
Rencana pernikahan Sederhana antara Ben dan Sisie sudah matang dan akan diadakan hari ini, tepat di sore hari pukul empat sore.
Kamar VVIP itu sudah di sulap menjadi ruangan akad, walaupun tidak mewah, tapi cukup bagus untuk mengabadikan momen pernikahan mereka. Sisie gang berada diatas kursi roda, juga sudah cantik dengan balutan kebaya, yang dibeli mama Helen secara dadakan di butik langganannya. Wajahnya juga terlihat cantik dengan make up natural yang juga sudah disiapkan mama Helen. Walau prosesnya sederhana, tapi Mama Helen tidak akan membuatnya sesederhana itu. Tinggal menunggu mempelai pria yang datang bersama Arsen dan Mia juga Asistennya sebagai saksi dari pihak Ben.
Setelah lima belas menit menunggu akhirnya yang ditunggupun datang juga. Ben masuk ke dalam ruangan Sisie, dia terkejut dengan perubahan yang ada di ruangan itu. Pasalnya, kemarin mama Helen meminta Ben untuk pulang dan beristirahat, agar hari ini dia melakukan persiapan maksimal.
Dan lihatlah, sekarang Sisie benar-benar terpesona dengan penampilan Ben yang sempurna, Bahkan dia hampir meneteskan air liurnya karena terpesonanya dengan sosok Ben yang sangat dia kagumi.
"Sie tutup mulutmu. Nanti ilermu itu netes lho. " ujar mama Helen
Reflek, Sisie langsung mengusap bibirnya dengan tangannya dan itu sontak membuat semua orang tertawa dan menggelengkan kepalanya dengan kepolosan Sisie.
Ben langsung mendekat dan memegang kepala Sisie.
"Kau memang lucu Sie. " ujarnya lalu Ben mendorong kursi roda Sisie berhadapan dengan penghulu yang sudah berada di sana.
Penghulu itu pun memulai acaranya , dengan menanyakan, Apakah mereka menikah karena terpaksa atau tidak .
Tentu saja jawabannya tidak . Ben dan Sisi memiliki jawaban yang berbeda akan hal itu .
Jika Sisie bahagia dengan pernikahannya , karena memang Sisie sangat mencintai Ben. Sedangkan Ben menikahi Sisi Karena rasa tanggung jawab , dan dia tidak ingin kehilangan Sisi ataupu Sisie disentuh pria lain.
Sebuah perasaan aneh yang dirasakan Ben, tapi perasaan ini yang tidak pernah dia rasakan selama ini . Dulu dia selalu dikucilkan oleh teman-temannya , hanya karena dia berpenampilan culun dan tidak memperhatikan barang-barang yang dibawa oleh Ben adalah barang ori semua yang dibeli di luar negeri.
Akhirnya, prosesi akad itupun berlangsung. Dengan lantang Ben mengucapkan janji sucinya dihadapan penghulu dan papa Sisie. Selelah itu Ben bisa bernafas dengan lega setelah berhasil. mengucapkan kalimat sakral itu.
Itu artinya.... Tanggung jawab Sisie sudah bepindah dari tangan papanya ke tangannya.
Sisie terisak setelah Ben mengucapkan kalimat akad dengan lancar dan hanya dalam sekali tarikan nafas. Sisie jadi lega karena kini dia behasil menjadi istri dari Ben Adam.
Setelah pegucapan janji suci diteruskan dengan do'a dan acara penyematan cincin.
Sisie lalu mencium tangan Ben dan di balas Ben dengan mengecup kening Sisie.
__ADS_1
"Selamat kwlian sekarang sudah menjadi sepasang suami istri, semoga ernikahan kalian langgeng dan segera mendapat momongan. Saya harus segera pergi dan mengirusbpernikhan di tempat lain " ujar penghulu itu memberikan selamat kepada Ben dan Sisie.
Setelah kepergian penghulu, mereka semua mengambil sesi foto dengan pengantin di tempat yang sudah disediakan.
Acara benar-benar berakhir pada pukul enam sore. Setelah acara makan bersama secara sederhana para tamu undangan kembali ke rumah masing-masing termasuk Mia dan Arsen, karena mereka berdua harus menjaga kondisi kehamilan Mia yang tidak boleh kelelahan. Kini tinggal keluarga mempelai dan Asisten Ben yang berada di sana.
"Sie, sekarang kamu sudah menikah dengan nak Ben. Itu artinya tanggung jawab papa dan mama sudah berpindah tangan kepada suamimu. Kau harus menghormati dan menghargai semua perintah suamimu selama itu masih berada dalam kebaikan dan untuk kebaikanmu. " Papa Tomi memberikan nasehat kepada anaknya.
"Besok papa dan mama akan ke Jepang, dan mulai besok kamu akan hidup berdua dengan suamimu. Meskipun kamu sudah menjadi tangguhg jawab Ben, tapi papa dan mama tetaplah kedua orang tuamu. Jadi, papa dan mama meminta kamu tetap memberikan kabar tentang dirimu kepada kami, nak. Jangan pernah melupakan kami sebagai orang tuamu. "
Mendengar semua ucapan papanya, akhirnya jatuh juga air mata Sisie.
"Papa dan mama jangan bicara seperti itu, walaupun aku sudah menikah. Kalian tetaplah kedua orangtuaku yang akan selalu menjadi panutanku. " Sisie memeluk mamanya yang berada disampingnya.
Sedangkan Ben hanya memperhatikan drama anak dan orang tua dihadapannya ini.
"Sayang mama dan papa pulang dulu ya, besok papa dan mama akan kemari sebelum kami berangkat ke Jepang. " ujar mama Helen berpamitan kepada anaknya itu.
"Iya ma, pa. Terima kasih. " ujar Sisie lirih.
Suasana terasaa sangat sepi setelah kepergian orang tua Sisie. Hanya ada Ben dan Sisie di sana yang sedang terdiam.
"Tuan, bisa bantu aku tidur? kakiku rasanya mulai sakit." keluh Sisie setelah menahan rasa sakit selama beberapa waktu.
Mendengar itu, tanpa mengiyakan Ben langsung menggendong Sisie ke atas tempat tidur.
"Mana yang sakit. Apa aku harus memanggil dokter?" tanya Ben panik.
"Tidak perlu tuan, hanya sakit sedikit. Mungkin karena terlalu lama dibuat duduk, Jadi agak sedikit menekan kakinya. " Sisie menjelaskan, agar suaminya itu tidak kepikiran.
Mendengar hal itu Benn merasa lega. Dan kekhawatiran nya sedkkit berkurang. Bagaimanapun kini Sisie adalah tanggung jawabnya, jadi dia tidak akan membuat Sisie terluka lagi.
"Sie, kalau ada apa-apa langsung katakan padaku. Jangan sungkan karena aku adalah suamimu sekarang, dan kau adalah tanggung jawabku sekarang. " ujar Ben mengingatkan Sisie.
__ADS_1
Mendengar itu, Sisie mengangguk dengan wajah yang sudah memerah.
Ben mengangkat wajah Sisie, lalu memandanginya wajah merah itu. Ben jadi tergelak saat melihat wajah itu.
"Kenapa wajahmu merah sekali? " kata Ben mengejek Sisie.
"Tuan... "
"Sssttt, jangan panggil aku tuan, aku bukan tuanmu, atau majikanmu. Aku adalah suamimu Sie jadi panggil aku dengan namaku, atau kau memiliki panggilan khusus untuk ku? " tanya Ben sambil mengangkat alisnya.
Sisie mencoba menunduk lagi namun tangan Ben yang masih berada di dagu Sisie membuatnya tidak bisa menunduk dan tetap mendongak menatap Ben.
"Panggil aku Hubby. Okey. "
Sisie mengangguk, mematuhi permintaan suaminya agar dia terlepas dari cekalan tangan suaminya itu.
"Bagus. Sekarang istirahatlah. Atau ada yang kau inginkan?" tanya Ben lagi.
"Tidak, aku ingin berbaring meluruskan kakiku. "
Ben langsung membaringkan Sisie, dan menyelimuti tubuhnya hingga batas dada lalu mengecup kening Sisie.
Sisie merasakan tubuhnya menegang setelah mendapatkan kecupan dari suaminya itu. Seperti tersengat aliran listrik beberpa volt. Tidak seperti tadi setelah acara ijab, ciuman kali ini terasa sangat hangat dan tulus dari Ben.
"Tuan... Maksudku, Hubby. Kau akan tidur di mana?" tanya Sisie yang merasa tidak enak dengan suaminya.
"Sebentar lagi akan ada seseorang yang mengantar tempat tidur untukku." kata Ben dengan santai.
Benar saja tak lama datang beberapa orang membawa sebuah tempat tidur yang lebih pendek dari brangkar rumah sakit dan diletakkan disamping tempat tidur Sisie.
"Aku akan tidur disampaingmu, Sie. Jadi kalau ada apa-apa atau kau menginginkan sesuatu, segera bangunkan aku. " kata Ben.
Dia lalu memerintahkan asistennya untuk kembali dan beristirahat karena dia lah yang akan menggantikan Ben selama dia menjaga Sisie. bahkan perjalanan nya keluar negeri harus ditunda karena masalah ini.
__ADS_1
Saat ini Ben dan Sisie sudah berada di tempat tidurnya masing-masing, Sisie memiringkan tubuhnya agar bisa melihat wajah Ben yang berada dibawahnya. Mereka saling bertatapan dalam entah apa yang mereka pikirkan, hingga tanpa terasa mereka berdua akhirnya terlelap dengan senyuman diwajah masing-masing.