Istri Kontrak Tuan Gay

Istri Kontrak Tuan Gay
Positif


__ADS_3

Arsen, Mia dan Desi sudah sampai di rumah bidan Riri. Benar kata Desi kalau Bidan Riri belum berangkat dinas pagi ini. Jadi mereka masih bisa memeriksakan Mia di sana. Bidan Riri dengan ramah menyapa pasiennya itu.


"Ada yang bisa saya bantu, teh Desi. " tanya bidan Riri kepada teh Desi, karena yang ia kenali saat ini hanya teh Desi saja.


"Ini, bu Bidan nganter Mia tetangga depan rumah dari kota. Tadi tiba-tiba muntah-muntah habis sarapan."


Bidan Riri mengangkat alisnya mendengarkan secara seksama apa yang dikatakan Desi. Dia belum bisa mengambil kesimpulan sebelum memeriksa keadaan Mia.


"Bu bidan, mungkin saja saya cuma masuk angin. Mereka saja yang nggak percaya, orang saya baik-baik saja kok. " kata Mia yang menyelea keterangan Desi.


Bidan Riri hanya tersenyum menanggapi ucapan Mia.


"Sebaiknya kita periksa saja ya, teh Mia. Biar tau pasti apakah teteh masuk angin, asam lambung atau lainnya. " ucap bidan Riri kemudian.


Lalu bidan itu meminta Mia agar berbaring di tempat pemeriksaan. Dia Mulai memeriksa dari tekanan darah, detak jantung dan terakhir perut, tidak luput dari pemeriksan bu bidan.


Alisnya terangkat saat menyentuh perut bagian bawah Mia yang mengeras.


"Teh Mia ini kapan terakhir kali haid? " tanya bu bidan tiba-tiba sambil terus memeriksa perut bagian bawah Mia.


Mia berfikir keras kapan dia terakhir haid. Tapi ingatannya tertuju pada saat pulang dari kampungnya ini.


"Kurang lebih sekitar dua bulan yang lalu, bu bidan. Setelah saya pulang dari sini. Saya dapet tamu bulanan, tapi setelah itu nggak dapet lagi sampai hari ini.


Bidan Riri mengangguk mengerti.


"Apa yang terjadi pada istri saya, bu? " tanya Arsen yang sejak tadi diam, kini dia mulai merasa khawatir karena melihat reaksi bidan Riri yang berubah-ubah.


"Tidak apa-apa, Tuan. Untuk lebih jelasnya, sekarang teh Mia buang air kecil dulu, ya. Terus air urinnya di tampung disini, nanti berikan ke saya lagi. " ucap bidan Riri kepada Mia sambil memberikan wadah kecil untuk menampung urin.


Mia dan Arsen saling berpandangan tak mengerti, tapi mereka menurut saja.Sedangkan Desi sudah tersenyum penuh arti. Arsen mengantar Mia masuk ke toilet untuk buang air dan menampung air seninya, setelah itu mereka kembali dan memberikan sample air seni itu kepada bidan Riri.


"Maaf, bu bidan. " ucap Mia yang merasa tidak enak.


"Tidak apa-apa teh,ini sudah jadi pekerjaan saya." ucap bidan Riri sambil membuka sebuah alat, lalu memasukkan alat itu ke dalam air seni Mia.


"Maaf bu bidan, itu apa ya? " tanya Arsen yang penasaran.


Bidan Riri lalu memberikan bungkus alat itu kepada Arsen. Arsen menerimanya dan mulai membaca alat apa itu.


"Ini yang disebut testpack, tuan. Alat untuk mendeteksi kehamilan. " jelas bidan Riri pada akhirnya.


Mia dan Arsen langsung membulatkan matanya, tidak percaya dengan apa yang dia dengar.


"Ja... jadi... istriku... "


"Kita pastikan dulu ya tuan. Karena melihat kerasnya perut bagian bawah, mual saat mencium bau masakan dan muntah setelah makan itu menandakan gejala orang hamil. Apalagi saat teh Mia mengatakan kalau dia sudah telat dua bulan. Bisa jadi beneran hamil, si tetehnya." jelas bidan Riri sambil tersenyum.

__ADS_1


Bidan Riri lalu mengangkat alat tespack itu dari rendaman air seni. Lalu mengusapnya dengan tisu kering dan melihatnya. Senyuman itu terbit di bibir bidan Riri. Dia lalu mengusapnya lagi dengan tisu basah yang sudah tersedia. Dan memberikannya kepada Arsen.


"Selamat, tuan. Teh Mia positif hamil. " ucap bidan Riri pada akhirnya.


Arsen langsung memandang Mia penuh arti. Dan Mia balas memandang suaminya itu dengan penuh haru.


"Mas... " lirih Mia.


Arsen langsung memeluk Mia dengan erat. "Kamu, hamil? kamu positif hamil, sayang... ya Tuhan. Aku tidak percaya kalau kau akan secepat ini hamil. Ternyata benihku benar-benar tokcer. " kata Arsen tanpa rasa malu sedikitpun kepada bidan Riri dan Desi yang ada disana.


Mia memukul punggung Arsen karena dia sendiri merasa malu dengan ucapan suaminya.


Setelah puas berpelukan akhirnya mereka mengurai pelukannya, dan berhadapan lagi dengan bidan Riri yang sejak tadi hanya tersenyum sendiri melihat tingkah kedua pasangan itu.


"Jadi apa yang harus saya lakukan sekarang. " tanya Arsen kemudian, setelah meluapkan rasa bahagianya.


Bidan Riri akhirnya menjelaskan apa saja yang akan dialami oleh ibu hamil, selama kehamilannya. Mual muntah dipagi hari yang biasa disebut morning sickness. Perubahan hormon yang tiba-tiba kadang marah, sedih, bahagia dan sebagainya. "


"Apakah karena itu aku merasa kalau kamu sekarang mudah menangis, dan emosional ya. " tanya Arsen pada Mia.


Mia hanya menggedikkan bahunya.


"Bisa jadi tuan. Itulah hormon wanita hamil yang sulit di tebak. Belum lagi ada masa ngidam yang harus dialami. Dan anda sebagai suami siaga harus menuruti apa kemauan ibu hamil. " jelas bidan Riri lagi.


Arsen mengangguk mengerti dengan penjelasan bidan.


"Baik bu. "


Bidan Riri lalu memberikan vitamin dan obat anti mual kepada Mia. Tak lupa dia meminta Arsen membelikan susu hamil untuk istrinya, untuk menambah nutrisi untuk ibu hamil dan bayinya.


Mereka bertiga akhirnya berpamitan, dan tak lupa berkali-kali mengucapkan terima kasih kepada bu bidan karena telah memberikannya kabar baik.


Kini mereka bertiga sudah berada didalam mobil, Arsen mengajak Desi untuk keluar sebentar ke minimarket yang jaraknya agak jauh dari kampung, untuk membeli susu hamil dan sekalian belanja beberapa keperluan Mia.


Desi hanya menurut dan dia merasa senang karena diajak jalan-jalan naik mobil mewah, walau pakaian yang dipakainya hanya pakaian rumahan biasa. Kapan lagi bisa berjalan-jalan seperti ini.


Mereka kini sudah sampai di minimarket, Arsen dengan semangat mengambil berbagai susu hamil dengan berbagai rasa untuk istrinya. Sedangkan Mia mengambil beberapa camilan, begitu juga Desi, yang disuruh mengambil apapun yang dia butuhkan dan jangan sungkan-sungkan. Dengan senang hati Desi melakukanbya, dia mengambil mie instan bahkan minyak goreng. Kapan lagi ditraktri belanja seperti ini.


Mia dan Arsen hanya menggelengkan kepalanya melihat keranjang belanja Desi yang sudah penuh dengan barang belanjaan. Mereka membiarkan saja, Sekali-kali sebagai ucapan terima kasih karena Desi sudah membantu mereka selama ini.


Setelah belanja mereka segera kembali ke rumah. Arsen tidak ingin istrinya itu nanti kelahan, apalagi dia sedang hamil muda yang masih sangat rentan.


Sebelum kembali ke rumahnya, Desi di panggil Arsen dan diajak bicara empat mata, sepertinya dia ingin meminta tolong pada wanita itu.


"Teh, aku mau minta tolong sama teteh boleh. "


"Minta tolong apa, A'. "

__ADS_1


"Selama kita disini teteh bisa masakin kita nggak?"


"Maksudnya?"


"Selama kita disini, saya minta tolong teteh masakin buat kita. Saya kasihan sama Mia kalau masak, dia tadi sampai nutup hidungnya sama sapu tangan karena nggak kuat bau bumbu masakan. "


"Ooh gitu... boleh A'. " ucap Desi dengan semangat.


Arsen lalu memberikan uang sebanyak lima lembar ratusan ribu kepada Desi, " Ini dulu uangnya teh, aku tadi lupa nggak ambil uang ATM. Kalau kurang bilang aja. Dan aku minta, teteh tanyakan sama Mia, pengen makan apa, ya. " kata Arsen kemudian


"Siap A'. Teteh ngerti. Pokokna mah beres. "


"Makasih, teh. "


Setelah mengatakan Itu Desi kembali ke rumahnya dan Arsen segera menutup pintu rumahnya. Dia lalu menemui Mia yang sedang berbaring di kamar.


"Kok lama, ngomongin apa aja sama teh Desi? " tanya Mia sambil memicingkan matanya.


"Nggak ada, aku hanya minta tolong sama dia, buat masak dobel buat kita sekalian. Kamu biar nggak tersiksa dengan bau bumbu dapur. " jawab Arsen jujur sambil naik ke atas ranjang.


"Apa nggak ngerepotin, mas? "


"Enggaklah, orang kita ngasih uang. " kata Arsen dengan santai.


"Emang ya uang itu bisa membeli segalanya. " ucap Mia sambil melirik ke arah suaminya.


"Kamu masih pengen disini? atau kita pulang ke rumah kita. "


"Kalau aku masih pengen disini, apa boleh. Satu minggu saja. Aku ingin disini. "


"Baiklah, sesuai keinginan mu. " kata Arsen.


Mia langsung memeluk suaminya dan memberikan ciuman bertubi-tubi di bibirnya sambil mengucapkan terimakasih.


Arsen tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, dan langsung menahan tengkuk leher Mia. Dia langsung memberikan ciuman panas untuk istrinya itu.


Mia memukuli dada Arsen hingga Arsen melepaskan pagutan bibirnya.


"Ingat mas, aku sedang hamil. "Mia memperingatkan.


Arsen menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil nyengir kuda.


"Ayo kita foto. Kita akan mengirimkan ini kepada papa dan mama."


Akhirnya sebuah foto mereka ambil sambil membawa testpack untuk memberikan kabar bahagia kepada papa dan mama mereka.


__ADS_1


__ADS_2