, yang menandakan kalau istrinya itu sudah terbang ke alam mimpi. Arsen lalu mengenggam tangan Mia dengan satu tangan kirinya, lalu mengecup tangan itu berkali-kali.


"Tidakkah kau tau, kalau aku tidak suka kamu menyebut nama pria lain dari bibirmu, Mia. " ungkap Arsen pada Akhirnya.


Dia hanya bisa mengatakan itu saat Mia tidur. Jika dia mengatakannya saat Mia bangun, dia takut Mia tidak terima dan akan merajuk kepadanya. Sebenarnya Arsen sangat suka saat melihat Mia marah, tapi untuk saat ini dia tidak boleh mempermainkan perasaan istrinya yang sedang hamil.


Mia yang pura-pura tidur itu, akhirnya tau apa yang membuat suaminya langsung terdiam setelah pembicaraan mereka. Ternyata dia masih cemburu kepada Aldo.


"Baiklah, aku akan menuruti permintaanmu, mas. Bukankah tugas seorang istri adalah patuh kepada suaminya? " Mia menyunggingkan senyum tipis di bibirnya, sangat tipis hingga Arsen tidak dapat melihatnya.


Tiga jam lebih perjalanan akhirnya mereka sampai di kota. Mereka sempat berhenti di sebuah rumah makan sebelum berpisah jalan. Mama dan papa akan langsung ke rumah mereka, sedangkan Arsen dan Mia langsung kembali ke rumah mereka sendiri. Mia dan Arsen akan menghabiskan waktu yang tersisa hari ini untuk istirahat.


"Kalau begitu kita berpisah sampai di sini ya. Jangan lupa periksakan kandungan Mia, Arsen. Agar tau berapa jumlah bayi yang ada di perut istrimu. " pesan mama sebelum mereka berpisah.


"Memangnya ada kesempatan kembar ma? " tanya Arsen antusias.


"Tentu saja, pamanmu, kakak dari ayahmu ini kembar, tapi sayang saudaranya meninggal karena sakit saat kecil. " Papa Mondi yang bicara.


"Jadi masih ada harapan memiliki anak kembar Arsen. " kata papa Mondi lagi dengan semangat.


"Baiklah pa, besok atau lusa kami akan periksa, setelah lelah di tubuh kami sedikit menghilang. " kata Arsen semangat.


"Ya sudah. Kalian hati-hati di rumah. Jaga diri kalian baik-baik. Mama dan papa pulang dulu. "


Papa dan Mama pulang lebih dulu, setelah itu baru Arsen dan Mia segera menaiki mobil mereka dan melaju menuju ke rumahnya.


Masih tidak ada pembicaraan, Arsen masih enggan bicara, begitu juga dengan Mia. Namun Mia akan mengatakan keputusannya nanti saja saat mereka sudah sampai di rumah. Saat ini biarlah seperti ini dulu.


Mobil yang mereka tumpangi sudah sampai di halaman rumah, Arsen dan Mia segera turun dari Mobil dan menuju kamar dengan membawa tas dan koper yang berisi pakaian mereka.


Saat Arsen hendak masuk ke kamar mandi, Mia langsung mencekal tangannya. Arsen yang terkejut pun ingin melepaskan cekalan tangan Mia, tapi Mia tidak mau melepaskannya.


"Mau apa? " tanya Arsen pada akhirnya.


"Kita harus bicara. "


"Tentang? "


"Tentang tadi."


Mia langsung menarik tangan Arsen agar duduk di sofa, bersamanya. Mereka duduk saling berhadapan.

__ADS_1


"Mas, aku minta maaf. "


Arsen menaikkan alisnya saat mendengar permintaan maaf dari istrinya itu.


"Untuk? "


"Aku yang keras kepala ingin tetap kuliah. "


Arsen akhirnya menarik sudut ibirnya mendengarkana ucapan Mia.


"Lalu... " tanyanya penasaran.


"Aku akan tetap kuliah. '


Wajah Arsen langsung berubah dingin lagi mendengarkan ucapan Mia. Dia hendak beranjak dari sana tapi tangannya langsung di cekal oleh Mia.


"Dengar dulu, aku belum selesai ngomong." Mia yang kesal langsung menarik tangan Arsen agar duduk kembali.


Dan dia langsung duduk diatas pangkuan suaminya itu, agar Arsen mendengarkan baik-baik apa yang akan dia katakan dan tidak main kabur-kaburan. Arsen yang tercengang dengan sikap Mia langsung terdiam mendengarkan apa yang ingin Mia katakan sampai selesai.


"Aku akan tetap kuliah, tapi di rumah. Aku akan kuliah online. Dan akan sesekali saja datang ke kampus jika di suruh datang. Bagimana menurut pendapatmu. Apa Kau setuju? "


Mendengar perkataan Istrinya itu, senyuman merekah itu langsung terbit dibibir Arsen.


"Benarkah? "


Mia mengangguk yakin. "Sekarang aku akan mematuhi semua perintah suamiku. aku tidak akan membantah lagi perintahmu mas. Aku akan patuh. Karena aku tidak ingin terjadi sesuatu denganku atau bayiku jika aku tidak patuh kepadamu. "


"Alhamdulillah... Terima kasih. "


Arsen langsung menghadiahkan ciuman bertubi-tubi diwajah istrinya yang manis itu. Da langsung menggendongnya naik ke atas ranjang.


"Mia, aku minta jatahku ya. Sekali saja, sudah tiga hampir satu minggu lho aku puasa. " rengek Arsen sambil mengungkung tubuh istrinya dibawahnya.


"Tapi mas, aku kan hamil? apa tidak apa-apa? " tanya Mia takut.


"Aku akan pelan, janji. "


Akhirnya Mia mengangguk, tidak mungkinkan dia menggeleng, karena dia juga sebenarnya merindukan sentuhan suaminya. Dan siang itu, terjadilah apa yang seharusnya terjadi antara suami istri yang sedang berbahagia itu.


Tidak ada yang lebih membahagiakan bagi seorang suami, selain mendapatkan istri yang menuruti perintah suaminya, selama itu dalam kebaikan.

__ADS_1


__ADS_2