
Arsen dan Mia saling berpandangan setelah mendengar kabar tentang Sisie dari Ben.
Awalnya mereka mengira kalau Ben dan Sisie akan memberikan kabar baik tentang hubungan mereka, tapi tidak tahunya yang mereka dapatkan adalah kabar mengejutkan dari Ben.
"Kamu sekarang dimana, aku dan istriku akan segera kesana. Terus kabari keadaan Sisie. " kata Arsen yang tiba-tiba ikut panik.
Karena Arsen tau Sisie sahabat istrinya itu, hanya tinggal seorang diri di apartemen, sedangkan kedua orang tuanya sering keluar kota atau keluar negeri untuk urusan bisnis mereka. Dia juga sangat bingung saat melihat istrinya yang terus menangis setelah mendengar sahabatnya kecelakaan.
"Baiklah... "
Ben menceritakan keadaan Sisie saat ini dan sebelum kejadian kepada Arsen dan Mia melalui sambungan telpon. Kedua pasangan suami istri itu saat ini sudah berada di dalam mobil dan perjalanan menuju rumah sakit.
"Sayang kau punya nomor ponsel orang tua Sisie?" tanya Arsen kepada istrinya.
Mia mengangguk.
"Hubungi orang tuanyanya mungkin saja mereka berada di kota ini, jadi mereka bisa tau keadaan anaknya. "
Mia langsung menghubungi, Ibu Sisie. Melalui ponselnya, namun dua kali panggilannya tidak terjawab, hingga pada panggilan ke tiga, terdengar suara serak khas bangun tidur seseorang dari seberang sana.
"Hallo, siapa ini. Kenapa malam-malam telpon. " ujar mama Sisie dari seberang telepon.
"Hallo tante, ini saya Mia. Sahabat Sisie. "
"Ooh, ada apa Mia? Maaf disini sudah sangat malam jadi tante sudah tidur" tanya tante Helen mama Sisie.
"Tante, apa tidak dihubungi pihak rumah sakit atau kepolisian. " tanya Mia yang sepertinya bingung, karena Helen terlihat santai, seperti tidak mendengar berita apapun.
"Tidak memangnya kenapa? ' Helen langsung terduduk saat mendengar kata rumah sakit dan polisi.
Papa Sisie yang merasa terganggu dengan pergerakan istrinya ikut bangun dan bertanya dengan berbisik.
Mama Helen langsung menyalakan speker ponselnya agar suaminya mendengar apa yang akan Mia katakan.
"Tante, Sisie... " kata Mia sambil terisak, karena dia tidak bisa lagi menahan air matanya.
"Meisie, kenapa dia? " tanya Helen cemas.
"Aku baru dapat kabar kalau Sisie kecelakaan tante, dan pihak rumah sakit meminta pihak keluarga datang karena harus segera melakukan operasi. "
__ADS_1
"Apa? bagaimana bisa, anakku? " Helen berteriak histeris setelah mendengar kabar yang disampaikan sahabat anaknya itu.
Tomi papa Sisie langsung mengambil alih ponsel istrinya dan bicara kepada Mia.
"Bisa kamu ceritakan kepada om, apa yang terjadi, Mia."
Akhirnya Arsen juga mengambil alih ponsel istrinya, dan kedua lelaki beda generasi itu berbincang. Arsen menceritakan apa yang terjadi pada Sisie sesuai cerita Ben tadi.
"Tuan Arsen, tolong jaga anak saya dulu, saya akan segera kembali. Saat ini kami berada di Indonesia bagian Timur. Mungkin sekitar dua sampai tiga jam perjalanan kami akan sampai. Dan kabari keadaan anak saya, selama saya belum berada di dalam pesawat. " pinta papa Sisie kepada Arsen.
"Baik, tuan. Saya akan melakukan yang terbaik. "
"Terima kasih, tuan."
Papa dan Mama Sisie segera bersiap kembali ke Jakarta malam itu juga setelah mendengar kabar dari Mia dan suaminya tentang keadaan Sisie.
Sedangkan di rumah sakit. Sisie masih belum sadar, Saat ini dia sudah berada di ruang rawat VVIP, sesuai permintaan dari Ben. Sambil menunggu keluarga yang datang untuk menyetujui tindakan operasi Sisie. Ben duduk di brangkar samping Sisie dan menggenggam tangannya.
"Dasar wanita bodoh, ceroboh. Kenapa kau bisa jadi seperti ini? " gumam Ben sendirian
"Maafkan aku, karena janji bertemu denganku, akhirnya kau jadi seperti ini. Maafkan aku, Sie. " gumam Ben lagi yang merasa bersalah.
Ben lalu membelai kepala Sisie, dan memberikan sebuah kecupan singkat di kening Sisie. Lalu dia pergi ke toilet yang berada di ruangan itu.
Tanpa Ben sadari, Dua pasang mata melihat kejadian itu dari balik jendela, sebelum mereka masuk ke dalam ruangan.
Arsen dan Mia saling bertatapan dan tersenyum penuh arti. Lalu mereka pura-pura mengetuk pintu setelah melihat Ben keluar dari toilet.
Ben membuka pintu dan mempersilahkan Arsen dan Mia masuk.
Mia langsung mendekati brangkar tempat Sisie terbaring dan duduk di kursi yang ada di sebelahnya. Sedangkan Arsen hanya melihat sebentar keadaan Sisie, lalu duduk di sofa bersama Ben.
"Kamu memilih kamar ini, apa tidak takut orang tuanya Sisie keberatan, bro? " tanya Arsen memancing.
"Marah kenapa? "
"Ya, mungkin takut saja mereka tidak bisa membayar biaya ruangannya. " kata Arsen kemudian.
"Tenang saja aku yang akan membayarnya. Aku nggak akan membiarkan Sisie berada di ruang VIP biasa. Karena aku ikut bertanggung jawab, dengan kejadian Ini. Seandainya aku tidak mengajaknya bertemu, maka ini semua tidak akan terjadi." ujar Ben sedikit menyesal.
__ADS_1
Arsen menganggukan kepalanya mengerti.
Mia yang berada di samping Sisie mendengarkan secara seksama, walaupun matanya tertuju pada sahabatnya, tapi telinganya menangkap percakapan kedua pria itu.
"Entahlah Sie, aku menyebutnya Musibah atau anugerah. Karena saat kau mengalami kecelakaan, aku bisa melihat seberapa khawatirnya Ben kepadamu, bahkan dia memberikan kamar dengan fasilitas mewah ini kepadamu. " Gumam Mia lirih.
"Benarkah... " terdengar gumaman lirih dari bibir Sisie, Ternyata dia sudah sadar dan mendengarkan gumaman Mia barusan
"Sie... kau sudah sadar? " Pekik Mia yang berada di samping Sisie.
"Mas... Sisie sadar. " teriak Mia heboh.
"Kau berisik sekali, Mia. " desis Sisie.
Ben dan Arsen langsung berjalan mendekati Mia, dan benar saja mereka berdua melihat Sisie meringis.
"Apa ada yang sakit? " tanya Ben kemudian.
Sisie langsung tertegun dan membuka matanya saat mendengar suara pria yang sangat dia kagumi.
"Tuan Ben... " kata Sisie sambil tersenyum malu-malu
"Iya Ini aku... Apa ada yang sakit? " tanya Ben lagi.
Sisie mengangguk. "Kakiku sakit, memangnya kakiku kenapa. " tanya Sisie kemudian.
Ben menghela nafasnya sebelum bicara.
"Kau mengalami patah tulang, Sie, dan harus segera di operasi, tapi kami dan pihak dokter belum bisa memutuskan karena menunggu pihak keluargamu datang. Dan menurut Arsen papa dan mamamu sedang dalam perjalanan kemari." jelas Ben.
"Apa aku akan cacat atau aku masih lunya kesempatan bisa berjalan lagi?" tanya Sisie sambil tertunduk.
"Kamu pasti bisa jalan lagi Sie, kau harus semangat. Ini hanya patah tulang. Dalam beberapa bulan pasti sembuh, percayalah. " Ben menggenggam tangan Sisie untuk menyalurkan kekuatan kepadanya.
Sisie tersenyum malu, saat melihat tangannya berada dalam genggaman tangan Ben. Benar kata Mia ini adalah Musibah atau anugerah yang membawa berkah. Akhirnya dia bisa dekat dengan Ben saat keadaannya seperti ini.
"Aku mau operasi, ini keputusanku. Apa aku bisa memutuskannya sendiri tanpa menunggu orang tuaku. Aku ingin sembuh, dan mengejarmu lagi, tuan Ben. Nggak lucu kalau aku seperti ini, aku nggak akan bisa mengejarmu kalau keadaanku seperti ini, tuan." ucap Sisie dengan antusias dan mata berbinar.
Gubrak...
__ADS_1
Semua orang yang berada di sana tidak salah dengar kan? Apa yang dikatakan Sisie barusan?