
Akhirnya pagi yang dingin itu berubah menjadi pagi yang panas karena mereka berdua tidak bisa menahan lagi perasaan rindu yang bergelayut sejak kemarin. Arsen meluapkan segala rasanya pagi ini.Kegiatan mereka pagi ini benar-benar menggila. Tubuh penuh peluh dan erangan panjang mereka berdua menandai berakhirnya kegiatan panas mereka berdua.
Arsen ambruk di samping tubuh Mia dan mengecup dalam kening istrinya itu setelah mengucapkan terimakasih.
Mia hanya terdiam karena dia sedang mengatur nafasnya yang masih terengah.
"Sejak kapan mas Arsen datang? " tanya Mia saat dia berhasil mengatur nafasnya.
Arsen yang baru saja memejamkan matanya, langsung membuka matanya lagi setelah mendapatkan pertanyaan dari Mia. Lalu dia berbalik menghadap istrinya itu dan memeluknya mengecup bahu yang penuh keringat hasil percintaan mereka.
"Aku datang sejak semalam. " bisiknya ditelinga Mia
Mia langsung menoleh kearah suaminya.
"Jadi mas Arsen tidur diluar sejak semalam? "
"Iya..." lirihnya.
"Kenapa tidak membangunkanku atau menghubungiku? " tanya Mia sambil memicingkan matanya.
"Aku tidak ingin mengganggu tidur mu, Mia. " Suara Arsen sedikit menghilang.
Mia menoleh lagi ke arah suaminya, dilihatnya mata Arsen yang sudah terpejam. Mia tersenyum lalu berbalik memeluk suaminya itu dan memberikan kecupan singkat dibibirnya. Kemudian dia beranjak dari tempat tidurnya, Mia langsung membersihkan tubuhnya, dan segera ke dapur membuatkan sarapan untuk mereka berdua.
Mia menghela nafasnya, saat melihat pintu rumahnya hanya ditutup asal oleh Arsen. Bagaimana jika ada orang masuk dan memergoki mereka berdua sedang bercinta. Ah, sungguh memalukan.
Mia melanjutkan membuka pintu dan jendela yang tadi sempat tertunda. Kemudian dia mendengar suara mamang pedagang sayu yang lewat di depan rumah. Dia langsung masuk ke kamarnya dan mengambil dompetnya untuk belanja.
Mia segera keluar rumah dan ternyata sudah ada Desi yang yang juga sedang belanja dengan tetangga lainnya.
"Aduh Mia, kapan datang? " sapa tetangga Mia yang rumahnya tak jauh dari rumah Mia.
"Kemarin teh. " jawab Mia singkat sambil tersenyum.
"Kamu tambah cantik Mia. wajahnua meuni kinclong pisan. " ujar tetangga satunya.
"Iya dong, suami Mia kan.... " Desi ingin mengatakan sesuatu tentang suami Mia, namun kakinya malah diinjak oleh Mia.
Desi langsung menoleh kearah Mia dan dilihatnya Mia menggeleng kan kepalanya.
"Oohhh, Mia sudah nikah, pantes atuh sekarang makin terawat aja makin cantik. "
"Alhamdulillah teh, terima kasih. "
__ADS_1
Mia mengambil sayur, ikan, beberapa bumbu dapur dan ayam. Dia langsung membayar dan segera pergi dari sana.
"Permisi ibu-ibu, saya duluan ya. Takut si Aa'nya keburu bangun. "
"Iya Mia. " jawab ibu-ibu serempak.
Mia segera pergi dari sana diikuti Desi dibelakangnya.
"Mia..." panggil Desi.
Mia berjalan perlahan sambil menunggu Desi menyamakan langkahnya.
"Apa teh? " tanya Mia saat mereka sudah berjalan bersama.
"Si Aa' sudah datang? "
"Sudah teh, semalam datang. "
"Pantesan rambut udah basah aja. " Desi terkekeh menggoda Mia.
Wajah Mia langsung memerah mendengarkan godaan dari Desi. Dia lupa kalau baru saja dia selesai keramas setelah bertempur bersama Arsen. Ah, sungguh memalukan.
"Udah ya, teh. Kau masuk dulu. "
Mia langsung masuk kedalam rumahnya, tanpa memperdulikan godaan dari Desi lagi. Dia langsung masuk ke dapur dan mulai memasak bahan makanan yang baru saja dia beli.
Aroma masakan menguar dan masuk ke indera penciuman Arsen yang sedang tidur, Membuat dia terganggu dan mengendus-endus aroma masakan itu. Matanya mengerjap dan mulai membuka matanya. Dilihatnya disampingnya sudah tidak ada istrinya, pasti ini perbuatan istrinya itu yang masak dan mengganggu tidurnya dan membuat perutnya keroncongan.
Arsen bangun dari tidurnya, dan segera membersihkan tubuhnya. Air dingin itu menyentuh kulit tubuh Arsen dan membuatnya menggigil. Dia lupa, ini daerah pegunungan bukan di kota Jakarta. Dimana suhu air pun sangat berbeda drastis. Dia cepat-cepat membersihkan tubuhnya karena tidak tahan dengan dinginnya.
Arsen segera keluar dari kamar dan mencari istrinya itu. Dilihatnya Miaa sedang memasak, namun ada yang aneh. Dia menutupi hidungnya dengan kain. Arsen mendekat, dan melingkarkan tangannya di perut Mia. Membuat Mia terjingkat kaget.
"Mas Arsen kenapa selalu bikin aku terkejut sih? "
Arsen tertawa lebar. Memang ini yang dia suka dari Mia, melihat wajah terkejutnya yang sangat menggemaskan.
"Kenapa pakai ini? " tanya Arsen dan mencoba melepaskan kain penutup hidung istrinya, tapi Mia segera melarangnya.
"Jangan mas, ini supaya aku nggak mual kalau masak ini." Kata Mia sambil memegangi tangan Arsen yang hendak membuka penutup hidungnya.
Arsen mengernyit mendengarkan ucapan Mia.
"Kamu mual? Apa kamu sakit Mia? " tanya Arsen yang berubah khawatir.
__ADS_1
"Enggak kok, sejak kemarin waktu bau masakan bi Mar aku bawaannya pengen muntah. Tapi aku suka makanan nya, cuma pas masak aja aku nggak suka baunya. Aku pikir cuma hari itu aja, ternyata hari ini juga, waktu mau masak tadi kecium aroma masakan pengen muntah. Kalau nggak masak kita makan apa dong. " keluh Mia kepada suaminya.
"Duh, kok nggak bilang sih. Kita kan bisa beli di luar, jadi kamu nggak usah masak, sayang. " ujar Arsen kepada istrinya itu.
"Udah beli bahannya tadi mas, sayang kalau nggak di masak. lagian aku pengen makan ini. " kata Mia dengan wajah di buat cemberut.
Arsen menghela nafasnya. Memang susah kalau berurusan dengan wanita keras kepala seperti istrinya ini.
"Mas... minum tehnya dulu keburu dingin. " tunjuk Mia ke meja makan yang ada segelas teh di sana.
Arsen segera berjalan ke meja makan dan mulai menyeruput tehnya sambil memperhatikan Mia yang sedang memasak. Tak lama beberapa makanan terhidang di meja makan tepat di hadapannya.
"Ayo makan. " Ajak Mia sambil melepaskan penutup hidungnya.
Arsen tersenyum melihat tingkah konyol istrinya itu. Mereka lalu makan bersama dalam diam, menikmati setiap buliran nasi yang masuk ke dalam mulut mereka. Dulu sebelum menikah, mana pernah Arsen sarapan nasi di pagi hari. Baru setelah menikah ini dia mulai makan nasi, itupun Karena Mia yang memasakkannya nasi setiap pagi. Jadi dia harus olahraga ekstra untuk memiliki otot tubuh yang tetap terjaga.
Akhirnya sarapan mereka pun selesai, Mia segera membersihkan meja makan dan mencuci piring. Namun tiba-tiba dia berlari ke kamar mandi yang dekat dengan dapur, dan memuntahkan semua makanan yang baru saja masuk ke dalam perutnya.
Arsen yang mendengar istrinya muntah-muntah pun langsung berlari menyusulnya ke kamar mandi dan memijit tengkuk leher Mia tanpa jijik sedikitpun. Mia masih saja mengeluarkan semua yang ada di perutnya, sampai membuatnya lemas.
Setelah dirasa semua keluar, Arsen segera menyiram closet. Dan langsung menggendong Mia ke sofa ruang tengah.
"Tunggu di sini sebentar ya? " ucap Arsen yang langsung keluar tanpa menghiraukan pertanyaan Mia.
Tak lama dia kembali bersama dengan teh Desi yang berjalan tergopoh-gopoh. Arsen langsung mengangkat tubuh Mia masuk ke dalam mobilnya dan menyuruh Desi mengunci pintu rumahnya.
"Kita mau ke mana mas? " Tanya mia dengan suara yang sudah tak bertenaga.
"Kita ke bidan, Mia. Kalau ke rumah sakit ke jauhan. Bidan Riri jam segini belum berangkat kerja, kita kesana saja. "
"Ngapain, aku nggak sakit, kenapa di bawa ke bidan segala. Paling juga masuk angin cuma butuh kerokan doang." gerutu Mia sambil mengerucutkan bibirnya.
"Sudah Mia, jangan membantah kali ini. Aku tidak mau terjadi apa-apa dengan kamu. Aku tidak mau di omeli mama dan papa kalau menantu kesayangannya ini sampai sakit. " ucap Arsen yang tidak mau dibantah.
Mendengar, ucapan Arsen, hati Mia jadi menghangat. Ternyata Suaminya itu sangat khawatir kepadanya.
"Iya Mia, nurut aja sama suami, biar nggak pamali. " ujar Desi dari kursi penumpang.
Desi ikut karena harus menunjukkan arah jalan ke rumah bidan Riri satu-satunya bidan di kampung itu.
Mia mengangguk pasrah pada akhirnya. Dia menyerah dan tidak mau buat masalah lagi Biarlah, dia memang harus nurut sama suami. Karena itu adalah kodrat seorang istri bukan.
"Hai Readers maaf ya, telat upnya, soalnya ngejar double up Sang Pewaris. Jika dua hari ini othor cuma up satu bab, mohon dimaklumi ya. karena othor mau namatin Sang Pewaris dulu. Nanti othor lanjut double up atau crazy up kalau Sang Pewaris udah tamat. Makasih Salam hangat selalu. "😘😘😘😘
__ADS_1