
"Aduh Mia, kenapa menangis?" tanya Desi yang membawa teh dari dapur.
Mia langsung menyeka air matanya dan tersenyum kepada Desi.
"Nggak apa-apa teh. Aku cuma terharu saja, ternyata mas Arsen baik banget, teh. " ujar Mia yang sulit membendung air matanya.
"Iya, Aa' memang baik. Dia mau ngasih kejutan katanya. Oh iya, Mia pulang sendiri? Dimana si Aa'. "
Mia menggeleng.
"Euleuh-euleuh.... pasti lagi marahan sama si Aa' ya. " goda Desi
Mia hanya tertunduk malu.
"Si Aa' itu orangnya baik banget lho Mia. Berkat Menjaga rumah ini, dan membersihkan ini setiap hari, teteh sama akang nggak bingung nyari uang sekarang. Tiap bulan kita ditransfer gaji bulanan sama si Aa'. Lumayan, buat makan sehari-hari. Meskipun kang Asep masih kerja di ladang, tapi nggak ngoyo kayak dulu. Sedapatnya aja. karena kita sudah dapat gaji bulanan dari si Aa'. Jangan disia-siain laki-laki baik kayak si Aa' ya. Kalau berantem jangan lama-lama nanti di culik wanita lain. Si Aa' kan kasep banget orangnya, teteh mah juga mau kalau belum nikah sama akang Asep. " Desi terus saja nyerocos memberi nasehat, meski juga diselingi candaan dan godaan kepada Mia.
Mia hanya mengangguk dan tersenyum menanggapi teh Desi yang semua ada benarnya seratus persen benar.
"Ya, sudah diminum dulu tehnya, teteh pulang dulu. Kamu istirahat saja, nggak usah ngapa-ngapain. Nanti teteh kirim makanan dari rumah. Kalau mau masak besok saja, belanja ke Mamang-mamang tukang sayur besok pagi. " ucap Desi sambil berdiri dan akan kembali pulang ke rumahnya.
"Iya teh, makasih ya. Maaf ngerepotin. "
"Enggak kok, biasa aja Mia kamu ini kayak sama siapa aja. Teteh pulang dulu ya. " ujar Desi sambil beranjak keluar dari rumah Mia dan meninggalkan Mia sendirian.
Mia segera menutup dan mengunci pintu rumahnya, dia lalu masuk ke dalam kamar dan membaringkan tubuhnya.
Dia mengaktifkan kembali ponselnya, banyak pesan dan panggilan masuk. Dari Sisie, Aldo dan Arsen.Dari mama Rima juga. Mia jadi merasa bersalah kepada mereka semua karena pergi tanpa pamit. Tapi entahlah sisi egois Mia yang bekerja kali ini, padahal dia sudah berjanji kepada mama dan papa tidak akan meninggalkan Arsen apapun yang terjadi.
__ADS_1
"Ma.. pa.. maafin Mia ya? kalau Mia sudah ingkar janji. Tapi Mia nggak tau, kenapa Mia jadi selemah ini sekarang. " lirih Mia dan tanpa sadar meneteskan air matanya.
"Mas Arsen... Mia kangen... Ternyata Mia nggak bisa jauh dari kamu, mas. Baru beberapa jam saja, Mia sudah kangen gini." Mia semakin tidak bisa membendung air matanya. Hingga akhirnya dia tertidur karena kelelahan menangis dan menahan rindu kepada suaminya.
Malam telah larut, Desi dan Asep yang sejak maghrib tadi menemani Mia di rumahnya pun segera pulang. Karena besok Asep harus bekerja di ladang, dan Desi harus menyiapkan bekal untuknya ke ladang.
"Teteh pulang dulu ya, Mia berani kan di rumah sendiri. " tanya Desi.
"Berani teh. " jawab Mia dengan tersenyum.
"Aman kok semua jendela udah dipasang teralis besi sama si Aa'. Kalau ada apa-apa kamu hubungi akang atau Desi ya, Mia. " kata Asep menenangkan.
"Iya, kang. Terima kasih. "
Mereka berdua akhirnya pulang ke rumahnya. Meninggalkan Mia dirumah sendiri.
Kali ini Mia benar-benar merasa bersalah kepada Arsen. Karena emosi sesaat dia sampai meninggalkan rumah. Tapi siapa yang sudah mengirimkan pesan itu kepadanya. Dan siapa wanita itu. Mia ingin sekali melihat kembali video itu. Tapi dia urungkan, karena dia pasti akan merasa marah dan cemburu lagi. Biarlah nanti saat bertemu Arsen dia akan menanyakan langsung kepada Arsen tentang siapa wanita di video itu.
Waktu menunjukkan pukul sebelas malam saat sebuah mobil mewah terparkir cantik di halaman rumah Mia. Arsen datang sangat terlambat karena kemacetan parah tadi. Arsen Melihat keadaan rumah itu dari dalam mobil, sudah jauh berbeda dari pertama dia dan Mia datang ke rumah ini.
Arsen terus memperhatikan, dia melihat ada lampu tidur yang menyala dari dalam, mungkinkah Mia sudah tidur? Ingin menelponnya dia takut mengganggu tidurnya. Untung saja dia menyempatkan mampir di sebuah rumah makan tadi sebelum sampai di rumah Mia. Karena tau keadaan ini juga pasti akan terjadi. Arsen memutuskan tidur di dalam mobil saja, dan tidak mengganggu tidurnya Mia malam ini.
Biarlah masalah mereka akan mereka selesaikan besok saja. Hari ini, Arsen tidak punya tenaga lagi jika harus berdebat atau menjelaskan semuanya kepada istrinya itu. Tanpa terasa diapun memejamkan matanya dalam keadaan yang menurutnya sudah nyaman.
Pagi menjelang, Suara cicit burung sudah membangunkan Mia dari tidurnya. Dia segera berlalu dari tempat tidurnya dan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setelah selesai, dia langsung membuka jendela kamar. Lalu ke luar kamar dan menuju dapur untuk memasak nasi dan membuat segelas teh hangat untuk menghangatkan tubuhnya yang kedinginan karena memang suhu di kampung Mia sangat dingin di pagi hari.
Setelah membuat teh, Mia berencana membeli sayur di mamang-mamang yang lewat. Dia ingin berada di kampunya ini selama beberapa hari dulu sebelum kembali ke Jakarta menemui suaminya.
__ADS_1
Saat Mia membuka pintu rumahnya, matanya. membulat saat melihat mobil yang sangat dia kenali berada di halaman rumahnya. Mia langsung mendekati mobil dan mengetuk kaca jendela mobil itu. Arsen yang sedang tertidur pun segera membuka matanya saat mendengar ketukan di jendela kacanya. Dilihatnya sosok yang sangat dia rindukan itu sudah berdiri disamping mobilnya.
Arsen langsung membuka pintu mobilnya dan segera keluar. Mereka kini sudah berdiri berhadapan. Arsen pikir Mia akan mengomel atau mengusirnya dari sana. Arsen akan pasrah, dia akan menjelaskan kepada Mia apa yang sebenarnya terjadi. Setelah itu dia akan menerima keputusan Mia.
Namun kenyataan memang tak sesuai ekspektasi. Mia langsung berhambur memeluk suaminya itu dan menangis tersedu-sedu. Arsen yang bingung dengan keadaan ini langsung membalas pelukan Mia, sambil mengusap rambut panjangnya yang tergerai indah.
"Mas... aku kangen.. " ucapnya kemudian.
Sontak saja Arsen tak percaya dengan apa yang dia dengar, Dia pikir Mia akan mengomelinya, mencacinya atau mengusirnya dari sana. Tapi apa yang dia dengar barusan.
Kangen?
Apa tidak salah?
Arsen melepaskan pelukan Mia, tapi Mia langsung memeluknya lagi kali ini semakin erat. Arsen jadi semakin bingung dengan keadaan ini.
"Mia... aku nggak bisa nafas kalau kamu meluknya erat banget kayak gini. " ucap Arsen pada akhirnya.
Mia yang menyadari itu, langsung melepaskan pelukannya dan menatap wajah Arsen. Wajah yang sangat dia rindukan sejak kemarin.
Perlahan Arsen mengusap air mata Mia dengan ibu jarinya. Dan ganti memeluk istri cantiknya itu.
"Aku juga merindukanmu, Mia. Sangat merindukanmu." ucap Arsen pada akhirnya.
Dia lalu mengangkat tubuh Mia kedalan gendongannya, dan masuk ke dalam rumah. Arsen tidak mau keromantisan mereka menjadi konsumsi warga kampung Mia.
Sampai di dalam rumahnya, Arsen langsung menutup pintu depan dengan kakinya dan membawa Mia masuk kedalam kamarnya. Dia lalu membaringkan istrinya itu diatas tempat tidur, dan menciumnya dengan rakus. Seolah sudah lama mereka berpisah dan ingin melepaskan rasa rindu mereka rasakan sekarang juga.
__ADS_1