Istri Kontrak Tuan Gay

Istri Kontrak Tuan Gay
Kedatangan Mama Dan Papa


__ADS_3

Arsen menormalkan degup jantungnya dan ekspresi wajahnya setelah mendengarkan apa yang Mia dan Sisie bicarakan. Setelah semua dirasa sudah normal, Arsen masuk ke dalam ruangan. Dia lalu memegang kursi roda Mia dan mendorongnya keluar.


"Ayo pulang. " ajaknya kepada Sisie yang sejak tadi memeperhatikan interaksi Mia dan Arsen.


"Benar-benar seperti suami istri beneran, bukan suami istri kontrak." gumam Sisie.


"Kita tunda dulu ke rumah mamanya ya, kita pulang aja dulu. " kata Arsen kepada Mia.


"Apa tidak apa-apa mas. Kasihan kalau mama sudah masak banyak. " kata Mia yang masih memikirkan ibu mertuanya, walau keadaannya sendiri tidak baik.


Saat mereka masih berdebat, Sisie menyela perdebatan keduanya.


"Mia, mas Arsen aku pulang dulu ya. Mobilku ada disana." Sisir menunjukkan mobilnya yang berada lebih jauh dari mereka berada saat ini.


"Oh, ya. ??Makasih ya Sie udah nolong Mia tadi."


"Sudah tugasku, mas. "


"Makasih ya, Sie. " ucap Mia sambil memeluk sahabat baiknya itu. "Hati-hati dijalan, Sie. sekali lagi makasih ya. "


"Kamu kayak berterima kasih sama siapa aja Mia kok bolak balik makasihnya. " kata Sisie sambil memeluk erat tubuh sabahatnya.


Setelah kepergian Sisie, Arsen segera membantu Mia masuk ke dalam mobil. Dan mengembalikan kursi roda kepada satpam yang berjaga.


Mobil belum juga berjalan meninggalkan rumah sakit, padahal mereka berdua sudah berada di dalam mobil.


"Aku telpon mama dulu ya. "


Mia mengangguk, itu lebih baik. Kalau mamanya belum masak lebih baik tidak usah masak dulu, karena mereka akan menunda kunjungannya ke rumah orang tuanya. Sampai keadaan Mia membaik.


"Hallo ma. "


"Ada apa? " tanya mama Rima dari seberang telpon.


"Hari ini mama sudah masak belum? "


"Memangnya kenapa? "


"Kami tidak bisa datang kerumah mama hari ini. "


"Kenapa? "


"Mia baru pulang dari rumah sakit, ma. Tadi dia terserempet mobil. Tapi keadaannya tidak apa-apa, hanya terkilir. "


"Ya.. Tuhan... kok bisa. Ya sudah kalian nggak usah kemari. Suruh Mia istirahat saja. '


"Ya sudah kalau begitu ma. "


Arsen segera menutup telponnya setelah mengucapkan salam. Dia lalu mengangguk ke arah Mia.

__ADS_1


"Kita pulang saja. Sebaiknya kau istirahat dirumah. " kata Arsen.


Setelah mengucapkan itu, Arsen segera menjalankan mobilnya menuju rumah. Sesampainya di rumah, Arsen segera menggendong Mia masuk ke dalam dan mendudukkannya di sofa ruang tengah. Dia lalu mengambilkan minuman untuk istrinya itu.


"Maaf, ya mas. Untuk saat ini aku nggak bisa melayani mas Arsen dengan baik." ucap Mia dengan nada penuh penyesalan.


"Sudahlah, kamu ini ngomong apa sih. Aku tau


kamu sakit, mana mungkin bisa melayaniku. Yang penting sekarang kamu sembuh dulu. "


"Makasih mas. "


"Istirahatlah di kamar tamu, kalau menaiki tangga nanti kakimu akan tambah sakit karena akan ada tekanan saat naik dan turun tangga. "


Mia mengangguk. "Tapi nggak usah di gendong. " Ucap Mia saat Arsen mau menggendong nya lagi.


"Di bantu tuntun aja mas. Biar kakinya gerak. Kalau manja nanti nggak sembuh-sembuh. " kata Mia memberi pengertian.


Arsen pun menurut, dan membantu Mia berdiri dan menuntunnya perlahan menuju kamar tamu. Sesampainya dikamar, Mia langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


"Istirahatlah, aku keluar sebentar. " ucap Arsen lalu keluar dari kamar.


Mia mengangguk.


Di luar kamar,


Arsen segera menghubungi asistennya, Harry. Karena ada sesuatu yang harus dia lakukan.


"Harry, selidiki kecelakaan yang terjadi di depan kampus istriku. Dan cari tau siapa yang sudah berani bermain-main denganku, dengan mencelakai istriku. Aku akan buat perhitungan dengannya. "


"Baik tuan. "


Tanpa banyak bicara dan bertanya Harry langsung mencari tahu siapa yang sudah mencelakai istri bosnya itu.


Tidak butuh waktu lama, Harry sudah mendapatkan rekaman CCTV dan pelaku yang sengaja ingin mencelakai Mia. Lalu mengirim kan rekaman dan pelaku itu kepada Arsen.


Arsen naik ke kamarnya, dan mengambilkan beberapa pakaian ganti Mia yang biasa di pakai sehari-hari, pakaian dalam pun tak luput dari penglihatan Arsen. Dia juga mengambilnya, dan membawanya ke kamar tamu.


Arsen melihat Mia, yang sudah terlelap, lalu menyimpan pakaian yang dia bawa ke dalam lemari. Setelah melakukan pekerjaannya Arsen kemudian berbaring di samping Mia, dan memeluknya dari belakang.


"Aku tidak akan membiarkan mereka hidup tenang setelah melakukan ini padamu. " ucap Arsen lalu dia ikut memejamkan matanya.


Waktu sudah menunjukkn pukul empat sore. Tapi Arsen dan Mia masih juga terlelap. Mereka tidak menyadari kalau mama Rima dan papa Mondi sudah datang di rumah mereka.


Mama Rima langsung membuka pintu rumah yang tidak terkunci, dan terlihat sangat sepi.


"Dimana mereka. "


Setelah membantu mendudukkan papa Mondi di kursi ruang tengah, Mama Rima ingin menyimpan barang bawaannya ke kamar tamu. Tapi betapa terkejutnya mama Rima saat melihat pemandangan yang menyejukkan matanya. Dia tidak jadi masuk dan kembali duduk di samping suaminya.

__ADS_1


"Kenapa ma? kok senyum-senyum gitu. " tanya papa Mondi saat melihat istrinya itu tersenyum tidak jelas.


"Sepertinya kita akan segera memiliki cucu, pa. " kata Mama Rima sambil terus tersenyum babagia.


"Maksud mama? "


"Aku melihat Arsen tidur memeluk Mia di dalam kamar. Sepertinya mereka merasa nyaman satu sama lain, sehingga kedatangan kita tidak mereka ketahui. " ucap Mama Rima menjelaskan apa yang baru saja dia lihat.


"Benarkah? Wah kita harus berdoa, ma. Agar keinginan kita cepat terkabul.. " ucap papa Mondi dengan penuh semangat.


"Aku sepertinya harus segera berobat ma, sebelum cucuku lahir." lanjutnya lagi.


Mama Rima tersenyum bahagia saat melihat kebahagiaan terukir jelas diwajah suaminya. Dia hanya mengaminkan apa yang menjadi harapan mereka berdua.


Tak lama Arsen keluar dari kamar tamu, dia terkejut saat melihat kedua orang tuanya tengah duduk santai di depan televisi.


"Mama, papa. Kapan datang? " tanya Arsen sambil menyalami tangan kedua orang tuanya.


"Baru saja kok. Mia apa sudah bangun. "


"Belum ma. " kata Arsen singkat lalu duduk disamping mamanya.


"Kenapa tidur di kamar tamu? " tanya mama Rima yang penasaran sejak tadi.


"Oh, itu. Kaki Mia kan bengkak ma, karena terkilir. Kalau naik ke atas pasti akan sangat merepotkan. Jadi, selama kakinya belum sembuh kami putuskan untuk tidur di kamar tamu."


Papa Mondi dan mama Rima pun mengangguk mengerti setelah mendengarkan penjelasan anaknya.


"Aku ke atas dulu ya, ma. Mau mandi pakaian ku ada diatas soalnya. "


"Iya mandilah. "


Mama Rima kemudian menuju dapur dan menyiapkan makanan yang dibawanya dari rumah tadi, dan menghangatkannya untuk makan malam mereka. Dia juga membuat teh hangat untuk suami dan anaknya. Memang papa dan anak itu sangat menyukai teh hangat dari pada kopi.


Saat mama Rima sedang menyiapkan makan malam mereka, pintu kamar tamu kembali dibuka. Dan dilihatnya Mia yang sudah segar sedang berjalan tertatih, mendekati papa Mondi yang sedang menikmati tehnya.


"Papa dan mama kapan datang? " pertanyaan yang sama yang ditanyakan Mia dan Arsen.


"Baru saja kok. " jawab papa Mondi dengan tersenyum kepada Mia.


Mama Rima langsung mematikan kompornya dan mendekati menantunya itu.


"Kamu baik-baik saja sayang. " Tanyanya sambil memeriksa tangan dan kaki Mia yang lecet-lecet dan diperban begitu juga dengan keningnya yang juga ada perban disana.


"Aku baik, ma. Alhamdulillah. Cuma lecet-lecet sama kaki terkilir. "


Mama Rima masih memeriksa keadaan menantu kesayangan nya itu, hingga dia menyibakkan rambut Mia yang sedikit basah. Fokusnya kini bukan lagi pada luka Mia. Melainkan pada tanda merah yang bertebaran di lehernya.


Mama Rima menggeleng tak percaya dengan apa yang dia lihat, sampai-sampai harus menutup mulutnya.

__ADS_1


"Mia, sayang... apa kau sudah melakukannya dengan Arsen? "


__ADS_2