
Arsen melajukan mobilnya tanpa arah, dia tidak tau harus kemana dia pergi. Ingin ke klub, dia sudah tidak berselera menginjakkan kakinya di tempat seperti itu. Hanya karena rasa cemburu, dia tidak ingin merusak sesuatu yang sudah dia perbaiki. Akhirnya dia hanya berputar tanpa arah, hingga akhirnya rasa lapar menghampiri. Dia berhenti di sebuah restoran. Kali ini dia akan makan apapun yang dia mau.
Arsen duduk sendiri di pojokan, dan tanpa dia sadari ada sepasang mata yang memperhatikannya sejak dia masuk ke dalam restoran. Senyuman penuh arti itu diberikan kepada Arsen yang sedang duduk sendiri.
"Sepertinya ada yang sedang marahan dengan istrinya. " kata wanita itu yang tak lain adalah Amel.
"Siapa? " tanya teman Amel yang ada di depannya.
Amel lalu menujuk Arsen dengan dagunya.
"Itu kan Arsen, mantan kamu Mel. "
Amel hanya mengangguk.
"Aku ingin kembali padanya tapi ternyata dia sudah menikah. Aku ingin merebut Arsen kembali dari istrinya. Kau bisa bantu aku, Diana? "
"Bantu apa? "
Amel lalu membisikkan sesuatu ketelinga Diana. Diana mengangguk mengerti dam tersenyum lebar.
"Oke akan aku lakukan. Kau juga lakukan yang terbaik. " Diana segera beranjak dari duduknya dan mendekati Arsen.
"Setelah si pria yang aku adu, sekarang giliran wanitanya. " gumam Amel dengan puas.
Tanpa Amel sadari, sejak Ia membisikkan sesuatu kepada Diana. Ternyata Diana tersenyum penuh Arti kepada Arsen.
"Jika Arsen bertengkar dengan istrinya, aku akan masuk ke dalam hidupnya. Terima kasih, Mel. Ternyata kamu lebih bodoh dari yang aku kira. " gumam Diana sambil melangkah menuju meja Arsen dengan percaya diri.
Saat dia melewati Meja Arsen, Diana pura-pura tersandung. Dan spontan Arsen menolongnya. Setelah mereka berhadapan Diana langsung pura-pura mengenali Arsen.
"Ya Ampun ternyata kau, Arsen. Lama tidak bertemu. "
Diana langsung cipika-cipiki dengan Arsen. Dan Arsen tidak sempat menghindar sehingga adegan itu bisa terekam jelas dalam ponsel Amel.
"Bagus sekali, Diana. " Gumam Amel dengan tersenyum bahagia.
__ADS_1
Arsen masih bingung dengan apa yang baru saja terjadi. Semua terjadi begitu cepat, dan tanpa permisi Diana langsung duduk berhadapan dengannya.
"Sebenarnya kamu siapa?" tanya Arsen tanpa basa basi.
"Kamu lupa sama aku? Aku Diana teman kuliah kamu dulu. Sombong baget sih kamu, mentang-mentang udah sukses teman lama di lupain. " ucap Diana dengan bibir yang dibuat mengerucut.
"Sorry aku beneran lupa. Tapi maaf, Diana. Aku lagi nggak pengen di ganggu. Kamu bisa pergi dari hadapanku sekarang, karena aku lagi pengen sendiri. "
Diana langsung berdiri dan menghentakkan kakinya, sedikit kesal. Lalu dia meninggalkan meja Arsen. Namun senyum dibibirnya langsung tersungging setelah dia merasa berhasil melakukan misinya.
Amel mengacungkan jari jempol nya kepada Diana. Tanda misi mereka berdua sukses.
"Kita lihat, drama apa lagi yang akan terjadi kali ini. "
Amel langsung mengirimkan video itu kepada Mia. Dari mana Amel mendapatkan nomor ponsel Mia, jawabnya mudah. Uang bisa mengetahui segalanya.
Di mejanya Arsen sudah tak berselara lagi untuk makan, karena moodnya sudah di rusak oleh wanita yang bernama Diana itu. Dia langsung meminta tagihan tanpa menghabiskan makanan yang dia pesan. Lalu segera pergi dari sana
Arsen melajukan mobilnya menuju ke rumah, Waktu menujukkan pukul sepuluh malam saat ia tiba di rumah. Arsen langsung menuju kamarnya dan melihat Mia sedang tidur meringkuk. Dia lalu mendekat, dan ditatapnya dalam-dalam wajah istrinya yang terlihat sembab. Bahkan masih ada buliran air mata yang keluar di sudut matanya. Tak tega rasanya membiarkan Mia dalam keadaan seperti ini. Namun ini harus dia lakukan, agar istrinya itu tidak sembrono lagi jika berada di luar sana. Karena dia adalah istri seorang Bharata yang setiap tindak tanduknya pasti akan menjadi perhatian publik.
Dia menghela nafasnya, dan segera berganti pakaian tidur. Lalu merebahkan tubuhnya di samping istrinya dan memeluknya, hingga akhirnya dia terlelap.
Tapi kali ini berbeda, saat dia bangun yang pertama kali dia lihat adalah punggung suaminya yang tengah memunggunginy. Mia menghela nafasnya, matanya berkedip beberapa kali melihat ini.
"Apakah dia masih marah padaku? " Gumamnya lirih.
Mia langsung bangkit dari tidurnya dan segera membersihkan tubuhnya lalu menjalankan kewajibannya. Tak lupa dia juga menyiapkan pakaian kerja untuk Arsen.
" Walaupun sedang marahan, aku akan tetap menyiapkan pakaianmu. Terserah masih kau pakai atau tidak. " Gerutunya sambil mengambil pakaian Arsen dilemari.
"Jika kau marah padaku, aku juga bisa melakukan hal yang sama. Memangnya enak di cuekin gini. "
Setelah semua siap, Mia langsung turun ke bawah untuk membantu bi Mar memasak. Tercium aroma masakan yang sangat menggugah selera. Biasanya seperti itu. Tapi tidak kali ini. Aroma masakan bi Mar kali ini membuat perut Mia serasa di aduk. Hingga dia memutuskan untuk tidak jadi ke dapur membantu bi Mar, tapi malah keluar rumah.
Mia sudah berada ditaman samping rumah. Disana banyak di tanam berbagai bunga dan tanaman hias. Memang Arsen sangat menyukai suasana yang menyejukkan mata seperti ini. Mia duduk di kursi taman dan menikmati pemandangan di depannya. Andai dia bawa ponsel tadi mungkin dia akan mengambil beberapa gambar di hadapannya ini.
__ADS_1
Entah sudah berapa lama Mia berada di taman itu, hingga terdengar suara mobil Arsen yang sudah meninggalkan rumah.
"Jam berapa ini? kenapa berangkat pagi sekali. Bahkan dia tidak mencariku." Mia menundukkan kepalanya dan tanpa terasa airmatanya menetes.
Dia lalu berdiri dan beranjak masuk ke dalam rumah. Di lihatnya bi Mar yang sedang kebingungan.
"Bibi ngapain? " tanya Mia.
"Ya, ampun neng Mia... Bibi cari kemana-mana. Neng Mia dari mana sih? tadi dicariin Den Arsen. "
"Mas Arsen nyariin aku? beneran? "
"Iya neng, dia berangkat pagi, katanya ponselnya ketinggalan di kantor. Den Arsen harus mengecek apa itu tadi lupa bibik. Pokoknya yang dikirim di hapenya, katanya. Makanya nggak sempat nyariin neng Mia. "
Mia tersenyum mendengar penjelasan bi Mar. Ternyata Arsen mencarinya, mungkin dia sudah tidak marah lagi.
"Makasih, bi. Aku mau bersiap ke kampus dulu. " Mia langsung melewati bi Mar gitu aja dan langsung menaiki anak tangga.
Mia segera bersiap dan memasukkan apa yang dia butuhkan. Tiba-tiba ada panggilan masuk dari Sisie. Mia langsung mengangkat panggilan dari sahabatnya itu.
"Apa sie? "
Aku jemput ga? '
"Nggak usah, aku naik ojek aja. Nanti kita ketemu di kampus. "
"Ya udah deh. "
Panggilan terputus.
Saat Mia menutup panggilan nya, ada sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal dikirim sebelas jam yang lalu. Itu artinya semalam. Sebuah Video. Karena penasaran, Mia langsung membuka video itu. Matanya membulat saat melihat apa yang ada di video itu.
Suaminya bertemu dengan seorang wanita cantik, lalu mereka cipika-cipiki. Mia merasa marah seketika itu juga. Namun dia harus menahannya, karena dia tidak ingin kewarasannya terganggu.
Mia langsung mengirimkan video itu kepada Arsen dengan sebuah pesan yang sangat tak mengenakkan.
__ADS_1
"Semalam kau bilang aku harus menjaga reputasi ku. Sekarang kau sendiri, apa yang kau lakukan dengan wanita itu. Dasar munafik, egois. "
"Aku pulang. "