
Mia dan Sisie terus berbelanja tanpa memperdulikan kedua pria yang sedang berbicara serius. Entah apa yang sedang mereka bicarakan. Dan tanpa sadar pula kalau barang belanjaan mereka sudah memenuhi troli belanjaan. Mereka membeli pakaian bayi mulai usia baru lahir sampai enam bulan. Di depan kasir juga sudah berjajar rapi barang belanjaan mereka.
"Apa kau bisa menebak apa yang sedang mereka bicarakan, Mia? " tanya Sisie kepada sahabatnya itu.
"Mana aku tau. Kau dan aku kan berkeliling dari tadi. " kata Mia sambil memandang kearah suaminya dan Ben, yang sepertinya berbicara serius.
"Mas... " panggil Mia pada akhirnya.
Arsen yang merasa di panggil pun langsung menoleh, dan segera mendatangi istrinya.
"Ada apa, sayang? " tanya Arsen saat sudah berada di depan istrinya.
"Aku membeli semua ini. Apa tidak apa-apa?" tanya Mia sedikit ragu.
Arsen lalu melihat barang apa saja yang dibeli istrinya.
"Apa hanya ini? Mana box bayi dan stroller bayinya, apa kau tidak membelihya? " pertanyaan beruntun diberikan Arsen saat tidak melihat apa yang dia cari.
"Aku pikir nanti anak-anak akan tidur dengan kita mas. Jadi ya tidak aku belikan." gerutu Mia kepada suaminya itu.
Arsen menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil tertsenyum
"Iya kita tidur dengan mereka nanti, tapi tetap dibutuhkan box bayi, sayang. " ucap Arsen sambil mencubit pipi istrinya yang semakin chubby.
"Baiklah, terserah padamu saja kalau begitu. Kau saja yang pilih. "
Semua orang yang melihat mereka berdebat pun merasa geli sendiri. Akhirnya Arsen yang memilih dua box bayi untuk kedua bayi kembarnya. Sedangkan Mia bergabung dengan Sisie dan Ben.
Setelah melakukan pembayaran mereka akhirnya pergi dari toko, Arsen meminta jasa pengiriman saja daripada dia harus membawa semua itu. Tujuan mereka adalah restoran, karena waktu sudah menujukkan makan siang.
Sebuah rumah makan seafood menjadi pilihan mereka. Mereka duduk dalam satu meja dan saling berbincang hangat dan bercanda.
"Oh, ya Ben. Aku lupa bertanya padamu. " ujar Arsen di sela mereka menunggu makanan yang datang.
"Tanya apa? " kata Ben penasaran.
Arsen jadi tersenyum penuh Arti saat Ben menanggapi ucapannya.
Kau pasti sudah berpetualang dengan istrimu. Naik turun gunung dan mendaki lembah. Lalu apa yang kau rasakan. " tanya Arsen tanpa memperdulikan perasaan orang didepannya
Uhuk... uhuk... Ben, Sisie dan Mia tiba-tiba tersedak bersamaan setelah mendengarkan pertanyaan dari Arsen.
"Mas... kamu ini ngomong apa sih. " omek Mia pada suaminya
Mia melotot kearah suaminya, yang setiap kali berbicara dengan Ben tidak pernah di filter.
"Menurutmu?" balas Ben pada akhirnya dengan senyuman penuh arti.
"Jadi.... " Arsen menggantung kalimarnya
__ADS_1
Ben mengangguk, "Seperti yang kau pikirkan. Aku menikmatinya dan ternyata kau benar, sesuatu yang halal itu lebih nikmat. " ucap Ben, tanpa memperdulikan wajah Sisie yang sudah memerah.
"Wah, ternyata sahabatku bisa kembali normal. Selamat Sie... kau sudah mengencangkan sesuatu yang belok. " ejek Arsen kepada dua orang didepannya itu.
Sontak saja Ben dan Sisie langsung menatap Ben dengan tajam. Apa maksudnya mengencangkan sesuatu yang belok. Padahal milik Ben kalau berdiri bentuknya tegak Lurus.
Tawa Arsen terhenti saat pelayan datang menghidangkan makananan untuk mereka. Dan mereka semua langsung menyantap hidangan yang ada didepan mereka.
"Oh, ya Mia. Mungkin kami akan mengadakan resepsi tiga bulan lagi. Waktu itu apa kau sudah melahirkan? " tanya Sisie di sela-sela makan mereka.
"Kalau dilihat dari bulannya sih, sudah. Perkiraan aku melahirkan bulan depan. " ujar Mia.
"Baguslah, jadi kau dan bayi-bayi kalian akan datang ke pesta pernikahan kami. " ucap Sisie dengan penuh bahagia.
Mereka lalu makan dengan tenang sampai makanan di meja habis tak bersisa, hanya sisa tulang kulit udang saja.
Setelah melakukan pembayaran mereka akhirnya pulang ke rumah untuk istirahat. Sambil menunggu perlengkapan bayi mereka datang.
Benar saja barang belanjaan mereka datang tepat pukul lima sore. Mereka menaruhnya asal di ruang keluarga, sampai ruang keluarga terlihat berantakan. Biarlah, nanti Mia dan Bi Mar yang akan merapikan semuanya.
Saat Mia dan Bi Mar merapikan pakaian bayi yang mereka lipat dalam keranjang, tiba-tiba mereka kedatangan tetangga mereka, siapa lagi kalau bukan Ben dan Sisie.
"Aku akan membantumu. " Kata Sisie dengan semangat ikut melipat pakaian bayi Mia.
"Dimana Arsen. " tanya Ben saat tidak melihat batang hidung Arsen.
"Ada apa kau mencariku. " Tanya Arsen yang berjalan keluar dari kamar.
"Bantu aku merakit box bayi satu lagi. " pinta Arsen.
Ben langsung menurut dan membantu Arsen merakit box bayinya.
"Neng, bibi Siapkan minuman dulu ya? " Bibi segera ke dapur membuatkan minuman untuk mereka semua.
"Itu untuk apa Mi, kok disendirikan? " tanya Sisie penasaran pasalnya Mia menyimpan beberapa pakaian dan selimut bayi di sebuah tas.
"Ooh, ini untuk persiapan melahirkan. karena aku nggak tau kapan aku kontraksi. Jadi saat aku kontraksi, maka bawaan ini sudah siap. " ujar Mia sambil melipat baju bayi dan tersenyum bahagia.
"Kau sangat bahagia Mia. "
"Iya aku sangat bahagia, apalagi sebentar lagi, aku akan bertemu dua anakku yang sudah aku kandung selama berbulan-bulan. ' ujar Mia dengan senyuman yang tak lekang dari bibirnya.
Sisie ikut bahagia melihat kebahagiaan sahabatnya itu. Dia lalu mengusap perut Mia dan bisa merasakan mereka menendang di dalam sana.
"Kalau mereka menendang seperti ini, apa tidak sakit, Mi. " tanya Sisie lagi.
"Sakit sih tapi setelah diusap begini mereka akan tenang. Oh, iya kalian makan malam disini saja, tadi bi mar masak banyak "
"Boleh. " bukan Sisie yang membalas ucapan melainkan Ben.
__ADS_1
"Cih, sukanya yang gratisan. " Arsen berdecih kearah Ben.
Mereka lalu duduk bersama dengan istri mereka, yang sedang asik menata pakaian bayi di tempat nya.
"mas tolong simpan ini di kamar, sudah aku siapkan tempatnya, Taruh di atas nakas samping tempat tidurku. " Mia meminta tolong kepada suaminya itu.
Mereka memang tidak mengijinkan siapapun masuk ke dalam kamar kecuali mereka berdua dan papa mama bila datang.
"Kalian sekarang menempati kamar bawah ya, " tanya Ben setelah melihat Arsen keluar dari kamar
"Iya lantai atas rencanannya akan aku renovasi dan buat dua atau tiga kamar lagi. "
"untuk apa? "
"Tentu saja untuk kamar Anak-anak kami nanti. benar kan, sayang? " ujar Arsen sambil mengecup kepala istrinya.
Mia hanya tersenyum, menanggapi ucapan suaminya.
"Ayo, neng, Den. Silahkan makan. Semuanya sudah siap. " ujar Bi Mar yang keluar dari dapur.
Mereka pun segera menuju meja makan, untuk makan malam bersama.
"Bibi, ayo makan bareng kita. " ajak Sisie.
"Enggak neng, bibi nanti aja. Bibi akan lanjutkan melipat pakaian ini saja. " Bi Mar lalu mengambil alih pakaian bayi untuk di simpan ke dalam keranjang bayi.
Setelah makan malam, Ben dan Arsen ngobrol berdua di di teras rumah. Karena merasa pekerjaan mereka sudah selesai. Sedangkan Mia, Sisie dan bi Mar merapikan perlengkapan bayi yang belum dirapikan.
"Bi nanti ini semua di cuci pakai air hangat ya, biar steril. " kata Mia.
Dari tadi Mia duduk dengan tak nyaman, seolah ada yang mengganjal dibawah sana.
"Kamu kenapa sih Mi?" tanya Sisie yang melihat keanehan Mia juga.
"Nggak tau nih, perasaan duduk nggak nyaman dari tadi. "
"Neng bibi boleh bicara nggak. " Bi Mar ijin bicara kepada mereka.
"Apa bi, ngomong aja. "
"Itu perut neng Mia makin kebawah, takutnya neng Mia mau melahirkan, apa nggak sebaiknya dibawa ke dokter aja. " ucap Bi Mar, yang sejak tadi merasa ngilu melihat perut Mia.
"Beneran Bi." tanya Mia dan Sisie bersamaan.
"Iya, coba aja neng Mia berdiri dan rasakan sendiri bibi ngilu lihatnya dari tadi. "
Mia langsung berdiri dan melihat tubuhnya dari kaca.
"Beneran Mia, ini mah beneran turun. Ayo kita kerumah sakit, mungkin ini yang bikin kamu duduk dengan nggak nyaman dari tadi. "
__ADS_1
Mia mengangguk, setuju dengan Sisie.
"Panggilkan mas Arsen. " ucap Mia sambil memegang punggungnya.