
Mia sudah berada di kampus pagi ini. Dia tidak segan lagi menghadapi teman-teman lainnya yang suka meremehkannya setelah mereka semua tau siapa Mia. Kini tak ada seorangpun yang berani mengganggu Mia.
Dilihatnya Aldo juga sudah masuk ke dalam kelasnnya, namun lagi-lagi dia tidak mau duduk satu bangku dengan Mia. Sepertinya Aldo sangat keras kepala, Mia harus bicara dengannya nanti.
Sedangkan Jessica dan Sandra mereka berdua sudah tak terlihat lagi di kampus. Padahal Mia memberikan kesempatan kepada mereka berdua untuk tetap berada di kampus ini,tapi sepertinya mereka tidak mau mengambil resiko untuk dipermalukan oleh yang lainnya.
Kedua orang tua mereka juga masih berterima kasih, karena Arsen tidak menarik semua saham di perusahaannya. Dengan begiitu Perusahaan mereka tidak langsung bangkrut, walau butuh perjuangan untuk mengisi 20% saham yang telah hilang karena kebodohan anak-anak mereka yang sembrono.
Saat kelas telah berakhir, Mia melihat Aldo bersiap untuk keluar. Dengan sigap MIa segera mengikuti kemana Aldo pergi dan mengejarnya. Tanpa suara, jika Mia memanggilnya bisa dipastikan Aldo akan lari untuk menghidarinnya. Setelah jarak mereka dekat, Mia segera menarik tangan Aldo agar berhenti.
"Apa-apaan sih?"
Aldo mencoba menepis tangan yang sudah mencekal tangannya, namun dia langsung terdiam saat tau yang mencekal tangannya adalah Mia.
"Al, kita harus bicara," kata Mia kepda sahabatnya itu."
"Nggak ada yang harus dibicarakan Mia." Lagi Aldo melepaskan cekalan tangan Mia.
"Ada. Ikuti aku."
MIA langusung menarik tangan Aldo dan membawanya ke kantin kampus. Banyak mata yang memperhatikan interaksi mereka berdua. Ada yang mencibir, tapi ada juga yang bersikap biasa saja. Karena mereka tahu, kalau selama ini Mia dan Aldo bersahabat.
Mereka berdua duduk di satu meja, kemudian Mia mengirim pesan kepada Sisie agar menyusul mereka ke kantin kampus, setelah jam pelajarannya selesai.
Kini, Aldo dan Mia saling berhadapan.Mereka terdiam selama beberapa saat tanpa ada yang bersuara, hingga seorang penjaga kantin mengantarkan minuman kepada mereka berdua.
"Apa yang ingin kau biacarakan, Kalau tidak ada yang ingin kau bicarakan aku pergi sekarang." Aldo mulai membuka obrolan mereka berdua, dia hendak beranjak saat Mia tidak segera bicara.
Tapi lagi-lagi Mia menarik tangannya agar kembali duduk.
"Tunggu aku bilang ada yang ingin aku katakan padamu. Bersabarlah."
" Katakan aku tidak punya banyak waktu." ketus Aldo.
Mia menghembuskan nafasnya. Dia lalu menautkan kedua tangannya di atas meja.
__ADS_1
"Kenapa sikapmu padaku berubah Aldo?" tanya Mia pada akhirnya.
"Aku nggak suka sikapmu yang seperti ini,cuek sama aku dan nggk peduli sama aku. Bukankah kita sahabat?" Mia mengatakan apa yang ingin dia katakan.
Aldo membuang muka mendengar pertanyaan Mia.
" AKu nggak bisa, Mi... Aku sudah terlanjur terluka dan kecewa kepadamu." kata Aldo pada akhirnya.
"Aku kecewa karena kau tidak memberitahuku kalau kau dalam kesulitan waktu itu, andai aku tahu, aku akan berusaha membantumu. Dan mungkin kau tidak akan menikah dengan tuan muda itu." kata Aldo yang berterus terang.
"Dan aku terluka karena cintaku layu sebelum terkembang." ucap Aldo pada akhirnya.
Mia mengehela nafasnya." Mungkin kau sudah mendengar cerita ini dari Sisie. Aku memang tidak mengatakan pada siapapun kalau aku dalam masalah. Karena aku tidak mau merepotkan kalian. Lima ratus juta itu bukan jumlah yang sedikit, Aldo. Kita bisa beli rumah lagi dengan uang sebanyak itu. Aku masih tahu diri dan aku tidak mau memanfaatkan kalian sebagai sahabatku. Kalian masih mau berteman denganku saja sudah membuat ku bahagia.Dan aku nggak mau ngelunjak."
Mereka berdua diam sesaat, merenungi apa yang terjadi. Apa Aldo yang egois atau Mia yang terlalu berlebihan tidak melibatkannya dalam masalah yang dihadapi Mia.
"Al, aku nggak mau karena perasaanmu padaku membuat persahabatan kita jadi renggang kayak gini. Aku nggak mau, aku mau kita tetap bersahabat seperti dulu. Aku nggak mau persahabatan kita jadi rusak karena ini. Cuma kamu dan Sisie yang teman baik yang aku miliki, Al. " kata Mia dengan wajah yang tertuduk. Karena dia tidak mau menunjukkan matanya yang sudah berkaca-kaca.
"Mi... maafkan aku. " ucap Aldo pada akhirnya
"Maafkan aku, karena sudah bersikap egois padamu. Maafkan karena perasaanku membuat persahabatan kita jadi renggang seperti ini. Maafkan aku. "
Mia mengangguk.
"Dan sekarang kita berteman lagi? Seperti dulu?" kata Aldo lagi.
Mia mengangguk lagi dan menautkan jari kelingkingnya kepada Aldo. Dan tiba-tiba Sisie datang mengagetkan mereka berdua.
"Ikutan dong. "
Sisie juga mengulurkan kelingkingnya dan mereka tertawa bersama. Keakraban kembali tercipta diantara ke tiga sahabat itu. Tidak ada kecanggungan lagi.
Namun Tanpa mereka sedari sejak tadi ada yang merekam, apa yang sudah Mia dan Aldo lakukan sejak keluar dari kelas. Gerak-gerik mereka terekam jelas di video itu.
Wanita itu tersenyum puas mendapatkan sebuah pemandangan yang akan merusak hubungan Arsen dan istrinya.
__ADS_1
"Lihatlah, perbuatan istrimu Arsen. Dia tak ubahnya seperti diriku dulu. Dia Lebih menyukai pria yang seumuran dengannya dari pada kau yang lebih dewasa. " gumam Amel sambil mengirimkan Video dan pesan itu kepada Arsen.
"Kita lihat, drama apa yang akan kalian mainkan setelah ini. "
Amel segera meninggalkan kampus tempat Mia menimba ilmu setelah mendapatkan sesuatu yang menarik. Sejak awal, Amel memang sudah mengikuti Mia, kemana dia pergi. Dan ingin berbicara empat mata dengannya. Tapi siapa sangka kalau dia mendapatkan sesuatu yang lebih menarik dari pada bicara dengan istri Arsen itu.
Di kantornya, Arsen yang selesai makan siang, kini tengah beristirahat dengan bersantai diatas kursi kerjanya. Terdengar sebuah notifikasi pesan yang masuk ke ponselnya dari nomor tidak di kenal.
Sebuah pesan dan Video Arsen terima saat membuka pesan itu.
"Lihatlah, ternyata istrimu tak sebaik yang kau kira. Dia sama saja. "
Arsen mengernyit setelah membaca pesan itu, karena penasaran dia lalu membuka video yang dikirimkan nomor asing itu. Awalnya reaksinya biasa saja saat melihat Mia menarik lengan Aldo dan menyeretnya ke kantin. Namun pemandangan yang menyakitkan mata itu bisa Arsen lihat saat Aldo mengusap air mata Mia.
"Memangnya apa yang sedang mereka bicarakan? kenapa Mia sampai menangis seperti itu? " gumam Arsen lirih.
Rasa marah dan cemburu membakar hati Arsen saat itu juga. Tapi dia tidak boleh gegabah karena itu akan merusak apa yang sudah dia bangun bersama dengan Mia selama ini.
Arsen menghirup nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Dia harus tenang dan berfikir jernih.
"Harry... " teriak Arsen memanggil asistennya itu.
Harry yang mendengar teriakan Arsen langsung masuk keruangan bosnya.
"Ada apa tuan. "
"Selidiki nomor siapa ini, dan cari tahu apa yang sedang mereka lakukan berdua kenapa sedekat itu. "
Arsen menujukan ponselnya kepada Harry agar dia segera mencari tahu apa yang terjadi.
"Baik tuan. "
Tanpa banyak bicara Harry segera mengcopy pesan dan nomor yang baru saja membuat mood bosnya itu tiba-tiba memburuk. Dan akan membuat pelajaran kepada orang yang sudah bermain-main dengan bosnya.
Arsen memijit pelipisnya yang tiba-tiba pusing, dia tidak ada mood lagi untuk bekerja. Arsen kemudian memutuskan untuk pulang dan akan menunggu Mia dirumah dan bicara kepadanya tentang maksud dari video itu yang sudah membuat darahnya mendidih.
__ADS_1