Istri Kontrak Tuan Gay

Istri Kontrak Tuan Gay
Sisie Kecelakaan


__ADS_3

"Bagaimana, rencanaku berhasil kan?" ucap Mia sambil mengerlingkan matanya kepada sahabatnya itu


"Brilliant. I love you Mia... " Sisie langsung memeluk tubuh sahabatnya itu.


"Sudah... sudah... " Mia melerai pelukan sahabatnya itu, lalu mereka kembai duduk dengan tenang.


"Ini sudah sangat siang, aku akan pulang dulu. Kau pasti butuh istirahat siang. " Kata Sisie kemudian


"Ya, baiklah. Apa tidak makan siang dulu bersamaku sebelum pergi?" tawar Mia.


"Tidak perlu, aku harus segera pulang dan menunggu Ben menghubungi ku. " kata Sisie bersemangat sambil membawa tasnya dan beranjak dari kursi


"Cih, dasar bucin. Ku do'akan kali ini kau berhasil, Sie. "


"Terima kasih sayang. Semoga saja. Aku pergi dulu. "


Setelah cipika-cipiki dan berpamitan Sisie langsung pergi dari rumah Mia. Mungkin kegalauan Sisie sudah berakhir, dan Mia berhasil menyelesaikan masalahnya.


Setelah kepergian Sisie rumah kembali sepi. Mia langsung menuju dapur dan mulai menyantap makan siangnya bersama bi Mar. Jika tidak ada Arsen Mia selalu meminta bi Mar untuk menemaninya makan. Awalnya bi mar enggan tapi setelah Arsen mengijinkan akhirnya bi Mar mau juga makan bareng Sisie, jika tidak ada dia.


Mia perginke kamarnya setelah makan, dan menghubungi suaminya. Apakah dia sudah makan siang apa belum.


"Sudah makan mas? " tanya Mia saat Arsen mengangkat panggilannya.


"Sudah, sayang. Kamu sendiri? "


"Aku sudah makan. "


Mereka lalu membicarakan apa yang terjadi tadi, antara Ben dan Sisie. Hingga suara Mia sudah tak terdengar lagi. Arsen melihat wajah istrinya itu sudah terlelap ke alam mimpi.


Arsen menggeleng kan kepalanya saat melihat tingkah istrinya yang ajaib itu. Bisa-bisanya dia tertidur saat bertelponan.


"Selamat tidur sayang. " ucap Arsen sebelum mematikan panggilan telponnya.




Di apartemennya Sisie dari tadi mondar-mandir tidak tenang menunggu pesan yang belum pasti dari Ben. Padahal dengan jelas tadi Ben mengatakan akan mencobanya.


Masih akan mencoba dan itu belum pasti. Dan Sisie sudah yakin sekali kalau Arsen akan menghubunginya. Benar-benar sisie ini.


Karena lelah menunggu sesuatu yang belum pasti akhirnya Sisie sampai ketiduran di sofa. Saking nyenyaknya dia sampai tidak mendengar suara panggilan masuk sampai beberapa kali di ponselnya. Dan akhirnya sebuha pesanlah yang masuk.


Sisie terbangun pukul lima sore, dan langsung mengambil ponselnya untuk melihat adakah pesan yang masuk, ternyata ada tiga panggilan tak terjawab dan sebuah pesan dari....


Ben.


Sisie langsung salah tingkah saat mendapatkan panggilan tak terjawab itu. Lalu dia membuka pesannya.

__ADS_1


"Apa kita bisa bertemu? aku ingin bicara denganmu. "


Sebuah pesan singkat dari Ben yang membuat hati Sisie berbunga-bunga.


Akhirnya Sisie memberanikan diri membalas pesan itu.


"Maaf baru balas pesanmu dan tidak mengangkat telponmu karena aku ketiduran. "


Tak butuh waktu lama pesan Sisie mendapat balasan.


"Aku kira kau marah padaku karena aku tidak membalas pesanmu selama beberapa hari ini. Aku pikir kau sudah menyerah menerorku. "


"Aku tidak akan menyerah mendapatkan pria yang aku sukai. "


Ben tersenyum miring mendapatkan balasan terakhir darinya. Ternyata benar kata Arsen, fia pasti akan memilih cinta pertamanya dari pada pelampiasan nya.


Ben sudah membuktikan itu.


"Kalau begitu apa kita bisa bertemu malam ini. " tanya Ben kemudian.


"Baiklah, dimana? "


"Kita bertemu di kafe kemarin saja. "


"Oke aku akan bersiap, tampil cantik agar kau terpesona kepadaku. "


Di balik telpon sana Ben tersenyum tipis menderang ocehan gadis itu.


"Oke tunggu aku. "


Sisie mematikan ponselnya, lalu dia segera bergegas membersihkan tubuh nya dan bersiap. Begitu juga dengan Ben, yang juga segera membersihkan tubuhnya yang lelah setelah seharian bekerja.


Ben dengan gelisah menunggu Sisie yang tak kunjung datang. Padahal waktu yang ditentukan sudah lewat lima belas menit yang lalu.


Ben langsung mengambil ponselnya dan menghubungi nomor ponsel Sisie. Dan menanyakan kenapa Sisie kenapa belum datang juga.


Panggilan terhubung namun masih belum di angkat. Saat panggilan akan Ben akhiri tiba-tiba ada yang mengangkat panggilannya. Suara laki-laki.


"Hallo apakah anda keluarga korban atau kenalan korban. " teriak orang diseberang telpon itu.


Deg...


Tidak hanya teriakan suara itu, tapi Ben juga mendengar suara sirine ambulan atau polisi di sana.


"Apa yang terjadi pada pemilik ponsel ini? " teriak Ben panik, dan teriakannya itu membuat beberpa orang melihat kearah nya.


"Telah terjadi kecelakaan beruntun di jalan Xxx, dan salah satunya adalah wanita pemilik ponsel ini. Kami akan membawanya ke rumah sakit. " ujar pria diseberang telepon.


"Rumah sakit mana? '

__ADS_1


"Rumah Sakit Umum Xx. tolong kabari pihak keluarga. "


Panggilan terputus. Tubuh Ben langsung membeku seketika setelah mendapatkan kabar itu. Namun dia segera tersadar, dan segera keluar dari restoran untuk melihat keadaan Sisie. Wanita yang sudah berani mengusik hidupnya yang selama ini berada di Zona nyaman. Kini harus terusik dengan hadirnya Sisie, yang berani menyatakan cinta kepadanya.


Ben seperti orang kesetanan membelah jalanan. Dia tidak peduli dengan umpatan beberapa orang yang merasa terganggu dengan bunyi klakson mobilnya, yang dia inginkan hanya satu. Cepat sampai di rumah sakit tempat Sisie dibawa. Untungnya rumah sakit itu letaknya tidak terlalu jauh dari tempat Ben berada. Tapi karena jalanan yang macet membuatnya terlambat datang ke sana.


AKhirnya setelah lima belas menit perjalanan dengan macet-macetan, Ben bisa sampai di rumah sakit tujuan. Dia langsung menuju meja informasi untuk mengetahui dimana korban kecelakaan beruntun yang baru saja terjadi.


"Masih mendapatkan perawatan di IGD, tuan. " jawab perawat yang terpesona dengan ketampanan pria dihadapannya.


Ben langsung lari ke IGD dan mencari di mana Sisie berada.


"Dokter dimana korban yang bernama Sisie. "


Dokter mengernyitkan keningnya, "Tidak ada yang bernama Sisie tuan. "


"Ah, maksud saya Meisie, dokter. Dimana dia. "


"Oh, nona Meisie masih dirawat. Dia disebelah sana. "


"Bagaimana keadaannya. " tanya Ben cemas.


"Dia mengalami luka di kepala, dan sepertinya dia mengalami patah tulang di kakinya tuan. Maaf saya permisi dulu. Silahkan anda melihat dia disana." Kata dokter sambil menunjuk sebuah brangkar yang masih tertutup tirai karena korban masih menjalani perawatan.


Dengan langkah cepat Ben menuju tempat yang ditunjuk dokter tadi dan dilihatnya sosok wanita yang sudah mengusik hidupnya itu sedang berbaring tak sadarkan diri dengan luka di kepala.


"Bagaimana keadaannya dokter." Tanya Bem dengan suara lamah.


"Nona Meisie baru kami beri obat bius tuan, karena dia mengeluh kakinya sakit. Dan kakinya harus segera kami operasi karena ada bagian yang patah. Tapi kami menunggu keluarga nya yang datang. Apakah anda keluarga nona ini." Tanya dokter kemudian.


"Bukan saya temannya. Saya akan menghubungi, keluarganya. "


"Baik tuan sebaiknya secepatnya agar nona Meisie bisa segera kami tangani.


Ben bingung harus menghubungi siapa, karena dia tidak tahu siapa keluarga Sisie.


"Arsen, istri Arsen. "


Ben langsung mengambil ponselnya dan menghubungi Arsen. Dua kali panggilan tidak terhubung namun tidak di angkat.


"Jangan bilang kalian sedang bercinta. Ini masih sore. Dasar pasangan Bucin. " gerutu Ben.


Baru pada panggilan ke tiga telpon baru diangkat oleh Arsen.


"Ada apa Ben."


"Kau kemana saja. " teriak Ben, karena merasa panik.


"Kami baru selesai makan malam. Dan ponselnya ada di kamar, ada apa? kenapa kau terlihat panik sekali. "

__ADS_1


"Sisie, sisie kecelakaan. Dan dokter memintaku menghubungi orang tuanya karena mereka harus mengoperasi kaki Sisie yang mengalami patah tulang. Aku tidak tahu siapa orang tua Sisie. " Kata Ben dengan kepanikannya.


"Apa.. "


__ADS_2