
Setelah kepergian Arsen, Mia kembali masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan diri. Dia memutuskan untuk berendam terlebih dahulu, karena merasa tubuhnya luar biasa remuk setelah pertempuran gila-gilaan semalam dengan Arsen.
Mia jadi senyum-senyum sendiri mengingat apa yang telah terjadi semalam, sambil sesekali menggelengkan kepala dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Kok bisa kayak gitu ya? " gumam Mia sambil tersipu.
Beberapa menit didalam bathup akhirnya Mia memutuskan untuk menyudahi mandinya. Saat dia sedang berganti pakaian terdengar pintu kamarnya di ketuk. Mia segera memakai pakaiannya dan membuka pintu kamar. Dilihatnya bi Mar yang berada dibalik pintu.
"Ada apa bi? " tanya Mia.
"Anu non, dibawah ada mbak Sisie. "
"Oohhh, suruh masuk aja bi. Aku bentar lagi turun."
"Iya, non. "
Mia masuk lagi ke kamarnya, dia langsung bersiap memoleskan bedak tipis dan pewarna bibir.
"Tipis-tipis aja, toh mas Arsen nggak ada di rumah juga, mau pamer kecantikan sama siapa coba." gumam Mia sambil memoles wajahnya.
Setelah dirasa semua siap, Mia lalu turun ke bawah menemui sahabatnya itu.
"Duh, segernya yang baru keramas. " ledek Sisie saat melihat rambut sahabatnya itu basah.
"Apaan sih. Kamu sudah sarapan?" tanya Mia saat berhadapan dengan Sisie di ruang tengah.
"Sudah sih, cuma makan roti aja. " jawab Sisie sambil memainkam ponselnya.
Mia lalu menarik tangan Sisie, agar mengikutinya.
"Apaan sih, Mi. Main tarik-tarik aja. " ketus Sisie yang keasikan nya di ganggu Mia.
"Temani aku sarapan. Aku belum sarapan tadi, karena kesiangan. "
Sisie mengernyit saat mendengarkan ucapan Mia. "Ngapain aja kok sampai kesiangan?" tanya Sisie sambil menaik turunkan alisnya.
"Udah, bukan urusan anak kecil. Buruan Makan. " Kata Mia sambil menyendokkan nasi di piringnya.
"Bi Mar.... " panggil Mia kepada pembantunya itu.
"Apa non. " bi Mar lari tergopoh-gopoh mendekati Mia.
"Ayo, makan bareng kita bi. Bibi belum sarapan kan? " tanya Mia sambil menyendokkn nasi ke mulutnya.
"Sudah, non. Baru saja bibi selesai makan, piringnya juga baru aja bibi cuci. "
"Oohhh, ya sudah deh kalau gitu, aku makan sama Sisie aja. "
__ADS_1
Setelah mendengar itu, bi Mar segera kembali ke dapur dan menyelesaikan pekerjaannya.
Mia sendiri masih lahap dengan makannya sambil memperhatikan sahabatnya itu, yang makan dengan santai sambil memainkan ponselnya sejak tadi.
"Sie, ngapain aja sih. Makan dulu, baru main Hape." kata Mia yang merasa risih dengan kelakuan sahabatnya itu.
"Santai aja, Mi. Pasti habis kok. " kata Sisie santai sambil terus nyengar nyengir sendiri melihat ponselnya.
Mia tidak ambil pusing lagi, dia segera menyelesaikan makannya lalu beranjak ke dapur untuk cuci piring, tapi dilarang bi Mar. Karena takut dimarahi Arsen.
Akhirnya Mia kembali ke ruang tengah, tanpa memperdulikan sahabatnya yang masih asik main ponsel.
Sisie yang sadar Mia suda tidak ada di depannya pun segera menyelesaikan makannya, dan langsung duduk di samping Mia.
"Tega banget ninggalin aku makan sendiri. " kata Sisie sambil cemberut.
"Lagian makan sambil main ponsel kapan selesainya? Nggak mungkin aku nungguin orang makan sambil nyengar nyengir nggak jelas gitu. "
"Ih, pedesnya kalau ngomong. " kata Sisie sambil menyenggol tangan Mia.
"Lagian kamu chattingan sama siapa sih, kok seru amat gitu. " tanya Mia yang tiba-tiba penasaran dengan siapa Sisie bertukar pesan.
"Penasaran, ya? "
"Nggak juga. Mau dikasih tau nggak apa-apa nggak dikasih tau juga nggak masalah. " kata Mia santai sambil memainkan ponselnya sendiri.
"Coba kamu baca. "
"Pagi, tuan Ben. "
"Pagi... "
Sampai sini Mia mata Mia membulat.
"Ben sudah mulai membalas pesanmu?" tanya Mia tak percaya,
Pasalnya Mia tau selama ini Sisie meneror Ben dengan pesan nggak jelas, dan nggak pernah di balas. Dan sekarang Ben mulai membalasnya. Memang usaha tidak menghianati hasil.
"Sedang apa? "
"Mau mandi. "
"Udah mandinya? "
"Sudah."
"Semangat kerjanya. "
__ADS_1
"Terima kasih. "
Ini baru sebagian pesan yang Sisie kirimkan pagi ini,belum sampai scroll ke bawah. Mia benar-benar tak percaya Ben membalas semua pesan Sisie yang nggak penting itu. Kok bisa? itulah yang menjadi pertanyaan Mia. Padahal selama beberapa hari ini Mia melihat sendiri, Sisie meneror Ben dengan pesan tidak penting dan tidak pernah dibalas, malah terkesan acuh. Dan Sisie yang terkesan mengejar-ngejar Ben.
"Gimana? aku berhasil kan? " kata Sisie sambil menaik turunkan alisnya.
"Iya... selamat deh. Usahamu tidak menghianati hasil. Semoga lancar sampai kamu bisa dapetin dia. " kata Mia dengan nada dibuat-buat.
"Ih, do'anya yang ikhlas dong neng. "
"Iya Sisie sayang. Semoga kamu dan Ben berjodoh seperti aku dan mas Arsen." kata Mia sambil menggoyang-goyangkan wajah Sisie ke kanan dan ke kiri.
Mereka lalu tertawa bersama. Namun tawa mereka terhenti saat mendengar sebuah langkah kaki masuk ke dalam rumah. Pantulan suara high heels dan lantai saling beradu, sehingga membuat suara yang lumayan bisa didengar telinga.
"Hallo selamat siang. " Sapa wanita cantik dengan pakaian kurang bahan dan riasan tebal itu menyapa Mia dan Sisie yang sedang bercanda.
"Siang, anda siapa ya? kok seenaknya masuk rumah orang tanpa permisi. " Kata Mia dengan nada tidak bersahabat.
Wanita itu berjalan mendekati Mia dan Sisie lalu mendudukkan bokongnya di sebuah kursi single dengan kaki kanan yang bertumpu di kaki kirinya.
"Mana Arsen? " tanyanya tanpa menjawab pertanyaan Mia.
Mia dan Sisie saling berpandangan mendengar pertanyaan wanita dihadapan mereka ini.
"Maaf, kenapa mencari mas Arsen? " tanya Mia balik.
"Karena aku sangat merindukannya. Aku sudab menghubunginya berkali-kali, namun dia tidak mengangkat panggilanku atau membalas pesanku. " kata wanita itu sambil mengibaskan rambutnya.
"Oh, iya kalian siapa? kenapa ada di rumah Arsen?" tanya wanita itu lagi.
"Dia... " ucapan Sisie terpotong saat ingin mengatakan kalau Mia adalah istri Arsen.
"Siapapun saya, itu bukan urusan anda nyonya. Memangnya anda sendiri siapa? kenapa masuk rumah orang tanpa permisi dan berbuat seenaknya di rumah ini. "
"Aku... ' wanita itu menunjuk dirinya sendiri. " Kau tidak tahu siapa aku? Aku akan menjadi nyonya di rumah ini, jadi untuk apa aku harus permisi kalau ingin masuk ke rumah calon suamiku. "Katanya lagk dengan nada sombong dan percaya diri.
Mendengar hal itu, Mia sempat terkejut dan mengepal kan tanganbya dengan kuat. Namun pegangan Sisie menguatkannya.
"Tenanglah... " bisik Sisie.
"Oohhh, jadi anda calon nyonya di rumah ini. Tapi kenapa Arsen tidak bisa kau hubungi, sampai-sampai kau harus jauh-jauh datang kemari untuk menemuinya? Dan yahhh, kalau kau calon istrinya kenapa kau tidak tahu jadwal Arsen. Kalau jam segini itu Arsen kerja, dia bukan seorang pengangguran yang selalu berada di rumah sepanjang hari. Sehingga kau harus mencarinya di rumah ini di jam kerja. Harusnya kau mencarinya di kantor, bukan di sini. Dasar penipu. " Kali ini Sisie yang angkat bicara.
Dia merasa tidak suka jika ada seseorang yang ingin menyakiti sahabatnya ini. Padahal baru saja Mia merasakan sebuah kebahagiaan dan manisnya sebuah hubungan.
"Kau... kalian ini siapa sih. "
"Seharusnya kami yang tanya, siapa anda ini. yang mengaku-ngaku calon istrinya Arsen dan calon nyonya dirumah ini." Lagi-lagi Sisie yang bicara, karena dis tau sahabatnya itu merasa shock setelah mendengar ocehan nggak jelas dari wanita nggak jelas ini.
__ADS_1
"Namaku Amel. Kekasih Arsen. "