Istri Kontrak Tuan Gay

Istri Kontrak Tuan Gay
Kebahagiaan Calon Orang Tua


__ADS_3

Foto sudah terkirim ke nomor ponsel mama Rima. Mia lalu mengunggahnya di story sosmednya. Mia benar-benar bahagia, dan berharap kebahagiaannya bisa dirasakan oleh semua orang.


Setelah mengunggah fotonya di story, tak lama dia langsung mendapatkan panggilan dari sahabatnya Sisie. Yang langsung heboh menanyakan tentang kebenaran foto itu.


"Miaaaaa, itu foto beneran? Apa cuma prank? " teriak Sisie saat Mia mengangkat telponnya.


"Menurut kamu. "


"Jadi beneran? Aku bakal jadi tante donk... Ahhh... Mia.... kamu cepet pulang ya, biar aku bisa ngusap-ngusap perut kamu. Biar ketularan juga. "


"Hust... kamu ini ngomong apa sih? nikah aja belum sudah mikir yang aneh-aneh. " ingin sekali Mia Menjewer telinga sahabatnya itu, yang sudah bicara ngawur.


Dari seberang telpon terdengar Sisie terkekeh mendengar omelan sahabatnya.


"Kayaknya sebentar lagi, Ben jadi milik aku deh, Mi. Kayaknya dia sudah penasaran sama aku. ' kekeh Sisie.


"Jangan terlalu percaya diri, Sie."


"Ye... dibilangin juga. Nggak percaya. "


Mereka terus mengobrol seputar kehamilan Mia dan kedekatan Sisie dengan Ben. Yang masih tarik ulur.


"Baiklah Mia. Aku ucapkan selamat kepada calon mommy. " Ucap Sisie sebelum dia mengakhiri panggilannya.


"Terima kasih, Sie. "


Mia menoleh kearah Arsen yang sedang memandanginya penuh arti.


"Kenapa? " tanya Mia saat Arsen memandangnya tak berkedip.


"Jadi, benar Sisie sedang mendekati Ben? Dan yang meneror Ben itu Sisie" tanya Arsen yang masih tidak percaya sebelum dia mendengar sendiri tadi, obrolan istrinya dengan Sisie.


Mia mengangguk, "Apa kau masih belum percaya?"


"Tadinya sih belum, Tapi sekarang percaya. Kenapa Sisie nekat mendekati Ben yang menyimpang? "


Mia menggedikkan bahunya. "Entahlah, mungkin itu yang disebut cinta itu buta. Seperti cintaku padamu yang buta, karena tidak peduli dengan siapa dirimu sejak awal. " ucap Mia sambil memasukkan camilan ke dalam mulutnya.


"Kau benar, jika cinta itu tidak buta. Mungkin saja aku tidak akan bisa memilikimu, sayang. "

__ADS_1


Arsen langsung menggelitiki perut Mia yang sejak tadi sangat santai menanggapinya. Namun, candaan mereka tidak berlangsung lama, karena kebahagiaan mereka harus berhenti karena dering ponsel Arsen yang mengganggu.


Arsen lalu mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menelponnya.


"Siapa? " bisik Mia penasaran.


"Mama. " jawab Arsen dengan lirih.


Panggilan di angkat dan Arsen langsung meloudspeker panggilan itu agar Mia mendengar apa yang dikatakan mamanya.


"Hallo, ma. "


"Arsen, apa maksud foto yang kamu kirimkan kepada mama ini, hah. " Teriak Mama Rima yang memekakkan telinga, sehingga baik Arsen atau Mia sampai menutup telinga mereka.


"Kenapa ma? " tanya Arsen santai.


"Sudah jelas kan, ma? "


"Ja... jadi... Mia beneran hamil? " tanya Mama Rima yang masih tidak percaya.


"Iya dong ma, kami sengaja mengirim foto itu untuk kejutan mama dan papa. Karena kami tidak bisa datang ke rumah kalian. Mia masih ingin di sini dulu selama beberapa hari katanya dia masih merindukan kampung halamannya. " jelas Arsen panjang lebar.


"Tidak apa-apa. Kamu disana saja dulu temani Mia dan turuti semua kemauannya. Jangan sampai kamu tidak menuruti kemauan istrimu jika tidak ingin anakmu ileran. Masalah pekerjaanmu disini, Harry akan dibantu papamu. Dan masalah kedua wanita itu papa dan Harry sudah mengurus mereka berdua. Dan membawa mereka ke pedalaman Afrika, agar tidak mengganggu kalian lagi. Ya sudah, kalau begitu telponnya mama matikan, sampaikan salam mama untuk menantu kesayangan mama. Jaga diri kalian baik-baik di sana. " mama Rima terus nyerocos tanpa jeda sampai telpon itu mati.


"Bisa di jelaskan? Sebenarnya aku juga ingin menanyakan ini, tapi aku lupa. Untung mommy mengingatkan aku pada pertanyaan itu." kata Mia sambil menatap tajam kepada suaminya.


"Baiklah akan aku jelaskan. "


Arsen akhirnya menjelaskan asal muasal video yang dikirim kepadanya, dia juga menunjukkan bukti CCTV sekolah yang menunjukkan adanya Amel disana. Kedua dia juga menjelaskan kejadian di restoran, dengan bukti CCTV juga yang berhasil didapatkan Harry. Dan menjelaskan kalau ponsel Arsen tertinggal di kantor, sehingga membuat kesalah pahaman itu terjadi.


Mia mendesah kasar setelah mendengarkan penjelasan dari Arsen. Mereka berdua yang sama-sama terbakar emosi hingga membuatnya harus berpisah selama satu hari. Namun, Mia bersyukur akan kejadian kali ini, karena pada akhirnya dia bisa merasakan perasaan rindu dan kehilangan suaminya, begitu juga dengan Arsen.


Memang, terkadang kita harus meraskaan kehilangan terlebih dulu sebelum merasakan kerinduan yang mendalam dan arti dari cinta yang sesungguhnya.


"Maafkan aku ya, karena sudah pergi dari rumah tanpa pamit. " Mia langsung memeluk suaminya dan meminta maaf kepadanya.


"Sudahlah, ini juga salahku. Yang tidak peka dengan keadaan. Masak istri hamil saja aku nggak tau. " ucap Arsen sambil mengeratkan pelukannya


"Mas berjanjilah, kau tidak akan menghianati ku dengan wanita lain, dan aku akan berjanji tidak akan dekat dengan wanita lain selain Aldo sahabatku. "

__ADS_1


"Iya, aku janji. Nggak akan dekat dengan wanita manapun. Tapi kamu juga harus meralat ucapanmu yang tadi. "


"Ucapan yang mana? " tanya Mia tak mengerti.


"Kau boleh dekat dengan Aldo, tapi harus jaga jarak. Okey. "


Mia tersipu lalu menganggukkan kepalanya.


"Ini baru istri Arsen yang penurut. " Arsen mengusap rambut Mia yang tergerai indah .


Keheningan tercipta saat keduanya tak ada yang bersuara. Mereka larut dengan pemikiran mereka masing-masing. Hingga sebuah ketukan dipintu depan mengagetkan mereka dari lamunannya.


Arsen segera beranjak dari kamarnya , dan menuju pintu depan . Lalu membukakan pintu. Dilihatnya teh Desi disana dengan sebuah rantang di tangannya.


"Dimana Mia. " tanyanya pada Arsen.


"Mia sedang... " ucapan Arsen terpotong saat melihat Mia keluar dari kamarnya.


"Eh, teh Desi. Ada apa teh? " tanya Mia basa basi


"Ini, teteh bawakan makanan buat kalian berdua. " Ucap teh Desi sambil menunjukkan rantang makanan yang dia bawa.


"Ayo masuk. " Ajak Mia.


Arsen yang sejak tadi menghalangi jalan pun segera menghindar dan memberi jalan kepada Desi agar masuk. Mereka langsung menuju ke dapur, Mia tidak sabaran ingin mencicipi makanan yang dibuatkan teh Desi.


"Wah... ini mah makanan yang pengen aku buat dari kemarin. Tapi aku nggak ada bahannya."


"Hayuk atuh, kalau mau dimakan mah. Teteh seneng kalau kamu suka sama masakan teteh. Besok bilang aja sama teteh kamu pengen masak apa, biar teteh masakin. "


"Makasih ya, teh. Apa nggak ngerepotin?"


"Enggak Mia,tadi si Aa' udah ngasih teteh uang buat masakin kamu makanan."


"Makasih ya teh. Teteh baik banget sih. " Ujar Mia sambil mengedip-ngedipkan matanya lucu.


"Udah atuh, bilang makasihnya. Nanti gede kepala teteh jadinya. "


Mereka bedua tertawa bersama di dapur. Arsen yang memperhatikan apa yang mereka lakukan di dapur hanya menggelengkan kepalanya. Baginya, apapun akan dia lakukan untuk membuat Mia tersenyum bahagia.

__ADS_1


"Teh, nanti siang kita ngarujak yuk. "


Celetukan itu terdengar dari bibir Mia, yang membuat tubuh Arsen menegang.


__ADS_2