Istri Kontrak Tuan Gay

Istri Kontrak Tuan Gay
Papa Mondi


__ADS_3

Di mobil.


Arsen benar-benar tidak habis pikir kenapa wanita dimasa lalunya itu bisa berani datang ke rumahnya dan mengaku-ngaku kalau dia adalah calon istrinya.


"Benar-benar tidak tahu malu. " gumam Arsen.


"Maaf tuan? " tanya Harry yang merasa tidak jelas dengan ucapan Arsen.


"Tidak apa-apa Harry. " kata Arsen sambil memijit pelipisnya.


Dia benar-benar tidak menyangka kalau Amel akan datang lagi setelah beberapa tahun mereka tak bertemu. Terakhir kali mereka bertemu adalah dua tahun lalu, dia datang dan merengek kepada Arsen karena katanya sudah bercerai dengan suaminya. Dan sekarang dia datang lagi mengatakan kalau dia juga sudah bercerai dengan suaminya. Memangnya dia sudah menikah berapa kali?


"Harry, coba kau selidiki tentang wanita itu. Aku tidak ingin dia terus-terusan datang dan menggangguku. Apalagi sekarang aku sudah menikah. Aku ingin hidupku tenang tanpa bayang-bayang masa lalu." perintah Arsen kepada asistennya itu.


"Baik tuan. Akan saya kerjakan. "


Arsen menghembuskan nafasnya kasar setelah mengatakan itu.


"Aku tidak akan membiarkanmu menggangguku dan hidupku lagi, Mel. "


**************


Di rumah.


Mia dan Sisie, kembali bercengkrama sambil menikmati cemilan yang dibuatkan Bi, Mar. Jika sudah berdua seperti ini, mereka akan lupa waktu.


"Mi, tadi kamu denger nggak wanita itu tadi ngancem kamu. " kata Sisie tiba-tiba karena dia sejak tadi kepikiran dengan ucapan Amel yang ingin membuat perhitungan dengan Mia.


"Sudahlah, tidak usah di pikirkan. Memangnya apa yang mau dia lakukan. " ucap Mia dengan cuek sambil melihat drama korea di laptopnya.


"Ngeri Mi, kalau orang udah nekat itu. Kamu lupa sama Jassica dan Sandra yang berniat mencelakaimu. " kata Sisie mengingatkan.


"Iya tau, tapi mau gimana lagi. Kalau dia macam-macam ya aku balaslah. " balas Mia lagi masih fokus dengan laptop nya.


Sisie hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar. Mungkin benar apa yang Mia katakan. Jangan ambil pusing, dan lawan jika dia macam-macam.


Waktu berlalu dan tanpa terasa Sisie sudah berada cukup lama di rumah Mia. Bahkan sarapan sama makan siang dia lakukan di sana. Benar-benar teman nggak ada akhlak, tapi begitulah mereka jika sudah bersama sampai lupa waktu.

__ADS_1


"Mia, aku balik dulu ya. Nanti kalau udah membicarakan tentang Ben, kabari aku. Jangan ada rahasia diantara kita. " kata Sisie yang bersiap pulang.


"Oke, sip " jawab Mia sambil menunjukkan jari jempolnya.


"Bi Mar, aku pulang dulu, makasih ya makannya hari ini. " sapa Sisie saat melihat bi Mar keluar dengan membawa sapu.


"Iya neng hati-hati dijalan. "


Sisie segera melajukan mobilnya setelah berpamitan kepada Mia dan Bi Mar.


Mia akan beranjak masuk ke dalam rumah, namun segera dihentikan bi Mar.


"Non, buat makan malam mau dimasakin apa? " tanya Bi Mar kemudian.


"Apa aja bi. Kami nggak pilih-pilih makanan kok. Oh, ya. Tadi makasih ya, bi. " kata Mia tiba-tiba.


"Makasiih untuk apa, non. "


"Ih, si bibi. Aku kan udah bilang jangan bilang nan non-nan non atuh. "


"Kan memang neng, Mia ini majikan bibi. "


"Nah itu baru bener. " ucap Mia terkekeh.


"Makasih pokonya bibi tadi udah telpon mas Arsen. Sehingga mas Arsen langsung pulang tadi. Dan membelaku dari wanita gila itu. "


"Aduh, neng Mia tau kalau bibi telpon tuan Arsen?


Mia mengangguk.


"Maaf ya, neng. Udah ikut campur. Habisnya bibi panik saat dia bilang kalau dia calon nyonya rumah ini. Memangnya dia siapa sih, neng? " tanya Bi Mar yang ikut penasaran dengan sosok wanita tadi.


"Dia itu Mantannya mas Arsen bi. Namanya Amel. Udah ya Bi. Aku mau mandi dulu. bentar lagi mas Arsen pulang. " Mia lalu bergegas ke kamarnya untuk membersihkan tubuhnya.


Bi Mar, langsung mengambil Ponselnya saat mendapatkan sebuah informasi Mengejutukan dari Mia. Segera dia mengetik pesan di aplikasi hijau setelah menemukan nomor yang di tuju.


"Nyonya, tadi ada mantannya tuan Arsen namnaya Amel datang ke rumah. Mengaku sebagai calon istri tuan Arsen kepada nona Mia. Tapi, tuan Arsen sendiri yang mengusirnya. "

__ADS_1


Pesan itu di terima seorang wanita paruh baya yang sedang menghabiskan waktu berdua dengan suaminya. Tangannya mengepal erat setelah membaca pesan itu.


"Kurang ajar, berani sekali dia. Dasar wanita ja*ang." gumamnya yang masih bisa didengar suaminya.


"Kenapa, ma? " tanya papa Mondi yang berada di sebelahnya.


Ya, wanita itu adalah mama Rima, mama dari Arsen. Memang bi Mar dijadikan mata dan telinga mama Rima di kediaman anaknya itu. Jadi setiao terjadi apapun, bi Mar selalu memberitahu mama Rima.


Mama Rima langsung memberikan ponsel itu kepada suaminya agar membaca sendiri pesan yang dia terima dari bi Mar.


"Dasar, wanita tidak tahilu malu. sudah menyakiti anakku sekarang dia kembali dengan mengaku sebagai istri Arsen. benar-benar tidak tahu malu. ' geram papa Mondi.


"Apa kita harus bertindak, pa. Agar wanita itu tidak mengganggu Arsen dan Mia. "


"Jangan dulu ma, Biarkan saja dulu. Aku ingin tau, seberapa kuat cinta mereka saat dihadapkn oleh godaan seorang pelakor. " kata papa Mondi dengan tenang.


"Tapi kalau Amel berbuat ulah? Dan merusak rumah tangga anak kita? "


"Maka saat itulah aku yang akan membuat perhitungan dengannya. " Kata papa Mondi sambil berdiri tegak dan berjalan ke sebuah ruangan.


Papa Mondi akhirnya sembuh dari sakitnya setelah berjuang selama sebulan terakhir ini. Setelah anaknya memutuskan menikah dengan Mia walau hanya pernikahan kontrak, di saat itulah papa Mondi mulai semangat untuk sembuh dari penyakitnya. Dan mulai mengikuti terapi secara rutin agar dia bisa segera sembuh.


Di ruangannya Papa Mondi terlihat sedang menghubungi seseorang.


"Kau cari tahu informasi tentang wanita bernama Amel dia mantan kekasih anakku, apa yang akan dia lakukan kepada anak dan menantuku. Dan cari tahu juga informasi tentang Ben. Ben Adam, pengusaha properti dan otomotif itu. Cari tahu siapa dia dan masa lalunya. "


"Baik Tuan."


Papa Mondi duduk di kursi kebesarannya di ruang kerjanya dan menatap ke luar jendela.


"Memang terasa lebih baik saat kita sehat seperti ini. Kita bisa melakukan apapun yang kita mau. Amir, aku akan menjaga anakmu, seperti anakku sendiri. Karena dia sekarang adalah menantuku. Terima kasih kau sudah mengirimkan anakmu kepadaku. Aku janji akan menjaganya, sama seperti saat kau dan keluargamu menjagaku dulu. Tidak memandang orang lain, karena menurut bapak dan ibumu kita ini keluarga. "


Pikiran papa Mondi menerawang jauh ke masa lalu, mengingat masa indah bersama sahabat dan keluarganya di kampung.


"Andai kau masih hidup, kita pasti akan merasakan kebahagiaan, karena saat ini kita sedang berbesanan. " gumam Papa Mondi sambil terkekeh.


"Aku tidak akan membiarkan seekor lalat pengganggu, mengganggu rumah tangga kedua anak kita. Akan aku pastikan dia pergi sebelum terbang mengganggu di sekitar anak-anak kita. "

__ADS_1


__ADS_2