Istri Kontrak Tuan Gay

Istri Kontrak Tuan Gay
Tanda Kepemilikan


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul tujuh pagi, namun dua insan itu enggan membuka matanya, mereka asik bergelung dibawah selimut. Arsen dan Mia masih tertidur pulas dengan posisi saling berpelukan . Mereka masih dalam keadaan polos tanpa sehelai benang pun.


Mia mulai mengerjapkan matanya dan ingin meregangkan tubuhnya , namun terasa sulit. Karena ternyata tangan kekar Arsen tengah melingkar di perutnya. Mia memindahkan tangan Arsen perlahan agar dia tidak terbangun. Setelah itu dia memandangi wajah suaminya yang sangat tampan.


Mia tersenyum penuh arti saat mengagumi wajah itu, sekilas teringat percintaannya semalam dengan suaminya, wajahnya memerah saat dia mengingat drama sebelum penyatuan mereka. Dari mana Mia memiliki keberanian sebesar itu membalas Arsen yang sudah mempermainkannya. Namun setelah itu, dia bisa merasakan betapa Arsen memperlakukannya dengan lembut. Dan membuatnya melayang berkali-kali.


Tangan Mia terangkat menyentuh wajah Arsen dan melukisnya dengan jari tangannya Mulai dari alis yang tebal, turun ke mata yang tajam, hidung mancung rahang yang kokoh dan bibir yang tebal yang sudah menciumnya berkali-kali selama satu malam.


"Aku sudah menjadi milikmu seutuhnya, kumohon jangan kecewakan aku mas Arsen. " gumam Mia penuh harap.


"Apa kau sudah selesai mengagumiku? Aku memang sangat tampan. Jadi jangan pernah berpaling pada pria selain aku. " ucap Arsen masih memejamkan matanya, Dia lalu meregangkan otot tubuhnya.


"Hoaammm... "


Mia jadi salah tingkah, ternyata Arsen sudah terbangun dan dia hanya pura-pura tidur.


Setelah meregangkan otot tubuhnya Arsen kembali berbalik menghadap Mia dan memeluk tubuhnya. Tubuh yang sama-sama masih polos itu kembali bersentuhan.


"Mas Arsen sudah bangun? sejak kapan? "


"Sejak kau memindahkan tanganku. "


Arsen menatap lekat manik mata Mia yang berbinar. Mia pun membalas tatapan mata itu penuh kekaguman. Dia sangat menyukai warna mata Arsen yang indah itu. Wajah Arsen lalu mendekat dan mengecup bibir Mia. Dan turun ke leher. Dia menghisapnya seperti vampir yang menghisap darah mangsanya, hingga bukan warna merah lagi yang tercetak melainkan warna biru keunguan yang dibuat Arsen pagi itu.


"Mas, sakit tau. " Mia berusaha mendorong tubuh Arsen tapi dia gagal. Karena tubuhnya kalah besar dengan tubuh Arsen yang berotot.


"Mas udah dong, aku mau mandi. Udah kesiangan ini." Mia semakin kesal dengan tingkah Arsen yang membuat beberapa tanda cinta di lehernya.


Arsen lalu melepaskan Mia dan tersenyum senang. "Itu adalah tanda kepemilikan yang kubuat, yang Artinya kau adalah milikku Mia. Jangan pernah dekat dengan pria lain, selain diriku. " ucap Arsen posesif.


Mia mengangkat alisnya tidak mengerti maksud Arsen. Tapi dia tidak ambil pusing, mumpung Arsen melepaskannya dia harus segera mandi, jika tidak dia akan terlambat. Namun baru saja dia hendak berdiri, Mia meradakan rasa nyeri dan perih di pangkal pahanya.


Arsen yang mengerti hal itu segera memakai celana boxer nya lalu mengangkat tubuh Mia ala bridal masuk ke kamar mandi. Mia yang tekejut langsung mengalungkan tangannya dileher Arsen.


Arsen menurunkan Mia disamping bathup, dia lalu mengisi bathup dengan air hangat. Setelah terisi Arsen lalu menyuruh Mia berendam.


"Berendamlah, agar tubuhmu terasa nyaman. Aku juga akan mandi, karena aku ada rapat pagi ini."


Mia menurut dan masuk ke dalam bathup, benar kata Arsen tubuhnya langsung terasa nyaman. Rasa nyeri itupun sedikit hilang walau tidak sepenuhnya. Dia lalu menoleh kesampingnya terlihat Arsen sedang mengguyur tubuhnya dibawah kucuran shower. Mia menelan salivanya susah payah saat melihat tubuh suaminya yang sangat se*i di matanya, dengan tonjolan otot perut nya yang sangat menggoda.


"Tubuh itu yang semalam berada di atasku." Mia langsung menutup kedua matanya saat membayangkan kejadian semalam bersama Arsen.

__ADS_1


Arsen yang sudah menggunakan bathrobe, Tanpa sengaja Arsen melihat tingkah Mia yang aneh. Dia lalu mencipratkan air ke arah Mia agar Mia membuka tangannya.


Benar saja Mia langsung membuka tangannya.


" Kamu kenapa? " tanya Arsen kemudian.


"Ti.. tidak apa-apa. " jawab Mia salah tingkah.


"Cepat selesaikan mandimu, Aku akan segera berangkat. Aku keluar dulu. "


"Ba.. baiklah. "


Mia jadi gugup menghadapi Arsen kali ini. Dia merutuki dirinya kenapa jadi dia yang berpikiran mesum sih. Mia langsung keluar dari bathup dan mulai membilas tubuhnya dengan air shower.


Di luar sana, Sama dengan Mia. Sebenarnya Arsen juga merasa gugup namun dia sukses menyembunyikan kegugupan nya dengan sikap acuhnya.


"Terkadang sikap acuhmu ini, berguna di tempat yang tepat Arsen. " gumamnya dalam hati sambil mengenakan baju kantornya.


Arsen telah bersiap, dia lalu turun ke bawah, dan mulai berkutat dengan roti dan selai. Walau pagi ini dia tidak sarapan dengan masakan Mia, setidaknya perutnya harus terganjal oleh sesuatu. Jadi, dia memutuskan untuk membuat roti dengan olesan selai saja. Dia juga membuatkan satu untuk Mia.


Dari tangga terdengar suara langkah kaki yang sangat pelan sedang menuruni tangga. Arsen menoleh, dan ternyata Mia sedang berjalan hati-hati menuruni anak tangga.


Dia lalu mendekati Mia dan membantu Mia berjalan.


"Jika masih sakit sebaiknya kamu libur hari ini, dan istirahat dirumah saja. "


"Enggak mas, aku baru masuk, masa langsung libur aja. "


Benar juga apa yang dikatakan Mia.


"Ya sudah kalau begitu, ayo kita berangkat. Kita akan sarapan didalam mobil. " Arsen lalu mengambil kotak bekal yang berisi roti oles buatannya dan membawanya ke dalam mobil.


Mia mencoba berjalan normal, tapi tetap saja tidak bisa. Karena seperti ada yang mengganjal dibawah sana. Setelah mengunci pintu, Mia segera masuk ke dalam mobil dan duduk disamping Arsen. Arsen pun segera menjalankan mobilnya meninggalkan rumahnya.


"Ambilkan sarapanku Mia, dan suapi aku. AKu tidak mau nanti saat rapat perutku berbunyi. "


Mia terkekeh mendengar ucapan Arsen. Dia lalu mengambilkan roti buatan Arsen dan menyuapkan ke mulut Arsen. Dengan lahap Arsen memakan roti itu.


"Kamu tidak makan? "


"Tidak mas, nanti aku makan sampai di Kelas aja." Mia terus menyuapi Arsen dengan telaten lalu menyodorkan sebotol air mineral kepadanya

__ADS_1


Tak lama mobil yang mereka kendarai telah sampai di kampus Mia. Kali ini, Arsen tidak mau kecolongan lagi. Mia melotot ke arah Arsen mobil Arsen memasuki area parkir.


"Kenapa turun disini? " protes Mia.


"Aku tidak ingin kamu jalan tertatih terlalu jauh Mia. Apa kau lupa kalau kau sedang kesulitan berjalan. " Arsen bisa mematahkan protes Mia.


Mia yang baru menyadari hal itupun akhirnya setuju dengan pendapat Arsen.


Mia lalu mencium tangan Arsen, dan Arsen kini membalasnya dengan ciuman dalam dan lama di kening Mia.


Lalu ciuman itu turun ke bawah dan menyesap lembut bibir Mia.


"Hati-hati, jika ada apa-apa hubungi aku. Nanti kalau kau mau belanja boleh dengan teman perempuanmu. Asal jangan sama teman priamu. Karena Aku takut tidak bisa mengantarmu nanti. "


"Iya... iya... Nanti aku akan minta tolong Sisie mengantarkan aku belanja. Kalau dia tidak bisa aku akan langsung pulang nanti. "


"Anak baik. Harus nurut sama suami ya? biar jadi istri soleha. "


Setelah mengucapkan itu Arsen lalu mencium sekilas bibir dan pipi Mia.


Mia lalu keluar dari mobil Arsen, lalu melambaikan tangannya kepada Arsen sampai mobil Arsen keluar dari area parkir kampus.


Saat Mia hendak melangkah masuk ke dalam kampus langkah nya terhenti karena ada dua orang teman sekelasnya yang menghadangnya.


"Wah... sekarang kau jadi simpanan orang kaya, ya? " Sindir Jessica kepada teman yang tidak disukainya ini.


"Kamu bicara apa sih? " Mia mencoba berjalan melewati mereka berdua. Namun tidak bisa karena dia langsung di hadang lagi oleh Sandra dan Jessica.


Sandra langsung mengibaskan rambut Mia yang ia gunakan untuk menutupi lehernya yang penuh tanda percintaan dengan Arsen semalam.


"Cih, benar kan dugaanku... dasar ja*ang." Sandra hendak menampar Mia namun tangannya langsung dihadang seseorang.


"Kalian apa-apaan sih. Bisanya cuma membuli teman saja. " Bentak Aldo yang langsung menghempaskan tangan Sandra.


Mia langsung merapikan rambutnya dan menutupi


tanda kepemilikan Arsen disana. Dan Aldo langsung membawa Mia masuk ke dalam kelasnya.


"Aldo, kamu tidak tahu siapa Mia sebenarnya. "


Teriak Jessica namun tidak dihiraukan oleh Aldo, yang terus berjalan, menyeret Mia yang sedang kesusahan berjalan.

__ADS_1


__ADS_2