
Keesokan harinya Mia, Arsen dan kedua orang tuanya sudah bersiap untuk mengunjungi makam kedua orang tua Mia. Mereka sudah bangun sejak pagi dan segera membersihkan tubuh mereka dengan air dingin yang menyentuh dan masuk ke dalam pori-pori kulit. Benar-benar dingin sekali bagi mereka yang tidak terbiasa dengan keadaan ini, tapi sudah terbiasa bagi Mia yang sejak kecil tinggal di sini.
Mia menyiapkan teh hangat untuk suami dan kedua mertuanya yang sepertinya benar-benar kedingininan.
"Papa lupa kalau air disini sangat dingin, jadi tadi papa langsung mandi dan mengatakan pada mama kalau airnya tidak dingin. Biar mama merasakan apa yang papa rasakan. " Papa bercerita sambil menoleh ke arah istrinya yang sedang cemberut.
"Iya nih, mama bener-bener di prank sama papa. ' kata mama kemudian.
Tawa pun pecah pagi itu. Sambil ditemani teh hangat dan pisang rebus sisa pisang yang masih ada kemarin untuk mengganjal perut mereka pagi ini.
"Ayo kita berangkat." ajak papa Mondi setelah menghabiskan teh dari cangkirnya.
Merek bersiap, tapi Mia masih sibuk merapikan meja terlebih dulu. Memasukkan gelas dan piring ke dalam wastafel tanpa mencucinya. Biarlah, nanti sepulang dari makam Mia akan cuci semua itu.
"Mas, Kita berhenti di pasar dulu ya? untuk membeli bunga. " pinta Mia
"Iya. " jawab Arsen singkat.
Mobil yang dikendarai Arsen pun melaju dengan kecepatan sedang menuju pasar sebelum mereka ke makam.
" Mama di mobil aja ya. Mia turun sebentar aja kok. "
Mia langsung turun dari mobil dan langsung menuju penjual bunga yang tak jauh dari mereka parkir. Benar saja tak butuh waktu lama, Mia segera kembali ke mobil dengan satu kantong kresek bunga untuk di tabur nanti.
Mobil Arsen bergerak kembali menuju makam kedua orang tua Mia. Tubuh Papa Mondi membeku saat melihat nama di pusara itu. Sahabatnya telah pergi terlebih dahulu, tanpa ada siapapun yang memberitahu nya.
Sedangkan Mia, matanya berkaca-kaca melihat makam kedua orang tuanya. Kemarin saat dia datang makam nya sangat tidak terawat dan ditumbuhi rumput liar. Tapi sekarang lihatlah, bahkan tidak ada satu rumputpun yang tumbuh di sana. Bahkan batu nisannya sudah diganti dengan yang bagus. Perbuatan siapa lagi ini kalau bukan perbuatan suaminya.
Mia langsung berhambur memeluk suaminya dan mengucapkan terima kasih berkali-kali.
"Terima kasih, mas... terima kasih... "
Melihat itu, papa dan mama juga ikut merasa terharu walau mereka tidak tahu apa yang terjadi.
__ADS_1
Papa Mondi mendekati makam sahabatnya, yang sudah lama tidak bertemu. Dan saat bertemu pun, papa Mondi menemuinya di rumah Abadi sahabatnya.
"Amir, maafkan aku baru datang. Aku tidak tahu semua ini terjadi padamu. Maafkan aku yang tidak pernah berkunjung menemuimu, dan kita bertemu dalam keadaan seperti ini,di dunia yang sudah berbeda." Papa Mondi menangis terisak di samping makam ayah Mia.
"Dan terima kasih karena telah mengirimkan Mia anakmu kepada keluarga kami. Kami berjanji akan menjaganya seperti anak kami sendiri. Kali ini aku dan istriku yang akan menjaga Mia. Dia akan menjadi permata dalam hidup kami, karena kami tidak memiliki anak perempuan." ujar papa Mondi lagi.
Dia lalu memanggil Mia agar mau mendekat ke arahnya.
"Lihatlah Mir, anakmu sekarang sudah menjadi anakku yang sangat cantik. Dan menjadi Bagian dari keluargaku. Tidak ada yang berani mengingkari itu, Jika ada yang mengganggunya. Maka langkahi dulu mayat anakku. " ujar papa Mondi dengan nada bercanda sambil terkekeh.
Mendengar itu Arsen langsung melotot dan cemberut.
"Ayah, jika kemarin aku datang mengenalkan suami Mia kepada ayah dan ibu, sekarang Mia datang membawa kabar bahagia untuk kalian. Mia hamil, yah, bu. Jika kalian masih ada mungkin kalian akan bahagia mendengar kabar ini. " ujar Mia yang tidak bisa lagi membendung isak tangisnya.
"Iya Mir, sebentar lagi kita akan memiliki cucu. Do'akan mereka bedua dari sana. Semoga rumah tangga anakmu dan anakku bisa langgeng bersama dengan anak cucu mereka kelak. "
Do'a papa Mondi diamini oleh semua orang yang ada di sana.
Setelah melantunkan do'a, Merekapun berpamitan meninggalkan makam itu. Tak lupa Arsen memberikan uang tips kepada penjaga makam karena sudah melakukan tugasnya dengan baik. Mereka mencuci tangan dan kaki mereka terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam mobil.
"Maas, kita mampir di penjual pecel itu ya? Aku pengen makan pecel. " tunjuk Mia pada sebuah warung nasi pecel.
Akhirnya ucapan Mia yang bernada permintaan itupun, membuyarkan semua pemikiran mereka.
"Kamu sudah lapar? " tanya Arsen sambil membelokkan mobilnya di depan warung nasi pecel sederhana.
"Iya, aku juga melarang teh Desi untuk tidak mengantar makanan di rumah, karena aku bilang akan makan di jalan setelah pulang dari makam. " kata Mia sambil memberikan senyumannya kepada Arsen.
"Oohh pantes dari pagi-pagi nggak kelihatan teh Desi heboh. Biasanya pagi-pagi udah nongol di rumah nanyain kamu pengen makan apa."
"Hehehe.... " Mia terkekeh sambil turun dari mobil, disusul papa dan mama juga Arsen.
Mereka lalu mencari tempat yang nyaman untuk sarapan pagi ini. Dan akhirnya, sepiring nasi pecel persama lauk dan rempeyeknya juga segelas teh hangat sudah terhidang di hadapan mereka. Sungguh sangat menggiurkan. Tanpa pikir panjang mereka langsung menyantap makanan khas jawa itu. Benar-benar nikmat. Pilihan sarapan Mia tepat sekali.
__ADS_1
"Kalian kapan kembali ke Jakarta?" tanya mama di sela-sela makannya.
"Papa dan mama sendiri kapan pulang? " Bukannya menjawab Arsen maalh bertanya balik.
"Mungkin besok. "
Mia dan Arsne saling berpandangan lalu mereka tersenyum bersama.
"Ya udah, kita pulang besok aja, bareng. Ia, kan sayang. " tanya Arsen kepada istrinya itu.
"Iya. kita pulang besok aja. Lagian aku sudah puas kok di sini mas. Sudah ke makan ayah dan ibu juga. " jawab Mia.
"Ya, sudah. Besok kita pulang bersama aja. "
Mia dan Arsen mengangguk bersama menyetujui usulan mama mereka.
"Alhamdulillah. Makanannya enak, Mia. Kamu pinter pilih tempat makan." puji papa Mondi.
"Syukurlah jika kalian suka. Ini adalah tempat favorit kami sekeluarga dulu, kalau lagi pengen makan pecel, pah, mah, mas Arsen. Ini adalah tempat yang bersejarah bagi aku dan keluargaku. Kami selalu mampir makan di sini, setiap hari minggu. Kalau ibu nggak masak. Karena kata ibu hari minggu waktunya libur memasak. " Ujar Mia terkekeh menceritakan saat bahagianya bersama kedua orang tuanya di tempat ini. Namun air mata Mia tidak bisa berbohong kalau dia sedang bersedih mengingat semua itu.
Mama Rima yang duduk di sampingnya langsung memeluk tubuh menantunya itu. "Sekarang ada kami yang akan menggantikan mereka. Kau boleh merasa kehilngan, karena mereka memang kedua orang tuamu yang sudah melahirkan dan membesarkanmu menjadi wanita secantik ini. Tapi ingatlah, sekarang ada kami keluargamu, dan anak di dalam perutmu. Kamu tidak boleh bersedih lagi, Oke. "
Mia mengangguk lalu tersenyum lebar memeluk mama mertuanya. "Iya ma, terima kasih. Karena mama dan papa sudah mau menganggap Mia sebagai anak mama dan papa sendiri. "
"Tentu saja mereka menganggapmu anak mereka, karena kau adalah istriku. "
Arsen dengan paksa menarik tubuh Mia dari pelukan mamanya, dan ganti dia yang memeluk istrinya itu dan mencium kening istrinya itu berkali-kali.
"Sudah jangan , bersedih lagi. kasihan dedek bayinya, kalau mommynya sedih terus. Kan sekarang ada aku, suamimu yang paling ganteng ini. " ucap Arsen dengan penuh percaya diri.
Mia langsung mencubit perut Arsen, agar dia tidak terlalu narsis.
Tanpa mereka sadari. Mereka berdua menjadi pusat perhatian semua pengunjung di warung itu. Mungkin kalau di kota hal itu sudah bisa. Tapi bagi orang kampung, keadaan seperti ini tidak biasa. Mereka seperti melihat drama secara live, sehingga ulah Mia dan Arsen langsung mendapatkan tepukan tangan meriah dari para pengunjung.
__ADS_1
Arsen dan Mia langsung keluar dari warung itu tanpa membayar, biarlah papa dan mama yang membayarnya. Mereka merasa sangat malu dengan apa yang baru saja terjadi.
"Dasar bucin. Kalau mau ngebucin lihat tempat Arsen. Ini bukan di kota yang kehidupannya bebas. Tapi ini di desa yang masih menjunjung tinggi norma. " gerutu mama Rima saat sudah berada di dalam mobil.