
Pagi harinya, Seperti biasa Mia terbangun lebih awal dari Arsen. Dia merasakan sedikit sakit. dipangkal pahanya. Tapi tidak sesakit kemarin, Mungkin karena ini pengalaman keduanya jadi dia tidak begitu merasa sakit.
"Jika sudah ke-tiga ke-empat dan seterusnya mungkin nggak bakalan sakit lagi kali ya. " pikir Mia sambil berendam di air hangat.
"Ih, kenapa otakku jadi mesum gini sih. " Mia memukuli kepalanya karena sudan berfikiran mesum.
Dia segera menyelesaikan mandinya, karena harus menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Mia tidak ingin seperti kemarin yang harus menahan lapar sampai siang gara-gara tidak sarapan. Sebelum turun ke dapur Mia terlebih dulu membangunkan Arsen dan menyiapkan pakaian kantornya, agar dia tidak bolak-balik naik turun nanti.
"Mas Arsen, bangun. Sudah siang ini. Apa mas Arsen nggak kerja hari ini?" Mia membangunkan Arsen dengan menggoyang-goyangkan tubuhnya.
"Mas... ihhh, susah banget sih dibanguninnya. " gerutu Mia sambil terus menggoyang-goyangkan tubuh Arsen.
"Berisik sekali. "
Arsen yang merasa terganggu pun langsung menangkap tangan Mia yang sudah mengganggu tidurnya, lalu menarik tangan itu sehingga membuat Mia jatuh tepat di dad Arsen.
Arsen sedikit membuka matanya dan melihat wajah Mia yang sangat dekat dengan wajahnya. Dia lalu menyeringai saat melihat bibir berbalut lipstik tipis itu menggodanya. Dan...
Cup.
Bibir Arsen menempel di bibir Mia dan menyespanya sebentar.
"Morning kiss. Terima kasih moodboosternya pagi ini. Aku akan bangun. "
Tanpa rasa bersalah dan malu sedikitpun Arsen langsung bangkit dari tidurnya dan menuju kamar mandi, pasalnya saat ini dia dalam keadan full naked. Dan tanpa memperdulikan Mia yang sedang menggerutu sambil mengerucutkan bibirnya.
Mia juga langsung bagkit dan merapikan tempat tidur mereka yang berantakan. Setelah itu segera menyiapkan pakaian ganti Arsen. Dia juga langsung membawa tasnya ke bawah. Dan segera memasak sarapan pagi mereka.
Arsen turun ke lantai bawah dengan menyampirkan dasinya di bahu, mau apa lagi kalau tidak meminta Mia untuk memasangkan dasinya nanti. Dia mencium aroma masakan yang menggugah selera. Ternyata dia tidak salah memilih seorang istri kontrak, mana cantik. Pintar masak pula.
Tunggu dulu.
Istri kontrak???
Mungkin nanti malam Arsen akan berbicara kepada Mia tentang isi surat kontrak itu. Sudah diputuskan.
"Ayo mas kita sarapan. " ajak Mia saat melihat Arsen sudah berada di meja makan.
"Sarapan apa hari ini? Nasi goreng lagi? "
"Enggak, aku masak tumis kangkung,ayam goreng, tempe sama nugget. "
"Nugget? bukankah itu makanan anak kecil. "
"Iya tapi ini enak lho, coba aja. " Mia memberikan sepotong nugget berbentuk Dino di atas piring Arsen.
"Eh, Mia ini beneran makanan anak-anak lho, bentuknya aja kayak gini. Bener-bener buat anak kecil yang susah makan ini. " kata Arsen sambil memainkan makanan di depannya sepeti anak kecil.
"Udah buruan makan, sekarang siapa coba yang kayak anak kecil. "
__ADS_1
Arsen meletakkan nugget itu di atas piringnya lagi lalu memotong makanan menyuapkannya dengan nasi. Dan matanya berbinar saat merasakan makanan itu.
"Eh, ini bukan cuma anak kecil yang doyan. orang dewasa juga doyan. " celetuk nya setelah merasakan makanan itu.
Mia hanya tertawa dalam hati, merasa lucu melihat sikap Arsen yang terkadang dingin, menyebalkan dan sekarang lihatlah dia seperti anak-anak.
"Sayurnya juga di makan mas. "
Saat mengatakan itu, sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Mia.
"Mi, berangkat bareng aku ya? Aku jemput sebentar lagi. "
Arsen yang melihat Mia membaca pesan jadi penasaran, siapa yang sudah mengiriminya pesan pagi-pagi begini.
"Siapa? "
"Sisie, mas. Dia ngajak aku berangkat bareng. "Mia langsung menunjukkan pesan Sisie kepada Arsen.
Arsen yang sakit mata tiap kali melihat ponsel Mia pun hanya menganggukan kepalanya.
"Anak ini, duit udah banyak masak nggak mau ganti ponsel yang bagusan dikit. " gumam Arsen dalam hati.
"Jadi hari ini aku berangkat bareng Sisie ya, mas."
"Iya... " jawab Arsen singkat lalu segera menyelesaikan makannya.
Mia mencuci tangannya lalu mendekati Arsen, dan membantunya memasangkan dasi.
"Kenaoa sekarang jadi manja sih, dulu sebelum nikah siapa coba yang memasangkan dasi ini. " Mia terus mengomel sambil merapikan dasi Arsen.
Arsen yang sejak tadi memperhatikan bibir cerewet itu mengomel pun langsung menarik pinggang Mia hingga menempel ke tubuhnya.
"Ini, kenapa bibir ini selalu mengomel sih cerewet sekali." Arsen memberikan kecupan singkat dan mendusel hidung Mia dengan hidungnya.
"Mas ih, apaan sih. Buruan berangkat nanti telat. "
"Terserah aku, aku kan bosnya. "
"Iya... iya bos. Tapi harusnya bos, memberikan contoh yang baik untuk bawahannya. "
Mia mulai membantah ucapan Arsen sekarang, dia seperti seorang istri sungguhan yang sedang mengomeli suaminya.
Arsen yang mendengar ocehan Mia semakin tersenyum senang. Karena kini hidupnya semakin berwarna sejak masuknya Mia ke dalam kehidupannya. Dulu sebelum menikah kehidupannya hanya berputar sekitar kantor dan rumah saja, terkadang juga ke klub malam sesekali hanya untuk menghilangkan penat. Namun sekarang, sejak Mia masuk ke dalam hidupnya. Semua berubah, bahkan sejak menikah. Hanya sekali dia datang ke klub dan pulang dalam keadaan mabuk. Itupun karena permintaan Ben yang ingin ditemani.
"Aku akan mempertahankanmu disisiku, Mia. "
Arsen sudah memutuskan. Bahkan dia ingin mengakhiri pernikahan kontraknya dengan Mia dan memulai semuanya dari awal.
"Aku berangkat dulu, nanti kalau berangkat jangan lupa mengunci semua pintu dengan benar."
__ADS_1
"Iya, mas. Mas Arsen hati-hati di jalan ya?" Mia menyalami Arsen dengan takzim, seperti biasa.
Arsen tersenyum dan mengecup kening Mia sebelum dia masuk mobil.
Setelah kepergian Arsen, Mia masuk ke dalam rumah sambil menyelesaikan pekerjaannya yang belum selesai.
Saat Mia sedang duduk bersantai sebuah klakson mobil yang sangat dia kenal berhenti di depan rumah Arsen. Mia langsung bangkit dan mengunci semua pintu dan pagar. Memastikannya lagi agar tidak terlewat. Kemudian masuk ke dalam mobil Sisie.
"Pagi, Sie. Tumben jemput aku. "
"Aku mau curhat. " kata Sisie sambil melajukan mobilnya.
"Curhat apaan? "
"Semalam aku mengirim pesan kepada Ben. "
"Gila berani banget kamu...Terus...terus... "
"Dia nggak bales-bales, sampai satu jam aku nunggu. Sampai ketiduran juga. "
"Terussss??? " Mia mulai menangkal sesuatu yang mustahil.
"Pas aku tidur aku nggak tahu kalau dia balas chat aku. " Kata Sisie dengan wajah ditekuk.
"Beneran dia balas chat, mu. terus dia bilang apa?"
"kamu baca sendiri aja. "
Mia lalu membuka ponsel sisie dan membaca pesan dari Ben Tampan.
"Cih, alay banget kamu ngasih dia nama kayak gitu. "
"Biarin, suka suka aku. "
Mia tidak meneruskan perdebatannya dengan Sisie dia lalu membuka pesan dari Ben.
"Cuma ini? Ya ampun Sie. Kirain pesan kek gimana ternyata cuma gini doang. " Mia menepuk jidatnya.
"Iya tapi aku bingung banget tau... Gimana balesnya. "
Mia memutar bola matanya malas mendengar kelebayan sahabatnya itu.
"Ya terserah kamu mau bales apa. Aku peringatkan sekali lagi Sie, sebaiknya kamu jauhi Ben. Aku kira dia iti pria penuh misteri nggak seperti mas Arsen. "
"Aku suka misteri karena itu sangat menantang."
"Terserah kamu deh, Sie. Pokoknya aku sebagai sahabatmu sudah memperingatkan lho, ya. Kalau ada apa-apa jangan pernah salahkan aku karena sudah mengingtkan mu. "
"Iya.... iya bawel. "
__ADS_1