
Mia dan Sisie sudah sampai di kampus, mereka berdua berjalan bersama menuju kelas masing-masing. Meskipun beda kelas tapi mereka berdua tetap kompak sebagai sahabat.
Saat berada di persimpangan, tiba-tiba langkah mereka dihentikan oleh duo racun alias Jessica dan Sandra. Teman satu kelas Mia yang terkenal, cantik angkuh dan sombong. Yang sangat membenci Mia karena Aldo cowok incarannya itu selalu menempel kalau sudah ada Mia disisinya.
"Tumben, kalian berangkat bersama. Tidak diantar cowok kemarin? " kata Jessica dengan bersedap dada dan mempermainkan rambutnya dengan satu tangan.
"Maksud nya apa ya? " Sisie yang tak ngerti maksud mereka pun ikut bicara.
"Ini sohib lo kemarin kan dianter sama cowok simpanannya. "
Sisie menaikkan alisnya dan menoleh ke arah Mia.
"Siapa? " tanyanya lirih.
Mia hanya menggedikkan bahunya.
Sisie yang mengertipun mulai pasang badan.
"Memangnya apa urusannya dengan kalian?"
"Emang sohib lu ini cewek nggak bener ya, udah jadi simpenan orang, masih aja dekitin cowok lain." Jessica berbicara dengan ketus sambil mendorong tubuh Mia dengan telunjuknya.
"Apaan sih. " Mia yang merasa risih pun langsung menepis tangan Jessica.
"He, lo kalau nggak tau apa-apa usah asal nuduh deh. Bisa-bisa kerjaan bokap lo dan kuliah lo yang jadi taruhannya. "
Sisie merasa kesal juga dengan tingkah duo racun didepannya ini. Dia langsung menarik tangan Mia dan meninggalkan mereka berdua.
"Kamu, kalau dibully seperti itu harus bales Mia, jangan diem aja. Nanti kamu malah di injek-injek sama mereka. "
"Aku nggak tau kesalahanku sama mereka, dari kemarin mereka udah mulai ganggu aku. Dan yang jadi permasalahan itu, si Aldo. " Mia menepuk jidatnya dan menggelengkannya.
"Kayaknya si Jessika suka deh sama Aldo. " Sisie menduga.
"Bodo amat dia suka sama Aldo, orang aku juga nggak ada hubungan apa-apa sama dia. Kita cuma teman doang. " ucap Mia dengan yakin.
"Itu menurut mu, tapi enggak sama Aldo. Aldo itu suka sama kamu, Mia. Masak sih kamu nggak peka. " Sisie mengatakan apa yang dia rasakan selama ini.
Pasalnya interaksi Aldo ke Mia bukan seperti seorang teman, tapi lebih seperti seorang pria yang menjaga wanita yang di cintainya.
"Udah deh, nggak mungkin juga aku sama Aldo. Kamu tau sendiri kan aku sekarang sama siapa? " kata Mia yang tidak ingin membahas Aldo lagi. Karena gara-gara dia Mia harus menerima intimidasi dari duo racun itu.
Tanpa mereka sadari, di belakang mereka sosok Aldo mendengarkan semua pembicaraan mereka berdua. Dia mengepalkan kedua tangannya setelah tau kalau Mia hanya menganggap nya teman dan nggak mau hubungan lebih. Dan kalimat terakhir Mia.
"Kamu tahu sendirikan, aku sekarang sama siapa?"
Memangnya sekarang Mia bersama siapa?
__ADS_1
Pertanyaan Itu yang harus Aldo cari jawabannya nanti.
Aldo lalu berlari mengejar Mia dan Sisie yang sudah jauh di depannya dan langsung merangkul kedua sabahat nya itu dari belakang. Mia dan Sisie yang merasa terkejut pun langsung langsung menghadiahi Aldo dengan cubitan dan pukulan, karena sudah mengagetkan mereka berdua.
"Bikin kaget aja kamu, Aldo.... " Mia mencubit pinggang Aldo gemas.
"Iya.. iya... ampun."
"Do, aku titip Mia ya, jaga dia jangan sampai di kerjain sama kedua fans fanatik kamu. "
"Iya serahin Mia sama aku. Memangnya mereka gangguin kamj lagi, Mi? " tanya Aldo.
"Tadi mereka ngadang kita di jalan. pake acara ngoming kalau Mia cewek nggak bener lah. Nggak ngaca apa mereka. Pakai baju kurang bahan gitu, apa cewek bener. " bukan Mia yang berceloteh, melainkan Sisie.
"Udah , aku kelas dulu. " Sisie pergi meninggalkan Aldo dan Mia.
Mereka berdua lalu masuk ke dalam kelasnya, sedangkan Sisie lanjut ke kelasnya.
"Kamu diapain lagi sama mereka berdua? " tanya Aldo sambil manatap sinis ke arah Duo racun.
"Udah deh mereka cuma iseng doang. " Kata Mia yang tidak ingin memperpanjang masalah.
Aldo kemudian diam, dan menatap Mia yang duduk disampingnya.
"Mi, aku mau tanya sama kamu. "
"Apa?" Mia langsung menoleh kearah Aldo, saat Aldo berubah serius.
"Aldo , kamu ini ngomong apaan sih, kita kan cuma teman sahabat . Udah hanya itu, nggak lebih. Jangan sampai Friendzone Aldo ."
"Jadi benar , kau tidak pernah punya sedikitpun perasaan padaku . Padahal Apa kurangnya aku , Aku cukup tampan dan pekerjaanku juga cukup mapan . Walaupun , pekerjaanku masih nebeng sama bokap ." keluh Aldo yang merasa kecewa.
Mia kekeh mendengarkan ucapan Aldo , Tapi dia langsung menghentikan senyumannya. Karena melihat wajah Aldo yang muram.
"Kamu kenapa sih Al , mending kamu lupakan ini semua . Kita fokus belajar dulu. " Ucapnya yang tidak ingin sahabatnya itu tambah kecewa .
"Tapi Mia..." Aldo tidak bisa melanjutkan kalimatnya karena dosen mereka sudah masuk ke dalam kelas.
Tiga jam kemudian Kelas mereka pun usai, saat Mia sedang memasukkan buku nya ke dalam tas. Terdengar sebuah pesan masuk.
Mia langsung membuka ponsel nya dan melihat siapa yang sudah mengiriminya pesan. Sedikit saja berharap kalau Arsen mengiriminya persen. Namun dia kecewa saat bukan Arsen yang mengirim pesan tapi mama.
"Hallo sayang. Bisakah malam ini kau dan Arsen ke rumah mama, kita makan malam bersama. "
Mia langsung membalas pesan itu.
"Aku tanya mas Arsen dulu ya ma? "
__ADS_1
Setelah mengirim pesan itu Mia lalu mengirim ulang pesan yang mama kirimkan kepadanya.
Mia lalu memasukkan ponsel nya ke saku celana dan segera keluar dari kelas. Di luar Aldo sudah menunggunya, Mia pikir Aldo sudah pulang duluan. Ternyata dia menunggunya diluar.
Mereka berdua berjalan bersama dengan Aldo yang merangkul pundak Mia. Pemandangan seperti sangat dibenci oleh Jessica dan Sandra.
"Kita buat perhitungan sama wanita itu. " kata Jessica dan diangguki Sandra.
Mia dan Aldo sudah berada di parkiran, Aldo memaksa ingin mengantar Mia pulang. Tapi Mia ingat pesan Arsen yang melarangnya dekat dengan Aldo.
"Maaf Al, aku udah janjian sama Sisie tadi. Maaf ya.. " kata Mia, merasa tak nyaman dengan keadaan ini.
"Ya udah deh, kalau begitu." Dengan sedikit kecewa, Aldo melepaskan kepergian Mia.
Mia langsung menghubungi Sisie dan menanyakan dimana dia berada.
"Kamu dimana? "
"Biasa, kafe depan kampus. "
"Oke, aku kesana. "
Mia memasukkan ponselnya dan keluar dari kampus. Saat akan menyeberang jalan Mia mendapatkan panggilan telpon dari Arsen.
Mia mengangkat panggilan telpon itu dulu sebelum menyeberang jalan karena lalulintas sangat sangat ramai.
"Hallo mas. "
"Kamu dimana?
"Ini baru keluar dari kampus, mau ke kafe depan sama Sisie. Sekalian makan siang."
"Oohh, ya sudah. Nanti malam kita ke rumah mama. Kamu bersiap aja, nggak usah masak di rumah. "
"Oke." Mia tersenyum senang mendengar hal itu.
Dia lalu menyeberang jalan saat melihat kendaraan sudah sepi lalu lalang, sambil terus berbicara di telpon dengan Arsen. Dia terus melihat kanan kiri, karena dia juga tidak ingin celaka.
"Duh seneng banget yang dibilangi nggak usah masak.
"Iya donk.. Sekali kali nggak masak. " Mia terkekeh mengatakan hal itu.
Namun saat dia sudah hampir sampai di seberang jalan, entah dari mana tiba-tiba sebuah mobil merah melesat menghampiri Mia. Semua orang berteriak kepada Mia agar menghindari mobil itu, Bahkan Arsen juga mendengarkan teriakan itu, karena sangat berisik.
Mia sempat menoleh ke arah mobil itu dan dia akan menghindar. Tapi sedikit terlambat....
"Brakkk... "
__ADS_1
Tubuh Mia terpelanting ke samping karena dia sempat mencium body mobil itu.
Mia... Mia... Mia...