
Sisie memandang tubuh Ben yang menjauh. Apakah dia sudah salah mengungkapkan perasaannya kepada Ben? Apa ini terlalu cepat?
Dia lalu menjatuhkan kepalanya di meja, memainkan gelas minuman yang baru di pesan dan belum tersentuh sama sekali.
"Tuan Ben, Apa aku salah sudah menyukaimu. " Lirih Sisie kepada gelas yang sudah berembun.
"Tidak, aku tidak salah. Karena aku tidak tahu kepada siapa hati memilih. " Sisie menegakkan tubuhnya, lalu meminum minuman yang ada di depannya.
"Aaahhh, baiklah. Aku akan tetap mengejarmu Sampai kau menyuruhku berhenti. "
Sisie bangkit dan berjalan keluar dari kafe. Dia tidak tau apakah minuman itu sudah dibayar apa belum hingga saat dia sampai di depan pintu dan akan melangkah keluar, Tiba-tiba seorang pelayan menghampirinya.
"Nona, maaf. minuman yang tadi belum dibayar. "
"Apa? " Sisie membulatkan matanya saat mendengar itu. Dia tidak percaya dengan apa yang dia dengar hingga akhirnya dia menghembuskan nafasnya.
"Berapa mbak. "
"Lima puluh ribu, nona. "
Sisie membuka tasnya dan mengambil dompetnya lalu memberikan selembar uang biru kepada pelayan itu.
"Maaf ya mbak aku nggak tau kalau minuman itu ternyata belum dibayar, aku kira sudah dibayar tadi sama tuan tampan. "
Pelayan, itu hanya tersenyum menanggapi permintaan maaf Sisie.
Sisie segera keluar setelah membayar minuman tadi. Dia celingukan berharap masih ada Ben di sana tapi ternyata tidak ada. bahkan aroma nya saja tidak tercium.
"Semangat Sisie, kejar cintamu. Sampai dia menyuruhmu berhenti. " ucap Sisie sambil mengepalkan tinjunya ke udara.
Jika kalian pikir Sisie akan menyerah, kalian salah. Karena Sisie adalah gadis yang pantang menyerah sampai dia sendiri yang merasa lelah. Apalagi yang dia kejar adalah sosok yang baru pertama kali mengetuk hatinya. Maka dia akan berhenti mengejarnya.
Ben sudah sampai di apartemennya, Dia lalu merebahkan tubuhnya di atas sofa. Sambil menutup mata dengan lengannya.
Tiba-tiba dia teringat ucapan Sisie beberapa menit yang lalu
"Aku menyukaimu sejak pertama kali kita bertemu. "
"Wanita itu. Berani sekali dia."
__ADS_1
Ben lalu melihat tangan kanannya yang tadi memegang dada Sisie. Dibolak balikkan tangan itu, digerakkan dengan gerakan membuka dan menutup.
"Detak jantungnya sangat kencang. Ukurannya tidak terlalu kecil dan tidak terlalu besar. " lirih Ben dengan gerakan tangan meremas. Dia lalu tersenyum tipis.
"Meisie... apa kau wanita yang selama ini aku cari? " gumamnya.
Setelah bertarung dengan pikirannya, Ben lalu masuk ke dalam kamar dan melepaskan semua pakaiannya. Hanya tersisa boxer yang melekat ditubuhnya. Dia lalu merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur yang sangat luas dan empuk.
Namun ketika dia hendak memejamkan matanya, terdengar ponselnya bergetar. Ben langsung mengambil ponsel itu, lalu membuka pesan dari si peneror.
"Selamat Malam Tuan. Semoga mimpi indah. "
Bibirnya tersungging saat membaca pesan itu, tanpa membalas pesannya sama sekali.
"Meski kau sudah bertemu denganku, dan aku mengacuhkanmu. Ternyata kau masih punya nyali untuk menghubungi ku. Kau berbeda Mei. " gumam Ben lirih sambil menyunggingkan senyum tipis
Tiba-tiba senyum tipis itu berubah mejadi senyuman lebar saat menyadari sesuatu.
"Mei, Mia... bukankah ini sebuah kebetulan. " gumamnya lagi,
Ben melemparkan ponselnya diatas nakas, lalu dia langsung memejamkan matanya.
Di sisi lain, Sisie yang baru saja mengirimkan pesan itu hanya senyum-senyum sendiri saat melihat pesannya sudah dibaca. Namun setelah beberapa saat menunggu, ternyata pesannya itu tidak dibalas dan Ben sudah tidak online lagi.
"Aku tidak akan menyerah... ingat itu tuan, Ben. " gumamnya sebelum dia memejamkan matanya.
*************
Ini hari ketiga Mia dan Arsen berada di kampung halaman Mia. Tidak ada hal berarti yang terjadi di sana, selain sikap manja Mia yang semakin menjadi dan morning sickness yang dialami Mia. Dia tidak bisa mencium bau bumbu masakan.
Untungnya Arsen bergerak cepat waktu itu, yang meminta Desi untuk memasakkan makanan untuk mereka. Karena jika harus membeli makanan, tempatnya sangat jauh. Namun walaupun sudah diantisipasi, soal makanan tetap saja keinginan ibu hamil sangatlah amazing.
Seperti siang ini, Mia merengek minta dibelikan bakso. Di panas terik matahari yang sangat menyengat. Walaupun ada mobil, tetap saja. Bukankah lebih baik didalam rumah, tidur siang dibawah dinginnya AC? Itu menurut Arsen. Tapi rengekan ibu hamil itu, tidak akan pernah berhenti sebelum keinginannya dipenuhi.
Akhirnya dengan langkah terpaksa Arsen menuruti keinginan istrinya itu membeli bakso, yah bukankah dia harus menjadi suami siaga yang menuruti apapun keinginan istrinya? Tempat membeli bakso Jaraknya sekitar dua kilo dari rumah, jadi lumayanlah. Arsen sempat melirik spidometer, ternyata bahan bakar mobilnya juga tinggal sedikit. Jadi sekalian aja keluar isi bahan bakar juga, dan beli keinginan istrinya itu.
Arsen menghentikan mobilnya di sebuah warung bakso yang tempatnya lumayan bersih menurutnya, Dia lalu memesan dua mangkok bakso untuk mereka berdua.
"Terima kasih ya mas, udah nurutin keinginan ku, sama dedek bayi. " ucap Mia setelah menghabiskan bakso di mangkoknya.
__ADS_1
"Iya, kan sudah jadi kewajibanku. Jadi suami siaga. " kata Arsen sambil mengusap lembut rambut istrinya.
"Aku bungkus boleh, mas. "
"Boleh."
Mia langsung berdiri menghampiri penjual bakso, dia lalu memesan bakso sesuai keinginannya.
Mata Arsen membulat saat melihat Mia membawa sekantong kresek bakso.
"Banyak banget, buat apa? " tanya Arsen penasaran sambil membayar tagihan baksonya.
"Nggak tau, pengen beli banyak aja. Takut ada tamu ke rumah nanti nggak ada apa-apa untuk disuguhkan. "
Arsen mengangkat alisnya merasa aneh dengan ucapan Mia.
"Tamu? tamu siapa? " tanya Arsen lagi penasaran.
"Entahlah, aku merasa akan ada tamu yang datang. Udah, ayok pulang. Kita berhenti di toko buah. Aku juga mau beli buah untuk disuguhkan nanti. " kata Mia menarik lengan Arsen.
Arsen yang masih bingung pun mengikuti langkah istrinya masuk ke dalam mobil. Mobil mereka mulai bergerak, Arsen melirik Mia dari ekor matanya. Dia kok tiba-tiba merinding ya, saat melihat sikap Mia yang aneh. Memangnya siapa yang akan datang, dari mana Mia tau kalau akan ada tamu yang datang.
Mobil mereka akhirnya berhenti di kios buah. Mia membeli buah, jeruk, apel, pear dan beberapa buah lainnya. Setelah puas belanja buah, Mia langsung meminta Arsen menjalankan mobilnya pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah Mia langsung menaruh bakso yang dia beli ke dalam wadah panci agar bisa dihangatkan nanti. Lalu mencuci buah-buahan dan dia simpan rapi di atas meja yang tertutup.
"Sudah... sekarang ayo kita tidur mas. " ajak Mia kepada suaminya itu.
Arsen mengangguk dan hanya bisa bertanya-tanya dalam hati. Namun rasa penasarannya tidak dapat dibendung lagi, sehingga dia akhirnya bertanya.
"Mia, memangnya siapa yang mau datang sih? jangan buat aku penasaran, dan merinding gini. Nggak lucu tau. " kata Arsen saat mereka sudah berada diatas tempat tidur dan siap untuk berbaring.
"Nggak tau mas, beneran. Kalau nggak percaya baca aja pesan chatku. Aku nggak ada chat sama siapa pun hari ini. Tapi aku merasa akan ada tamu yang datang. " Ujar Mia masih dengan yakin.
Arsen langsung melihat ponsel Mia, dan melihat chat yang masuk. Benar, hari ini dia tidak berhubungan dengan siapapun. Karena pesan yang terkirim dan diterima semua kemarin. untuk hari ini belum ada chat yang masuk.
"Udah, yuk sekarang tidur. Aku ngantuk. "
Mia membaringkan tubuhnya disamping Arsen dan memeluk tubuh suaminya dengan erat, tak lama mereka berdua terlelap masuk ke dalam alam mimpi.
__ADS_1
Tepat pukul tiga, pasangan suami istri itu dikejutlan oleh ketukan pintu, yang membangunkan mereka dari tidur siangnya.
Mia dan Arsen saling berpandangan mendengar ucapan salam dari luar rumah. Apakah ini tamu yang dimaksud Mia tadi?