
Di ruang rawat Sisie, Ben masih setia menemani Sisie. Dia tidak peduli walau ada orang tua Sisie di sana. Yang dia tau, dia hanya mencemaskan keadaan Wanita itu dan Ben berharap, Sisie melihatnya pertama kali saat dia sadar.
Orang tua Sisie juga merasa heran kenapa Ben tidak segera pergi dari sana. Padahal saat ayah Sisie bertanya kepada Ben tentang hubungannya dengan Sisie, Ben tidak bisa menjawab dan hanya terdiam menunggu Sisie sadar. Orang tua Sisie jadi bingung dengan status mereka berdua.
Saat orang tua Sisie masih bingung dnegan pemikirannya, tiba-tiba terdengar pintu ruangan di ketuk. Ibu Sisie lalu bangkit dan melihat siapa yang datang.
"Mia? Bagaimana? " tanya mama Helen saat melihat Mia yang datang.
"Alhamdulillah semua sehat tante, dan bayiku ada dua ternyata. "
"Maksudmu kembar? " pekik Mama Helen tak percaya.
Mia mengangguk.
"Wah, selamat ya..."
Mereka berdua mengobrol di dalam ruangan, sedangkan Ben dan papa Sisie keluar ruangan bersama Arsen.
"Ben, apa kau tidak kembali pulang dulu. Berganti pakaian atau apalah. Dari semalam kau memakai pakaian yang sama. " Keluh Arsen, yang mengerti perasaan kedua orang tua Sisie yang canggung kepada pengusaha muda itu.
"Ah iya, aku akan mengubungi asistenku untuk mengantarkan pakaianku kesini. " jawab Ben enteng lalu dia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi asistennya.
Arsen dan Tomi saling berpandangan, lalu. Menggelengakan kepalanya bersama. Ternyata Ben sangat tidak peka dengan sindiran nya.
Di dalam ruangan, Mia sedang ngobrol bersama Helen. Tentang keadaan kandungan Mia. Hingga pertanyaan Helen membuat Mia bingung untuk menjawabnya.
"Mia, bisa kau katakan kepada tante, sebenarnya apa hubungan Ben dengan Sisie. "
Mia jadi salah tingkah, dan tidak bisa menjawab pertanyaan mama Helen tersebut.
"Apa tidak menunggu Sisie sadar saja, tan. untuk mengetahui bagaimana hubungan mereka sebenarnya. "
Helen menggeleng. "Tante dan Om jadi bingung menghadapi Ben, Mia. Dia tidak beranjak sedikitpun dari ruangan ini. Tante jadi sungkan, bagaimanpun Ben adalah salah satu orang berpengaruh dalam dunia bisnis, dan rekan kerja papa Sisie. "
Mia menghela nafasnya. Ya bagaimanapun benar yang dikatakan Helen, Mereka pasti bingung jika tidak ada kejelasan hubungan antara Sisie dan Ben.
"Tante, kalau aku menceritakan semuanya aku harap tante tidak shock ya? " kata Mia pada akhirnya.
"Iya, ceritakan saja sebenarnya apa hubungan mereka berdua. "
Mia mengatur nafasnya terlebih dahulu sebelum menceritakan seperti apa hubungan antara Sisie dan Ben. Tapi dia tidak akan menceritakan, siapa Ben sebenarnya kepada orang tua Sisie.
"Tante, sebenarnya selama ini Sisie mengejar-ngejar Ben dan mencoba mencari perhatian Ben. "
Mata Helen membulat saat mendengarkan cerita awal dari Mia.
__ADS_1
"Benarkah? "
Mia mengangguk.
"Selama ini Sisie meneror Ben dengan pesan-pesan nggak penting, seperti mengucapkan selamat, malam, pagi, sudah makan, lagi apa dan masih banyak pesan Sisie yang dikirimkan kepada Ben. Awalnya Ben tidak memanggapi, hingga dia curhat kepada suamiku dan suamiku menyuruh Ben menanggapinya. Dan mungkin saja yang menjadi penggemar rahasia Ben kali ini adalah jodohnya. "
Mama Helen kini mengangguk mengerti.
Mia masih menceritakan bagaimana kisah Ben dan Sisie.
"Hingga mereka akhirnya bertemu satu minggu yang lalu dan saat pertemuan itulah Sisie mengungkapkan perasaannya kepada Ben. "
"Apa? Sisie mengungkapkan... "
Mia mengangguk.
"Tapi Ben tidak meresponnya, malah menjauhi Sisie selama satu minggu ini. Hingga Kemarin aku membuat rencana... "
Mia menceritakan rencananya dan Sisie kemarin. Hingga membuat Ben kebakaran jenggot dan mengajak Sisie bertemu.
"Dan terjadilah hal ini, tante. "
Helen menggelengkan kepalanya dan mengulum senyumannya, dia tidak menyangka anaknya memiliki keberanian sebesar itu untuk mencintai menargetkan seorang pengusaha sekelas Ben. Benar-benar nekat dan memiliki nyali besar, Sisie.
"Baiklah, sekarang tante mengerti, apa yang akan tante lakukan setelah ini. Terimakasih atas informasinya, sayang." Helen langsung memeluk sahabat baik anaknya itu.
Sebuah lenguhan kecil terdengar dari arah brangkar. Mia dan Helen segera mendekati Sisie dan melihat Sisie membuka matanya.
"Sayang kau sudah sadar? "
"Mama... " lirih Sisie.
"Iya, ini mama sayang, dan ini sahabatmu Mia juga ada. "
Mia langsung memegang tangan Sisie.
"Kau tidak apa-apa kan? " tanya Mia dan mendapat anggukan kecil dari Sisie.
Tomi, Ben dan Arsen langsung masuk saat mereka mendengar kalau Sisie sudah sadar. Dan mendekati brangkar Sisie.
Sisie menyapa papanya saat melihat pria paruh baya itu mendekat.
"Papa... "
"Iya sayang, papa ada disini. Apa kau sudah merasa lebih baik?" tanya Tomi
__ADS_1
Sisie hanya mengangguk sebagai jawaban. Lalu matanya menangkap sosok pria pujaannya berada di belakang papanya bersama Arsen. Sisie langsung melebarkan senyumannya saat melihat sosok itu.
"Tuan Ben. Kau masih berada di sini? menungguku? " ujar Sisie antusias dengan mata berbinar, berbeda saat menyapa kedua orang tuanya dan sahabatnya.
Ben mengangguk dan tersenyum.
"Iya dia menunggumu dari semalam bahkan sampai siang ini dia tidak beranjak dari sini. Lihatkah bahkan pakaiannya tidak ganti. dasar jorok. " celetuk Arsen yang membuat Ben melotot kearahnya.
Mendengar ucapan Arsen, Sisie jadi tersipu malu. Melihat anaknya yang malu-malu kucing seperti itu mama Sisie semakin yakin kalau apa yang di ceritakan Mia itu benar adanya.
Mereka kembali duduk di sofa dengan Sisie yang sedang ditemani Mia ngobrol. Lagi-lagi terdengar pintu diketuk, kali ini Ben yang membukakan pintunya, sepertinya dia tahu kalau tamu kali ini adalah tamunya. Ben membawa masuk paper bag ke dalam kamar mandi dan tak lama dia keluar lagi dengan pakaian yang baru, dan terlihat santai dengan celana pendek dan kaos putih yang menempel ditubuh nya. Terlihat semakin tampan membuat Sisie tidak berkedip. Lalu Ben menyerahkan pakaian kotornya kepada asistennya.
Dia kembali duduk disofa yang sama dengan Arsen. Melihat itu, Arsen hanya berdecih sinis.
Datang lagi seorang perawat mengantarkan makan siang ke kamar Sisie.
Mama Helen menerima makanan itu, dan duduk di kursi samping Sisie bergantian dengan Mia.
"Pa, kalau keadaan Sisie seperti ini, bagaimana kita bisa meninggalkannya? Pekerjaan papa kan sangat padat di luar kota. Dan papa tidak bisa mama tinggal begitu saja. "
"Kan ada mbok Ayu, ma. Biar menjaga Sisie di rumah. " jawab papa Tomi enteng.
"Kan Mbok Ayu udah tua, pah. Dia nggak akan kuat kalau ngangkat Sisie naik turun kursi roda nanti. Belum lagi Sisie harus terapi pasca operasi sebulan lagi, agar bisa berjalan lagi. "
Papa Tomi hanya menghela nafasnya. Pasalnya dia juga tidak bisa jika tidak ada istrinya. Seolah istirnya itu adalah maghnet dalam hidupnya.
"Jadi gimana dong, ma papa juga bingung."
Helen sedikit berfikir sambil menyuapi anaknya makan.
"Pa, kita nikahkan saja Sisie dengan salah satu rekan papa, yang kemarin mencari istri Mungkin saja dengan begitu Sisie ada yang jaga. Mama lihat orangnya baik. " Kata Mama Helen asal.
Sisie langsung menyemburkan makanan yang sudah ada di dalam mulutnya sehingga mengenai sang mama.
"Ih kamu jorok, Sie. "
"Mama ini ngomong apa sih. aku nggak mau nikah dengan sembarangan orang ya ma. " ketus Sisie.
Sedangkan Ben yang sejak tadi mendengarkan percakapan orang tua Sisie langsung terkejut mendengar mamanya akan menikahkan Sisie dengan pria lain.
"Ya, nggak apa-apa Sie. Lihat aja Mia, dia bahagia menikah dengan tuan Arsen padahal sebelumnya mereka tidak saling kenal. Benarkan Mia?
Mia yang ditanya hanya mengangguk.
"Iya nikah aja, dengan pria pilihan mamamu Sie. Biar kamu ada yang jagain kalau Mama dan papamu keluar kota. " ujar Mia mengikuti permainan mama Helen.
__ADS_1
"Tidak boleh. Sisie tidak boleh menikah dengan siapapun. Karena aku yang akan menikah dengannya. "