
Arsen sudah sampai di kampus. Semua mata terpana saat melihat sebuah mobil mewah keluaran terbaru masuk di pekarangan kampus mereka. Banyak yang bertanya siapakah orang berada di dalam mobil mewah itu. Hingga akhirnya seorang pria tampan di kursi kemudi keluar dan membukakan pintu kursi penumpang. Dan keluarlah sesosok pria tampan yang menjadi incaran para wanita.
"Itu bukannya Arsenio ya? CEO dari Perusahaan Bara.? "
"Gila ganteng banget. Biasa lihat di TV atau medsos sekarang liat orangnya langsung. Ternyata orangnya ganteng banget. "
"Iya, benar... ganteng banget."
Kasak kusuk terdengar dari mulut para mahasiswa yang sedang memperhatikan kedatangan sang CEO tampan itu. Namun Tidak diperdulikan sama sekali oleh Arsen. Dia terus melangkah menuju ruangan Dekan tempat dua orang tengah menunggunya.
Dengan langkah lebar di iringi Harry, Arsen telah sampai di depan kantor Dekan. Arsen langsung masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dulu.
Semua orang yang berada disana langsung berdiri menyambut kedatangan Arsen. Pria dingin dan terkenal kejam di dunia bisnis itu. Tapi terlihat sangat manis jika sedang bersama istrinya.
"Tuan Arsen, anda sudah datang? Silahkan duduk." sapa Dekan yang akan menengahi kasus mereka bertiga.
Dua orang paruh baya yang juga ada di depannya saling bersikutan saat berhadapan dengan sosok Arsen yang dingin itu.
"Tuan, ada apa anda memanggil kami berdua kemari? " tanya papa Jessica yang angkat bicara.
"Panggilkan anak-anak orang ini, pak." Pinta Arsen kepada Dekan yang berada di sampingnya.
"Sudah, tuan. Sebentar lagi mereka akan datang. "
"Baiklah kita tunggu saja. "
Tak lama pintu ruangan di ketuk dan seorang mengatakan kalau Jessica dan Sandra sudah berada di depan.
"Suruh mereka masuk. " perintah Dekan.
Kedua orang tua itu semakin tak tenang, mereka pikir pasti anak-anak mereka sudah melakukan kesalahan atau sesuatu yang fatal kepada Arsen.
"Ada apa bapak memanggil kami? " tanya Jessica kepada Dekan, namun wajah mereka terkejut karena melihat ada papa mereka disana. Dan mata mereka kembali berbinar saat melihat dua pria tampan yang sedang duduk berhadapan dengan papa mereka.
"Papa? apa yang papa lakukan di sini? dan siapa tuan tampan ini? " tanya Jessica tanpa tau malu.
"Jessica, jaga ucapanmu kepada tuan Arsen. "
Mata Jessica membulat saat mendengar nama Arsen di sebut.
"Tu... tuan Arsen? Arsenio? Ya ampun tuan aku sangat mengagumimu. " kata Jessica yang langsung mendekat ke arah Arsen. Namun segera di dorong oleh Harry, hingga membuat Jessica terjatuh dan ditolong oleh Sandra.
__ADS_1
"Tuan, apa yang kau lakukan pada anakku. " bentak Papa Jessica tak terima.
Arsen hanya berdecih mendengar teriakan orang tua itu.
"Kau pikir akan mudah mendekati tuan Arsen. jangan bermimpi nona. Apalagi setelah apa yang telah kau lakukan kepada istrinya. " ucap Harry dengan nada sinis.
"A... apa... maksud anda tuan. " tanya Papa Jessica dengan gugup.
Jika anaknya sudah mengganggu atau mencelakai istri Arsen, maka akan dipastikan berimbas pada perusahaan nya.
"Tanyakan kepada anak anda itu, apa yang sudah dia dan temannya itu lakukan kepada seorang mahasiswa yang bernama Mia. "
Jessica dan Sandra melotot saat mendengar nama yang disebut oleh Arsen.
Dan reaksi kedua wanita itu membuat Arsen tersenyum sinis.
"Jessica, memangnya apa yang telah kau lakukan pada wanita bernama Mia itu, hah. "
"Nyonya Mia... tuan. " kata Harry penuh penekanan.
"Ma.. maafkan aku tuan. "
"Aku tidak melakukan apa-apa papa. Tu...Tuan Arsen sepertinya salah paham. "
"Harry... "
Harry lalu membisikkan sesuatu ke telinga Dekan. Dan Dekan itu mengerti maksud Harry. Dia segera menuju ke meja kerjanya dan mengambil laptop untuk dibawa ke hadapan Arsen. Dengan cekatan Harry segera mengambil flashdisk di saku celananya. Lalu memutar rekaman cctv yang dia dapatkan kemarin dan menunjukkan kepada dua orang di hadapannya termasuk kepada Dekan.
Semua orang yang melihat itu pun merasa geram. Karena Harry tidak hanya mengambil CCTV di lokasi kejadian, melainkan juga CCTV sejak di tempat parkir dimana kedua wanita itu menaiki mobil yang berplat nomor sama dengan mobil yang berusaha mencelakai Mia.
"Bagaimana? Apa pak Dekan sudah tau apa yang harus anda lakukan kepada dua wanita jahat ini. Bahkan sebelumnya dia juga melakukan intimidasi kepada istri saya hanya dengan alasan tidak jelas. "
"Maksudnya? " tabya Dekan tidak mengerti.
"Kelakuan mereka ini dipicu rasa cemburu kepada istri saya yang dekat dengan sahabatnya Aldo. Sedangkan istri saya sudah menikah. Jadi mana mungkin dia akan tertarik pada pria sekelas sahabatnya Aldo, jika suaminya saja kelasnya berada jauh diatasnya. " ucap Arsen penuh sindiran dan kesombongan.
Dan Ucapan Arsen tadi membuat Jessica dan Sandra tertunduk malu.
"Aku serahkan mereka berdua kepada anda pak Dekan. Tapi Aku minta beri mereka hukuman sepantasnya, karena telah berniat mencelakai temannya sendiri. Untung saja istriku bisa mengelak sehingga hanya menyebabkan luka ringan. Jika istriku tidak bisa mengelak mungkin akan ada korban jiwa yang disebabkan mereka berdua. Jika anda tidak sanggup menghukum mereka, maka aku akan membawa kasus ini ke jalur hukum. "
Jessica, Sandra dan kedua orang tuanya langsung mendongak menatap Arsen.
__ADS_1
"Ja.. jangan tuan... ampuni anak saya... " kata Papa Jessica memohon.
"Maafkan saya tuan Arsen, saya tidak tau kalau Mia adalah istri anda. Saya mohon maafkan saya." Jessica juga merengek memohon maaf kepada Arsen.
"Tuan Arsen, saya papa Sandra juga memohon maaf. Maafkanlah anak saya. Lagi pula semua ini pasti rencana Jessica yang mengajak anak saya. Jadi saya mohon maafkan anak saya tuan. "
"Apa maksudmu tuan. Kalian mau angkat tangan dengan kasus ini. " teriak papa Jessica yang merasa tidak terima jika harus menanggung ini semua sendiri.
Arsen dan Harry tersenyum sinis kepada mereka berdua.
"Kalian berdua pasti tau siapa saya. Saya tidak akan pernah mentolerir perbuatan seseorang yang tidak baik. Apalagi akan mencelakai orang yang sangat berarti dalam hidup saya. "
"Pak Dekan, saya serahkan kedua mahasiswa ini kepadamu. dan Harry aku serahkan mereka berdua padamu. Tarik semua saham kita diperusahaan mereka. "
Arsen segera berdiri dan beranjak dari dari tempat itu. Namun sekali lagi kedua orang itu memohon agar menyelamatkan perusahaannya.
"Tuan saya rela berlutut minta maaf kepada istri Anda, tapi tolong jangan tarik saham anda dari perusahaan kami. "
"Benar tuan, saya mohon jangan tarik saham anda dari perusahaan kami. "
Arsen berbalik dan menyeringai menatap dua paruh baya itu yang mengiba kepadanya, lalu dia menatap kedua anak mereka yang tidak tidak merasa bersalah sedikitpun.
"Tuan, sebenarnya ini salah siapa? kenapa yang meminta maaf harus anda, sedangkan tersangka utamanya tidak merasa bersalah sama sekali." kata Arsen sambil melirik sinis kepada mereka berdua. Lalu meninggalkan mereka semua.
Papa Jessica langsung menghampiri anaknya. Dan tanpa aba-aba dia langsung menampar anaknya itu dengan sangat keras.
"Dasar anak tidak tahu diri. Gara-gara ulahmu perusahaan kita terancam bangkrut."
"Pa... "
"Jangan panggil aku papa jika kau belum meminta maaf kepada istri tuan Arsen. "
"Tapi, pa. "
"Kau mau kita jadi gelandangan hah. Tuan Arsen memiliki saham terbesar di perusahaan kita. Jika dia sampai menarik sahamnya, kita akan terancam bangkrut. Bodoh. "
"Cepat Minta maaf kepadanya jika tidak kau pergi saja dari rumah, dan tidak usah pulang sebelum mendapat maaf dari istri tuan Arsen. "
Papa Jessica pergi meninggalkan anaknya begitu juga dengan papa Sandra yang juga meninggalkan anaknya yang tidak tau diri itu.
"Bapak akan skors kalian selama satu minggu sampai Mia masuk kuliah. Setelah itu bapak akan meminta pendapat Mia hukuman apa yang pantas untuk kalian berdua. Karena dia adalah korban perbuatan kalian. "
__ADS_1